Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

1 Liter Pertamax Setara 0,5 Persen Gaji Pekerja Indonesia, Malaysia Hanya Sekitar 0,09 Persen

Hakam Alghivari • Rabu, 10 Juni 2026 | 12:32 WIB
Ilustrasi uang rupiah. (AI/HAKAM ALGHIVARI/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi uang rupiah. (AI/HAKAM ALGHIVARI/RADAR BOJONEGORO)

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kenaikan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026 membuat posisi BBM Indonesia perlahan mendekati negara-negara ASEAN lain. Namun di balik itu, ada satu fakta yang menjadi sorotan: rata-rata pendapatan pekerja Indonesia masih jauh tertinggal dibanding sejumlah negara tetangga.

Secara nominal, harga bensin Indonesia memang masih lebih murah dibanding Singapura maupun Thailand. Tetapi jika dibandingkan dengan rata-rata pendapatan masyarakat, beban pengeluaran energi di Indonesia justru terasa lebih berat.

Berdasarkan kompilasi data Kompilasi Agregator Data Upah Global (Wage.is), Laporan Kenaikan Gaji Asia Tenggara (Aon Study 2026), Trading Economics, dan BPS Indonesia., rata-rata gaji pekerja formal di Indonesia berada di kisaran Rp3,29 juta hingga Rp3,5 juta per bulan.

Baca Juga: Harga Pertamax Kini Rp16.250, Bagaimana Posisi BBM Indonesia Dibanding Negara ASEAN?

Angka tersebut masih berada di bawah Malaysia yang sudah mencapai Rp14,3 juta hingga Rp14,7 juta per bulan. Bahkan Thailand yang selama ini dikenal memiliki harga BBM lebih mahal, rata-rata pendapatan pekerjanya sudah berada di kisaran Rp6,9 juta hingga Rp7,2 juta per bulan.

Sementara Vietnam yang harga bensinnya kini mulai dilewati Indonesia, rata-rata pendapatan pekerjanya berada di kisaran Rp5,1 juta hingga Rp5,5 juta per bulan.

Artinya, ketika harga BBM Indonesia mulai mendekati Vietnam atau Malaysia, kemampuan daya beli masyarakat belum tentu ikut mendekat.

Baca Juga: 4 Langkah BI demi Menahan Tekanan Rupiah usai Suku Bunga Naik 5,50 Persen

Harga BBM Bisa Mirip, Daya Beli Berbeda

Per 10 Juni 2026, harga Pertamax (RON 92) di Indonesia resmi naik menjadi Rp16.250 per liter. Angka tersebut sudah lebih tinggi dibanding bensin E5 RON 92 Vietnam yang berada di kisaran Rp14 ribu hingga Rp14,5 ribu per liter.

Sementara Pertamax Green 95 kini dijual Rp17 ribu per liter, mulai mendekati harga RON 95 non-subsidi Malaysia yang berada di sekitar Rp13 ribu hingga Rp14 ribuan per liter.

Namun perbedaan paling besar justru terlihat dari rasio pengeluaran terhadap pendapatan pekerja.

Di Indonesia, satu liter Pertamax kini setara hampir 0,5 persen dari rata-rata gaji bulanan pekerja formal nasional.

Bandingkan dengan Malaysia, di mana harga bensin RON 95 hanya mengambil sekitar 0,09 persen hingga 0,1 persen dari rata-rata pendapatan bulanan pekerjanya yang sudah menembus Rp14 jutaan per bulan.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa meski harga BBM kedua negara mulai terlihat mendekat secara nominal, tekanan terhadap daya beli masyarakat masih sangat berbeda.

Baca Juga: Buruh Rokok Keluhkan Harga Kebutuhan Pokok Kian Mahal

Ketimpangan Upah Masih Jadi Tantangan

Potret pendapatan di Indonesia juga menunjukkan ketimpangan yang cukup besar antarwilayah.

Di Jakarta, rata-rata upah pekerja formal sudah berada di atas Rp5 juta per bulan. Namun di banyak daerah lain, terutama sektor informal dan daerah penyangga industri, rata-rata pendapatan masih berada di bawah Rp3 juta.

Kondisi ini membuat dampak kenaikan BBM nonsubsidi terasa berbeda di tiap lapisan masyarakat.

Kelas menengah perkotaan mungkin masih memiliki ruang adaptasi, tetapi bagi pekerja dengan mobilitas tinggi dan pendapatan terbatas, kenaikan harga energi tetap memberi tekanan pada pengeluaran harian.

Baca Juga: BI Akhirnya Buka Suara: Rupiah Ternyata Tertekan Lebih Dalam dari Perkiraan

 

ASEAN Sedang Bergerak, Indonesia Mulai Mengejar

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara ASEAN memang mengalami penyesuaian harga energi akibat tekanan minyak mentah global dan transisi fiskal pasca pandemi.

Namun di saat harga energi perlahan naik, pertumbuhan pendapatan pekerja di beberapa negara seperti Vietnam, Malaysia, hingga Thailand juga bergerak lebih cepat.

Situasi itu membuat perdebatan soal BBM di Indonesia kini tidak lagi sekadar soal murah atau mahal, melainkan tentang seberapa kuat daya beli masyarakat mampu mengikuti kenaikan harga energi. (kam/bgs)

Editor : Hakam Alghivari
#gaji pekerja #daya beli #indonesia #malaysia #pertamax