RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pasar modal Indonesia harus melewati akhir pekan yang cukup misterius dan penuh tekanan. Pada penutupan perdagangan Jumat (6/2/2026), IHSG resmi ditutup di zona merah, anjlok 2% atau setara 168,62 poin ke level 7.935,26.
Meski sempat "berdarah-darah" di sesi pertama dengan koreksi hingga 2,83%, indeks berhasil memangkas sedikit penurunannya di sesi akhir. Namun, dominasi warna merah tak terelakkan: 673 saham berguguran, sementara hanya 118 saham yang mampu melawan arus, dan 167 saham lainnya stagnan.
Sepi Transaksi: Investor Pilih "Wait and See"
Nilai transaksi hari ini tercatat sebesar Rp19,2 triliun. Jika dibandingkan dengan rata-rata harian Januari yang sempat menembus Rp31-33 triliun, aktivitas pasar hari ini tergolong sepi.
Para pemodal tampaknya memilih untuk menepi sejenak melihat volatilitas yang begitu tinggi. Kapitalisasi pasar BEI pun harus rela tergerus hingga tersisa Rp14.341 triliun.
Blue Chip Menjadi Pemberat, Asing Tetap "Belanja"
Penurunan tajam hari ini dipicu oleh tumbangnya saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip). Berdasarkan data Refinitiv, raksasa perbankan BBCA (-1,6%) menjadi beban utama dengan kontribusi -11,84 poin terhadap indeks, disusul oleh BBRI dan ASII.
Namun, ada anomali yang menarik. Di tengah kepanikan pasar, investor asing justru mencatatkan net foreign buy sebesar Rp440,7 miliar.
-
Bank Mandiri (BMRI): Menjadi primadona koleksi asing dengan net buy Rp274,2 miliar meski harganya terkoreksi ke 4.990.
-
TLKM & ANTM: Turut masuk dalam keranjang belanja asing masing-masing Rp118,3 miliar dan Rp105,6 miliar.
-
Grup Bakrie: Dua emiten tambang, BUMI dan BRMS, juga masuk dalam daftar 10 saham yang paling banyak diborong asing hari ini.
Sentimen Moody's: Outlook Negatif dan Penjelasan Pemerintah
Biang kerok utama pelemahan ini adalah pengumuman dari Moody's Investors Service. Meski peringkat kredit Indonesia tetap di level Baa2, Moody's mengubah outlook dari "stabil" menjadi "negatif".
Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan penjelasan terkait hal ini dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan (PTIJK) 2026.
Ia menilai lembaga pemeringkat internasional belum sepenuhnya memahami perubahan struktural dalam APBN tahun ini yang banyak dialokasikan untuk program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
"Ini yang banyak rating agency ataupun di pasar keuangan global belum paham. Jadi ini yang harus kita beri penjelasan," tegas Airlangga.
Ia menambahkan bahwa peran Danantara (Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara) adalah kunci transformasi. Melalui Danantara, pemerintah melakukan reformasi agar BUMN bisa bergerak lincah layaknya sektor swasta (private sector).
Tanggapan Danantara: Sebuah Pengingat Konstruktif
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menanggapi revisi outlook Moody's dengan kepala dingin. Ia memandang revisi tersebut sebagai masukan berharga dalam proses evaluasi kebijakan.
Baca Juga: Beda Nasib Investasi Hari Ini: Emas Meroket, Saham IHSG Malah Terjun Bebas
"Danantara Indonesia memandang hal ini sebagai pengingat yang konstruktif untuk terus memperkokoh fondasi institusi, menegaskan arah kebijakan, dan menjaga disiplin pelaksanaan," ungkap Rosan dalam keterangan tertulisnya.
Bagi kita sebagai investor, kondisi pasar yang sedang tertekan akibat sentimen makro seringkali menjadi ajang pembuktian mental.
Masuknya aliran dana asing ke saham-saham perbankan dan komoditas di tengah penurunan indeks menunjukkan bahwa aset Indonesia masih memiliki daya tarik jangka panjang.
Langkah pemerintah melakukan roadshow dan komunikasi transparan akan menjadi katalis penting untuk mengembalikan kepercayaan pasar pekan depan.
Apakah Anda termasuk yang melakukan akumulasi pada saham BMRI atau TLKM saat harga diskon hari ini? Mari kita pantau bagaimana efektivitas komunikasi pemerintah terhadap lembaga rating internasional dalam beberapa hari ke depan. (*)
Editor : Bhagas Dani Purwoko