Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Banjir Produk Bisnis dan Tutor Digital, Akademisi Ingatkan Konsumen Perlu Selektif Memilih

Hakam Alghivari • Sabtu, 18 April 2026 | 08:30 WIB
BELANJA ONLINE: Seorang warga sedang melihat-lihat produk di marketplace. (YUAN EDO/RADAR BOJONEGORO)
BELANJA ONLINE: Seorang warga sedang melihat-lihat produk di marketplace. (YUAN EDO/RADAR BOJONEGORO)

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tren produk digital kian berkembang, mulai dari e-book, kelas online, hingga paket bisnis instan. Namun, di balik maraknya penawaran tersebut, tidak semua produk dinilai memiliki kualitas sebanding dengan harga yang ditawarkan.

Konten kreator sekaligus pelaku kreatif digital, Ahmad Bayhaqi, menilai konsumen perlu lebih selektif sebelum membeli produk digital.

"Ada yang memang worth it, tapi ada juga yang overprice. Jadi, harus benar-benar ditimbang dan disesuaikan kebutuhan," ujarnya, Jumat (17/4).

Pria lulusan Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) itu menjelaskan bahwa bagi pemula sebaiknya tidak langsung membeli produk dengan harga tinggi. Menurutnya, banyak opsi dengan harga terjangkau yang bisa menjadi tahap awal belajar.

"Kalau pemula, mending beli yang murah dulu. Saya dulu mulai dari kisaran Rp50.000 sampai Rp200.000," katanya.

Baca Juga: Gen Z Enggan Memilih Jadi Guru, Namun Anggap Jadi Konten Kreator Pendidikan Lebih Menarik

Sementara itu, produk dengan harga lebih tinggi, bahkan hingga jutaan rupiah, biasanya menawarkan layanan tambahan seperti pendampingan atau konsultasi.

"Kalau yang jutaan itu biasanya ada mentoring atau konsultannya," jelasnya.

Meski demikian, sosok yang dikenal dengan jargon Mas-Mas Kabupaten itu mengingatkan bahwa tidak sedikit produk digital yang isinya jauh dari ekspektasi. Bahkan, ada produk digital yang berisi materi sembarangan hingga konten yang meragukan legalitasnya.

"Produk yang aneh-aneh juga banyak. Misalnya, paket jualan digital isinya e-book yang tidak jelas, bahkan ada yang bajakan, atau kelas yang janjinya terlalu berlebihan," ujarnya.

Selain itu, ia pernah membeli produk digital berupa template konten, namun hasilnya tidak sesuai harapan. "Pernah beli template konten plan, tapi kualitasnya kurang bagus," ungkapnya.

Menurutnya, sebelum membeli, calon konsumen sebaiknya mencari referensi dari berbagai sumber, termasuk pengalaman pengguna lain.

"Saya biasanya tanya ke orang yang sudah terjun, cari juga di media sosial, baru dipilih sendiri," katanya.

Dengan semakin banyaknya produk digital di pasaran, ia menilai penting bagi konsumen untuk lebih kritis agar tidak terjebak pada penawaran yang tidak sesuai kebutuhan.

Baca Juga: Bisnis Dropship Tak Seterang Dulu: Pelaku Beradaptasi Lewat Branding dan Pasar Global, Persaingan Harga Semakin Ketat

Pandangan serupa disampaikan pelaku digital marketing, Muhamad Mahmud Zain. Menurut pria lulusan Universitas Bojonegoro tersebut, maraknya produk digital sebenarnya menjadi indikasi meningkatnya minat belajar masyarakat.

“Pertumbuhan tren produk digital atau e-course ini tanda baik, artinya minat belajar orang meningkat karena demand juga naik,” ujarnya.

Namun, dirinya mengingatkan, tingginya permintaan juga diikuti munculnya produk yang tidak semuanya berkualitas.

“Dengan demand yang masif, akhirnya ada juga yang memanfaatkan dengan produk yang tidak sesuai kompetensinya,” jelasnya. (kam/zim)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#produk digital #bisnis instan #konsumen #kelas online #materi