RADARBOJONEGORO.JAWA POS.COM – Bengawan Solo, sungai terpanjang di Pulau Jawa, mengalir tenang namun menyimpan dua wajah berbeda bagi masyarakat Bojonegoro. Dari panjang 600 kilometer sungai Bengawan Solo, kurang lebih 87 kilometernya melintas di Kabupaten Bojonegoro. Lintasan ini menjadi denyut kehidupan juga bisa sumber bencana yang terus berulang dari tahun ke tahun.
Bengawan Solo telah dimanfaatkan secara luas oleh warga Bojonegoro. Di sektor pertanian, sungai ini menjadi sumber irigasi utama bagi sawah pertanian di Kecamatan Kalitidu, Trucuk, Balen, Kanor, dan Baureno. Airnya mengalir melalui saluran-saluran sekunder dan tersier, menyuburkan lebih dari 23.000 hektare lahan pertanian di wilayah tersebut. Tak hanya itu, perairan Bengawan Solo juga menjadi ladang rezeki bagi nelayan air tawar lokal.
Menurut Dinas Perikanan Bojonegoro, terdapat lebih dari 800 nelayan sungai yang menggantungkan hidup dari tangkapan ikan seperti nila, lele, dan patin. Bahkan, dalam dua tahun terakhir, usaha budidaya karamba jaring apung di sepanjang tepian Bengawan Solo mulai menjamur, khususnya di Kecamatan Trucuk.
Sungai ini juga menyimpan potensi wisata air yang mulai digarap serius. Salah satunya adalah Wisata Perahu Bengawan Solo di Desa Ledok Kulon yang menyuguhkan pemandangan sunset di atas arus lambat sungai sambil mengenalkan sejarah lokal. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bahkan mencanangkan pengembangan "Waterfront City" yang mengandalkan keindahan Bengawan Solo sebagai daya tarik utama.
Namun, keindahan Bengawan Solo juga menyimpan getir. Setiap musim hujan, sungai ini menjadi langganan banjir yang merendam puluhan desa. Data dari BPBD Bojonegoro menunjukkan, dalam lima tahun terakhir, banjir Bengawan Solo telah menyebabkan kerugian rata-rata Rp 25 miliar per tahun, termasuk kerusakan infrastruktur, rumah warga, hingga gagal tanam dan gagal panen.
Musim penghujan 2024-2025 menjadi yang terparah dalam satu dekade terakhir, dengan 16 kecamatan terdampak banjir, dan lebih dari 3.200 rumah warga tergenang. Banjir bukan hanya soal air, tapi juga memicu penyebaran penyakit kulit, diare, hingga gangguan ekonomi karena terhambatnya distribusi logistik.
Pertanyaan besar pun muncul: apakah manfaat Bengawan Solo sebanding dengan bencana yang ditimbulkan?
Menurut pakar hidrologi dari Universitas Bojonegoro, Dr. Retno Wulandari, jawabannya terletak pada pengelolaan yang adaptif dan berkelanjutan.
“Bengawan Solo bukan untuk ditakuti, tapi dikelola dengan cerdas. Pendangkalan dan sedimentasi menjadi faktor utama banjir. Solusinya adalah revitalisasi DAS (Daerah Aliran Sungai), pengerukan berkala, dan optimalisasi tanggul digital berbasis sensor," ujarnya.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Bojonegoro kini menggandeng Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo dalam proyek sistem Polder dan Early Warning System (EWS) yang akan aktif penuh pada 2026. Teknologi ini mampu memprediksi ketinggian muka air hingga 7 hari ke depan dan mengatur debit melalui bendungan hilir seperti Waduk Gongseng dan Bojonegoro Floodway.
Tak kalah penting, warga kini dilibatkan dalam kegiatan pemantauan air melalui Pos Siaga Banjir Komunitas yang tersebar di 12 desa rawan. Edukasi soal penanaman vegetasi DAS, larangan buang sampah ke sungai, dan mitigasi berbasis sekolah menjadi bagian integral dari adaptasi iklim di kawasan ini.
Bengawan Solo bukan sekadar sungai. Ia adalah cermin yang menunjukkan bahwa harmoni antara alam dan manusia hanya bisa terwujud melalui sinergi, bukan sekadar eksploitasi. Bojonegoro kini belajar menari di antara gelombang manfaat dan bencana, menuju masa depan yang lebih bijak dan berkelanjutan. (feb)
Editor : M. Nurcholis