RADARBOJONEGORO,JAWAPOS.COM- Calon jamaah haji (CJH) Bojonegoro secara bergantian sudah terbang dari Bandara Juanda Suarabaya, Indonesia. Ke Bandara King Abdul Aziz Jeddah.
Selama perjalanan di pesawat mulai pukul 15.00 WIB hingga turun dari pesawat sekitar pukul 22.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Banyak kejadian yang dialami CJH, terutama yang sudah berusia lanjut. Karena, belum terbiasa perjalanan jauh, khususnya saat menggunakan fasilitas toilet pesawat.
Menurut Petugas Haji 2025 Imroatul Azizah, banyak pengalaman dan pelajaran untuk perbaikan pelayanan mendatang.
"Sebagai petugas saya mendapatkan kursi bisnis, tapi karena hanya dua dan jejerku (sebelahku) ketua kloter, aku pindah ke belakang bersama jamaah," tuturnya mengawali ceritanya.
Di sinilah Imroatul Azizah mengerti hiruk pikuk dan berbagai masalah terkait dengan para lansia dan penggunaan toilet.
Sebelum berangkat sudah di-share tentang tutorial penggunaan fasilitas pesawat, praktiknya banyak yang tidak paham, wal hasil lantai toilet basah bahkan sampai meluber ke luar.
Padahal toilet kering dan lantai pesawat itu banyak kabel atau panel yg berbahaya jika basah, banyak juga yang tidak tahu cara menyiram, tidak mau cebok atau istinja dengan tissu, membuang tisu bukan pada tempatnya.
Dia menceritakan, si kakek tidak mau memakai kantong pipis sehingga pipis di tempat duduk.
Kondisi fisik yang lemah memperlambat proses pembersihan. Najis kain ihram bawah, dan tidak membawa ganti, akhirnya dimintakan izin untuk memakai dan membawa selimut pesawat.
"Satu selimut najis, dan satu dipakai," katanya.
Dia melanjutkan, pendamping jamaah haji tak bawa kresek untuk baju kotor, akhirnya plastik bekas selimut yg dipakai.
Kemudian ada juga jamaah haji perempuan lansia, pakai diapers sejak pagi sebelum pukul 06.00, tapi tak diganti sampai pukul 21.00.
"Bocor lah, dan bisa dibayangkan sendiri bau menyengatnya, sampai jejer lungguhnya mengalah pindah (untung ada kursi kosong), karena tadi ada pasutri yg tunda berangkat karena sakit,"cerita Imroatul Azizah.
Dia menambahkan, masalah masih berlanjut karena tidak bawa baju ganti, hanya bawa kerudung.
"ya sudah kupakaikan selimut pesawat lagi. Lagi-lagi butuh 3 selimut, 1 utk ngelap kursi dan 2 untuk ganti baju," urainya menceritakan.
Ternyata nenek tak mau pakai baju selimut inginnya dicopot, bahkan kerudungnya juga minta dicopot.
Mestinya hal ini menjadi materi wajib dalam bimbingan manasik. Bagaimana perlunya siap diapers, kantong plastik, baju/kain ihrom ganti, dan cara membersihkan lansia yang ngompol.
Inilah serba-serbi gelombang 2 yang mengharuskan niat umroh di pesawat atau bandara.
Kasus selanjutnya, jamaah haji laki-laki lansia ngempet BAB (buang air besar) dan harus antre toilet menunggu yang kasus pertama tadi.
"Ini juga ta kalah dramanya karena closet tidak bisa menyiram (air gak keluar)," bebernya.
Solusinya, pendamping lansia tadi diminta membersihkannya dengan tisu. Lumayan repot karena semua harus menjaga kesucian pakaian.
"Lagi repot-repot ngurusi si kakek, eh ada bapak-bapak mendekat ta kira mau antre toilet ternyata, dia menanyakan kopi: "Bu, ada kopi?," ujarnya.
"Tapi, meski begitu kujawab: "Nanti bersama makan malam," pungkasnya.
Kemudian makan malam pukul 22.00 WAS dari makan siang pukul 15.00 WIB. (msu)
Editor : Muhammad Suaeb