RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Kenaikan kurs dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha di Bojonegoro. Terutama sektor properti dan jasa konstruksi yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Sejumlah material bangunan seperti besi, aluminium, stainless steel, hingga baja ringan diperkirakan mengalami kenaikan harga seiring menguatnya nilai tukar dolar. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha harus memutar strategi agar tetap bertahan di tengah situasi ekonomi yang belum stabil.
Sutrisno, salah seorang pengusaha properti di Bojonegoro, mengakui kenaikan harga material hampir tidak bisa dihindari ketika dolar menguat. Namun, hingga kini dia memilih tidak menaikkan harga produk propertinya.
“Kenaikan harga itu pasti. Tapi saya memilih untuk tidak menaikkan harga,” ujarnya.
Baca Juga: Harga Gabah dan Jagung Melesat dalam Setahun: Gabah Dipatok Rp 7.400, Jagung Rp 5.300
Menurut dia, langkah tersebut diambil karena daya beli masyarakat sedang melemah. Jika harga properti ikut dinaikkan, dia khawatir konsumen akan menunda pembelian.
Sutrisno menilai kondisi ekonomi global belakangan semakin tidak menentu sejak memanasnya konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Dampaknya ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
“Kalau pasokan BBM terganggu, proyek pembangunan juga bisa ikut terhambat,” katanya.
Dampak serupa dirasakan pelaku jasa konstruksi. Adi, pengusaha jasa konstruksi asal Bojonegoro, mengatakan kenaikan harga material membuat margin keuntungan semakin menipis. Bahkan, pelaku usaha berpotensi merugi apabila nilai proyek tidak ikut disesuaikan.
“Kalau harga naik dan nilai proyek tidak disesuaikan, kami yang merugi,” ujarnya.
Dia menjelaskan, sebagian besar material konstruksi, terutama besi, masih sangat dipengaruhi harga pasar internasional dan kurs dolar.
Saat ini, lanjut Adi, pemerintah disebut tengah menghitung ulang nilai sejumlah paket proyek agar sesuai dengan harga bahan terkini. Penyesuaian itu dilakukan supaya pekerjaan proyek tetap berjalan tanpa membebani kontraktor.
Akibatnya, sejumlah proyek di daerah hingga kini belum mulai dikerjakan.
“Rata-rata masih menyesuaikan harga karena bahan bangunan naik akibat BBM dan kurs dolar,” tuturnya. (zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana