Lembar Budaya: Sang Kiai Perupa

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 07:10 WIB
Ilustrasi Lembud (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
Ilustrasi Lembud (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Oleh: SUHARSONO, AQS 


MALAM itu, di antara rimba kuas dan rekah warna yang meluap dari kanvas-kanvas raksasa, aku memandang wajah Nasirun. Bukan sekadar guratan daging dan senyum jenaka yang kerap meloloskan tawa kekeh di sela hembusan asap rokoknya, melainkan sebuah makrokosmos yang sedang bernapas. Di balik dahi tajamnya, terpancar pendar sunyi yang merekah, pendar seorang kiai yang tidak memimpin doa di atas sajadah kain, melainkan di atas kanvas jerami dan lelehan minyak cat yang tak pernah benar-benar mengering.

Dalam pusaran semesta kehidupannya, aku melihat bagaimana Sang Kiai Perupa ini mengeja surga dan neraka bukan sebagai tempat yang jauh, melainkan sebagai tarian garis yang berkejaran. Jemarinya yang menari tidak sekadar menggoreskan pigmen warna, tetapi sedang merawat ingatan-ingatan zaman yang koyak. Ada bau tanah Jawa yang basah, gema gamelan yang sayup, serta riak spirit lokalitas yang menjelma menjadi huruf-huruf Arab gundul di antara siluet wayang yang mengerang sabar.

Wajah Nasirun adalah kitab terbuka yang ditulis oleh malam-malam tirakat panjang. Ketika mata orang lain tertidur lelap dalam ilusi kepastian, matanya tetap menatap tajam ke dalam kegelapan kanvas, menembus batas antara yang fana dan yang azali. Ia menatap wujud-wujud yang belum terlahir, memanggil roh-roh dongeng masa lalu untuk hadir kembali, memoleskan rindu pada wujud sang Pencipta dengan estetika yang tak sanggup dijinakkan oleh teori-teori Barat.

Ada kontemplasi ganjil yang merayap di dadaku saat menyaksikan bagaimana ia memperlakukan kuasnya. Bagi Nasirun, setiap tetes warna adalah deretan zikir “Bismillah” yang pernah dititipkan perempuan tua yang pernah melahirkanya di dunia. Dipanjatkan zikir itu dengan penuh keikhlasan; sebuah penyerahan diri yang tulus di hadapan Kebenaran yang Maha Luas. Ia tidak melukis untuk menaklukkan dunia, melainkan untuk meluluhkan dirinya sendiri hingga tak tersisa, mencari titik nol di mana sang seniman lebur dan hanya menyisakan keindahan yang membisikkan nama-Nya.

Baca Juga: Lembar Budaya: Kopi dan Roti Penuh Kenangan

Semesta kehidupan di sekelilingnya bergerak bak pusaran tasawuf visual. Sanggar kerjanya bukan lagi sekadar studio seni, melainkan sebuah pesantren rasa, tempat warna-warna primer saling berdialog merumuskan takdir. Di sana, tokoh wayang dan figur suci melayang tanpa bobot, melintasi dimensi waktu, mengajak siapa saja yang memandang untuk mengeja kembali makna keberadaan, dosa, serta pengampunan yang senantiasa terhampar murah.

Dan ketika aku terus menatap raut wajahnya yang diterangi remang lampu studio, aku akhirnya paham: Nasirun adalah jembatan antara tanah dan langit. Wajah itu adalah semesta itu sendiri, tempat di mana seni bukan lagi sekadar pajangan dinding, melainkan cara bernapas, cara mencintai, dan cara mengetuk pintu tuhan dengan jemari yang penuh lumuran warna.

Namun, keheningan tirakat itu mendadak memudar ketika riak-riak kota menyusup masuk lewat pintu studio yang terbuka separuh. Kota di luar sana adalah raksasa beton yang rakus, sebuah rimba egoisme di mana manusia bertolak punggung, berebut ruang, dan membelanjakan napas hanya demi angka-angka yang mati. Di tengah kepulan polusi dan kepalsuan yang melilit jalanan, datanglah beberapa tamu berjas necis, membawa bau uang, ambisi, dan aroma persaingan pasar seni yang dingin.

"Kang Nasirun," ujar salah seorang dari mereka, mendudukkan diri di atas kursi kayu tanpa menyapu debu cat yang menempel. Matanya berbinar rapuh oleh kebingungan kota. "Dunia di luar sedang membusuk oleh kesaling-sikutan. Semua orang ingin menjadi nomor satu, mematikan yang lain demi bertahan. Mengapa Sampean malah mengurung diri di sini, membagikan karya, dan menolak menjual lukisan-lukisan terbaik ini pada mereka yang berani bayar mahal?"

Nasirun tidak langsung menjawab. Ia meletakkan kuasnya yang masih basah oleh warna merah marun. Dipandangnya sang tamu dengan mata sayu namun menembus dada, seolah sedang menatap sesosok jiwa yang terengah-engah dikejar bayangannya sendiri. Ia menyulut sebatang rokok, membiarkan asapnya membumbung membentuk awan kecil yang menggantung di antara ceiling studio yang tinggi.

"Laku hidup di kota ini telah lumpuh, Mas," bisik Nasirun pelan, suaranya bak gesekan daun kering di makam tua. "Kalian menyebutnya bertahan hidup, tapi sebenarnya kalian sedang membunuh kehidupan itu sendiri. Kalian berebut mahkota plastik, lalu heran mengapa kepala kalian terasa berat dan berdarah."

Tamu kedua, seorang kolektor muda dengan jam tangan berkilau, melangkah mendekati kanvas setengah jadi yang menggambarkan sosok wayang raksasa terserap ke dalam gelombang warna emas. "Tapi seni butuh nilai pasar, Kang! Di kota, jika kau tidak menegaskan egomu, kau akan dilindas. Jika kau tidak mematok harga tinggi, kau dianggap tak ada. Mengapa kau biarkan orang-orang datang mengambil bagian dari jiwamu dengan cuma-cuma?"

Nasirun terkekeh pelan, tawa khasnya yang serak meretas ketegangan ruang. Ia memegang sepotong kain lap yang penuh noda warna-warni, meremasnya lembut. "Siapa yang memiliki jiwa ini sampai aku bisa menjualnya, Mas? Kota mengajarimu bahwa 'aku' adalah pusat semesta. 'Aku' harus kaya, 'aku' harus terkenal, 'aku' harus menang. Padahal, 'aku' adalah hijab terbesar antara manusia dan Tuhannya."

Ia melangkah mendekati jendela studio, menunjuk ke arah remang cakrawala di mana gedung-gedung pencakar langit berdiri seperti benteng-benteng keangkuhan. "Di sana, kalian bertransaksi dengan napas. Kalian menakar kebahagiaan dari seberapa banyak yang bisa kalian genggam. Tapi di depan kanvas ini, aku belajar menakar hidup dari seberapa banyak yang bisa aku lepaskan."

Baca Juga: Lembar Budaya: Anomali

"Tapi bukankah itu kenaifan di zaman seperti ini?" potong sang kolektor muda, nadanya meninggi, sarat frustrasi yang menumpuk dari rutinitas kota yang keras. "Tanpa ego, bagaimana kita bisa selamat dari kebuasan kota yang egoistik ini?"

Nasirun membalikkan badan, menatap mereka dengan kedalaman yang tak terukur. "Kota menjadi buas karena kalian lupa cara mengalah. Ego adalah berhala modern. Kalian menyembahnya setiap pagi saat bercermin, lalu heran mengapa malamnya kalian tak bisa tidur nyenyak. Kalian takut miskin harta, tapi tak pernah takut miskin rasa."

Ia mengambil sejemput pigmen warna biru tua yang masih mentah di atas palet kayu. Diacungkannya serbuk warna itu di hadapan para tamunya. "Serbuk ini tak akan pernah menjadi langit jika ia mempertahankan dirinya sebagai serbuk. Ia harus rela lebur dalam minyak, terhapus oleh kuas, dan menyerahkan wujudnya agar keindahan bisa hadir. Kehidupan kota runtuh karena tak ada lagi yang mau lebur."

Seorang lelaki berjas yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara pelan. Matanya menyiratkan keletihan yang teramat sangat dari peradaban yang bising. "Lalu bagaimana kami harus hidup di luar sana, Kang? Di tengah manusia-manusia yang saling memangsa?"

"Jadilah seperti air yang mengalir ke tempat paling rendah," sahut Nasirun halus, mengusapkan pigmen itu ke atas kanvas dengan ibu jarinya tanpa ragu. "Orang-orang kota berebut memanjat puncak, sebab itu mereka saling injak. Tapi jika kau memilih berada di bawah, tak akan ada yang bisa menjatuhkanmu lagi. Di tempat rendah itulah seluruh rahasia kehidupan bermuara."

Ia memandang tajam pada sosok wayang di kanvasnya yang seolah sedang menatap balik para pengunjung itu. "Kalian melihat lukisan ini sebagai komoditas yang harus dimiliki. Aku melihatnya sebagai cermin Diri. Ketika aku melukis, aku sedang merobek-robek egoku sendiri. Jika ada yang membawanya pulang, mereka bukan membeli lukisanku, tapi menyewakan ruang di rumah mereka untuk menampung doa-doaku."

