RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Lemahnya rupiah beberapa waktu terakhir membuat berbagai sektor kelimpungan. Tak terkecuali bengkel ban dan oli. Rerata pengendara mengeluh. "Mau tidak mau karena kebutuhan harus tetap beli akhirnya," keluh Alia Nikma pengendara asal Kecamatan Dander.
Menurut dia, mengganti oli sekitar dua minggu lalu. Kini naik sekitar Rp 5.000 dari sebelumnya berkisar Rp 50 ribu. Kenaikan berbagai kebutuhan ini sangat membebani.
Baca Juga: Ruko Taman Rajekwesi Sisa Tiga Penghuni, Pemkab Bojonegoro Siapkan Anggaran Revitalisasi Rp19,9 M
"Penghasilannya tetap, tapi harga beberapa kebutuhan naik. Itu baru olinya, belum servisnya," ujar dia.
Dodik salah satu pegawai bengkel di Kecamatan Kapas membenarkan kenaikan harga tersebut. Menurutnya, segala jenis oli naik. Tahun ini lebih tinggi dibanding sebelumnya. Kenaikan sekitar 21,4 persen.
Baca Juga: 1 Liter Pertamax Setara 0,5 Persen Gaji Pekerja Indonesia, Malaysia Hanya Sekitar 0,09 Persen
"Oli SPX 0,8, Januari lalu Rp 73.500 sekarang di Juni sudah Rp 93.500. Kenaikan Rp 16-20 ribu. Dan hampir semua jenis oli naik," katanya.
Tahun ini, lanjut dia, kenaikan harga oli sudah dua kali. Padahal, biasanya hanya naik Rp 1.500-2.000 per tahun. Hal ini dipengaruhi lemahnya rupiah ke dolar.
"Keluhan dari pengendara jelas ada, tapi mereka tetap mementingkan kualitas dan keaslian produk," tutur pria bekerja di salah satu bengkel Honda itu.
Baca Juga: 4 Langkah BI demi Menahan Tekanan Rupiah usai Suku Bunga Naik 5,50 Persen
Di sisi lain, ban motor roda dua maupun empat juga mengalami kenaikan. Salah seorang montir di Jalan Veteran, Kecamatan Kota mengatakan, kenaikan harga ban terjadi sejak pascalebaran. Tergantung tipe motor dan mobil.
Menurut dia, kenaikan harga sekitar Rp 20-30 ribu per item. "Dipengaruhi efek perang, dolar naik dan rupiah anjlok. Salah satunya kenaikan ini ban Avanza yang standar dari Rp 550 ribu jadi Rp 580 ribu. Tergantung merek ban juga. Keluhan mesti ada," katanya. (yna/msu)
Editor : Hakam Alghivari