Endang Warsiki sejak kecil sudah dididik menggapai pendidikan tertinggi. Berkat kegigihannya, Endang Warsiki menjadi profesor perempuan pertama di Bojonegoro. Dan guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB).
DEWI SAFITRI, Radar Bojonegoro
LAHIR di salah satu desa pedalaman hutan tidak membuat Endang Warsiki, gelap akan luasnya dunia luar. Berasal dari pelosok desa dengan segala keterbatasan, kini ia menjelajah ke berbagai benua.
‘’Benua Asia semua sudah dikunjungi. Australia kebetulan dulu S-3 di sana. Benua Eropa pernah ke Swiss, Prancis, dan Jerman,’’ tutur perempuan lahir dari Desa Turi, Kecamatan Tambakrejo, Bojonegoro tersebut.
Dosen Prodi Teknik Industri Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut, sejak lulus SD keluar dari zona nyaman. Tak ada SMP di kecamatannya, terpaksa Endang sekolah di Kecamatan Padangan. Hingga, bondo nekat melanjutkan di SMAN 1 Bojonegoro.
Alumni S-1 Teknologi Industri Pertanian IPB tersebut menceritakan, jarak antara desa tempat ia tinggal dengan Kecamatan Padangan sekitar 20 kilometer. Belum lagi kecamatan kota, tentu puluhan kilometer. Kondisi transportasi dan jalan tidak memadai. Hanya ada angkot beroperasi sekali atau dua kali sehari. Sehingga, menempuh jarak ke Padangan bisa setengah hari.
‘’Karena keterbatasan itu, di zaman saya kecil belum banyak masyarakat sadar tentang pentingnya pendidikan. Setelah lulus SD, kebanyakan segera menikah,’’ tutur lulusan S2 Teknik Kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.
Endang pernah menanyakan kepada bapaknya, kenapa tidak dicarikan jodoh saja setelah tamat SD. Seperti, dijodohkan dengan anak kepala desa dinilai saat itu keren dan memiliki sawah luas. ‘’Namun, prinsip bapak sudah terdepan. Anak-anak harus sekolah. Apapun profesinya nanti, sekolah tetap menjadi prioritas,’’ tutur alumni S3 Victoria University di Austalia tersebut.
Memiliki latar belakang keluarga pendidik menjadi motivasi sendiri bagi Endang mencapai mimpinya. Kakeknya, seorang mantri saat zaman Belanda. Bapaknya seorang guru. ‘’Role model saya adalah bapak. Dengan menjadi pendidik, kami bisa bermakna bagi orang lain,’’ tuturnya.
Belajar bisa dimana saja. Jadi, tidak hanya di sekolah atau kampus. Sehingga untuk yang tidak bisa melanjutkan ke jenjang lebih tinggi, Endang memastikan tidak khawatir. Karena tempat belajar itu luas. Belajar harus dilakukan sepanjang hayat.
‘’Pesan saya, sebagai anak muda harus mampu menitipkan diri di manapun kita berada,’’ ujarnya. (*/rij)
Editor : M. Yusuf Purwanto