Lampu studio mendadak berkedip, terancam oleh angin malam kota yang membawa debu dan kebisingan sirene dari kejauhan. Pertentangan antara sunyi pesantren rasa milik Nasirun dan riuh keangkuhan kota terasa kian nyata, seolah dua dimensi yang saling berbenturan di dalam ruangan sempit itu.

"Kota mengajari kalian untuk memiliki," lanjut Nasirun, melangkah kembali ke meja catnya. "Sufisme warna mengajariku untuk dimiliki. Selama kalian masih merasa memiliki harta, gelar, bahkan karya seni, kalian adalah tawanan dari apa yang kalian miliki itu. Kalian adalah budak dari barang belanjaan kalian sendiri."

Para tamu tersentak, bisu. Kata-kata sang kiai perupa merayap seperti sembilu yang mengiris lapisan kepalsuan yang selama ini mereka agungkan di atas trotoar-trotoar kota. Tidak ada perdebatan logika yang bisa membalas kesederhanaan yang radikal itu.

Nasirun kembali mengangkat kuasnya, mencelupkannya ke dalam warna putih yang bersih. "Pulanglah ke kotamu," bisiknya tanpa menoleh lagi, matanya kembali tertambat penuh cinta pada kanvas. "Tapi jangan bawa pulang keangkuhannya. Belajarlah menjadi kanvas kosong kembali. Sebab hanya pada kekosongan itulah, Tuhan sudi menggoreskan takdir-Nya yang paling indah."

Malam semakin larut. Para tamu itu melangkah keluar satu per satu dengan kepala tertunduk, membawa luka yang aneh di dalam dada mereka, luka kedamaian yang melucuti segala egoistik kota, meninggalkan Sang Kiai Perupa yang kembali berzikir dalam tarian kuas dan keheningan yang azali.

Baca Juga: Lembar Budaya: Jaga Tirta

Sang Kiai Perupa hanya menatap kepingan kertas bernilai miliaran itu seperti menatap tumpukan daun kering yang membusuk, lalu dengan ketenangan seorang sufi yang telah melampaui maut, ia mengambil sebuah kuas besar bercat hitam pekat dan melapis habis lukisan terindahnya, sebuah mahakarya tirakat puluhan tahun, menjadi kegelapan yang rata. Di hadapan jeritan histeris dan kepanikan para pemuja harta yang menyaksikan kehancuran 'investasi' mereka, Nasirun tersenyum tipis, merobek kanvas hitam itu menjadi serpihan tak berharga, lalu melemparkannya ke dalam tungku api kecil di sudut ruangan.

Ketika fajar terakhir menyingsing mulus di atas atap sanggar, Nasirun menghembuskan napas pamungkasnya bukan dalam rintih kesakitan, melainkan dalam senyum paling tulus, sebuah kepulangan yang lebur dalam dekapan kedamaian yang azali. Ia berpulang saat jemarinya masih menggenggam kuas yang belum sempat dibersihkan, seolah maut baginya hanyalah sebuah garis kurva sederhana yang menghubungkan warna bumi dengan cahaya langit. Tidak ada jerit ratap yang tertinggal di udara, hanya aroma minyak cat dan wangi tanah basah yang menyelinap pelan, mengabarkan pada alam bahwa Sang Kiai Perupa telah menyempurnakan zikir rupa-Nya dan kembali menjadi kanvas kosong yang suci di hadapan Sang Maha Keindahan.

Meskipun jasadnya telah menyatu kembali ke dalam tanah, pitutur luhur yang dipahatnya lewat laku hidup tak pernah luntur dimakan zaman. Di kota yang terus membusuk oleh pusaran ego dan kerakusan, jejak-jejak sunyi Nasirun justru menjelma menjadi kompas abadi: bahwa sejatinya manusia tidak diukur dari seberapa banyak dunia yang sanggup dilahapnya, melainkan seberapa dalam ia mampu meluruhkan egonya demi mencintai sesama. Lukisan-lukisannya mungkin bisa lapuk oleh sangkala, namun keikhlasan radikal dan keheningan jiwanya akan terus membisik dari balik dinding-dinding peradaban, mengingatkan siapa saja yang tersesat bahwa puncak tertinggi dari segala seni adalah kerendahan hati untuk pasrah dan menjadi tiada.

 

Bumi Utara, 22 Agustus 2026

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Tanah Jawa Figur Suci kiai ego