RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Euforia keberhasilan Agak Laen: Menyala Pantiku sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa belum sepenuhnya menutup fakta lain yang mengemuka di balik angka-angka fantastis box office.
Sutradara sekaligus CEO Visinema, Angga Dwimas Sasongko, justru mengingatkan adanya tantangan struktural yang perlu segera dijawab oleh industri film nasional.
Dalam unggahan reflektifnya, Angga menyoroti bahwa sepanjang satu tahun terakhir, rekor film terlaris Indonesia pecah dua kali.
Pertama oleh Jumbo di pertengahan tahun, lalu disalip Agak Laen di akhir tahun. Capaian tersebut, menurutnya, adalah bukti industri film Indonesia sedang tumbuh pesat.
Namun, di balik pertumbuhan itu tersimpan sinyal peringatan.
120 Juta Tiket, Tapi Terpusat di Sedikit Judul
Sepanjang tahun, lebih dari 120 juta tiket bioskop tercatat terjual di Indonesia. Angka yang menunjukkan kebangkitan kuat sektor hiburan pascapandemi. Akan tetapi, sekitar 21 juta tiket di antaranya hanya berasal dari dua judul film saja.
Kondisi ini menandakan konsentrasi pasar yang tinggi. Film-film unggulan menyedot mayoritas penonton, sementara banyak judul lain kesulitan menembus ambang keberlanjutan secara komersial.
“Artinya, win rate per film menurun,” tulis Angga, menegaskan bahwa keberhasilan besar segelintir film tidak serta-merta mencerminkan kesehatan menyeluruh industri.
Win Rate Menurun, Risiko Industri Meningkat
Dalam perspektif industri, menurunnya tingkat keberhasilan rata-rata per film berarti risiko finansial semakin besar bagi produser dan investor. Biaya produksi meningkat, tetapi peluang balik modal tidak tersebar merata.
Angga menilai kondisi ini menuntut transformasi besar, baik dari sisi produk film maupun pendekatan pemrograman dan distribusi. Tanpa perubahan strategi, volatilitas industri hiburan akan semakin tajam.
“Volatility dalam industri entertainment itu inevitable,” tulisnya. Namun, yang menjadi kunci adalah menjaga rasio menang dan kalah tetap berada di batas yang feasible agar arus modal bisa berputar secara berkelanjutan.
Tantangan Setelah Euforia Rekor
Fenomena Agak Laen dan sebelumnya Jumbo memang menunjukkan kekuatan film lokal dalam merebut hati penonton. Namun, keberhasilan tersebut juga memperlihatkan bahwa pasar masih sangat bergantung pada event movie dan fenomena viral.
Ke depan, tantangan industri film Indonesia bukan hanya mencetak film terlaris berikutnya, melainkan membangun ekosistem yang memungkinkan lebih banyak judul hidup layak di bioskop. Dari film menengah, film genre non-arus utama, hingga karya debutan.
Pertumbuhan Harus Dinikmati Bersama
Angga menutup refleksinya dengan pesan keberlanjutan. Pertumbuhan industri, menurutnya, baru bisa disebut sehat jika dampaknya dirasakan oleh seluruh pemangku kepentingan. Mulai dari sineas, pekerja film, investor, jaringan bioskop, hingga penonton.
Rekor box office boleh dirayakan. Tetapi alarm dini yang muncul dari data juga perlu didengar, agar industri film Indonesia tidak hanya besar di puncak, tetapi juga kokoh di fondasi. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari