RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Bagi penggemar mitos, pegiat dunia mistis atau pemercaya berbagai takhayul budaya Barat dan Timur, bulan Juni tahun ini mungkin bakal membuat diri merinding. Pasalnya ada dua mitos Barat dan Timur yang terjadi hampir bersamaan.
Dari sisi klenik Barat, ada hari Jumat yang jatuh di tanggal 13 Juni. Sementara dari perklenikan Timur, malam 1 Suro jatuh menjelang akhir bulan.
Asal Usul Mitos Malam 1 Suro
Tanggal 1 Suro menandai pergantian kalender Jawa. Kebetulan pula, tahun ini 1 Suro juga jatuh berdekatan dengan 1 Muharram dalam kalender Islam pada 27 Juni mendatang, dengan malam 1 suro jatuh pada 26 Juni petang.
Suro sendiri diperkirakan berasal dari kata ‘Asyura’ dalam Bahasa Arab, yang berarti hari ke-sepuluh. Seiring waktu, hari tersebut menjadi penanda tahun baru bagi masyarakat Jawa pada zaman dulu, sehingga dengan dialek setempat disebut ‘suro’.
Perayaan malam 1 Suro diperkirakan dimulai pada 1633 M. Pada tahun tersebut kalender Jawa juga diciptakan pertama kali oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, yang memimpin kerajaan Mataram saat itu. Kalender tersebut diciptakan dengan menyatukan budaya Islam dan budaya Jawa, sehingga sistem penanggalan yang digunakan serupa.
Dalam budaya Jawa, malam 1 Suro merupakan momen spiritual yang sakral untuk refleksi diri dan menjaga kewaspadaan. Konon pada malam 1 Suro, pintu alam gaib terbuka dan arwah leluhur turun ke bumi.
Sehingga selain berbagai perayaan tradisional seperti kirab salawat, jamasan dan sebagainya, ada beberapa pantangan yang dicanangkan seperti dilarang keluar rumah pada weton tertentu, dilarang menikah pada malam tersebut, dilarang membangun atau berpindah rumah, dan banyak lagi untuk menghindari kesialan.
Bahkan yang lebih ekstrim lagi, beberapa masyarakat yang percaya mitos Jawa memanfaatkan malam 1 Suro untuk mencari pesugihan agar lebih kaya atau sakti melalui jalur gaib.
Asal Usul Mitos Jumat ke-13
Sementara itu dalam mitologi barat, Jumat tanggal 13 (Friday the 13th) dianggap sebagai hari sial. Bahkan tanggal 13 di hari apapun juga dianggap sebagai hari sial bagi sebagian masyarakat, sehingga menimbulkan fenomena triskaidekaphobia (Takut angka 13) dan paraskevidekatriaphobia (Takut Jumat tanggal 13).
Asal-usul mitos ini sebenarnya masih diperdebatkan hingga sekarang. Namun setidaknya ada dua asal-usul yang disepakati sebagai muara mitos Jumat ke-13.
Menurut sejarawan Donald Dossey, asal-usul pertama mitos Jumat ke-13 berasal dari mitologi Norwegia. Alkisah, 12 dewa mitologi tersebut sedang mengadakan jamuan di Valhalla (alam barzah pejuang setempat) ketika satu dewa lain, Loki, datang tidak diundang.
“Kemudian Loki mengarahkan Hodr, dewa kegelapan di mitologi Norwegia, untuk memanah Balder, dewa kebahagiaan setempat. Sehingga Balder mati dan bumi langsung menjadi gelap,” jelas Donald kepada National Geographic.
Asal-usul kedua yang lebih banyak diadopsi masyarakat berasal dari sejarah agama Kristen. Alkisah, saat Perjamuan Terakhir dilaksanakan, murid Isa Al-masih yang berkhianat, Yudas Iskariot menjadi tamu ke-13 yang datang pada perjamuan tersebut.
Perjamuan Terakhir diperkirakan terjadi pada hari Kamis. Dikisahkan, usai perjamuan tersebut Yudas berkhianat dengan membongkar lokasi perjamuan kepada mush-musuh Isa Al-Masih, sehingga keesokan harinya, yakni hari Jumat, Isa Al-Masih disalib dan wafat.
Karena kombinasi dari persitiwa tersebut, sebagian masyarakat berusaha untuk menghindari hal-hal yang berjumlah 13, atau memilih tidak melakukan aktivitas beresiko tinggi pada Jumat tanggal 13. Umumnya pantangan yang dilakukan cukup simpel, seperti tidak berpergian pada tanggal tersebut, tidak mengumpulkan barang atau kawan dalam jumlah 13, dan sebagainya. (edo)
Editor : Yuan Edo Ramadhana