Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Nahdlatul Ulama, Pesantren, dan Intelektual Masa Depan

M
Penulis: Muhammad Suaeb❯
Mohamad Kundori, Direktur PT ADS BUMD Bojonegoro, Alumni Ponpes Tambakberas Jomban
Mohamad Kundori, Direktur PT ADS BUMD Bojonegoro, Alumni Ponpes Tambakberas Jomban

Advertisement

Oleh: Mohamad Kundori

Direktur PT ADS BUMD Bojonegoro, Alumni Ponpes Tambakberas Jombang


Advertisement

KIAI Haji (KH) Wahab Chasbullah begitu kerasan saat singgah di Padangan, Bojonegoro. Era 1930, kiai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu kerap mampir di Padangan. Kawasan dekat Bengawan.

KH Wahab Chasbullah kerap kali menempuh perjalanannya dari Jombang ke Kudus untuk bersowan ke KH Asnawi Kudus. Konsolidasi berdirinya NU. Dari estafet perjalanan Jombang-Kudus itu, KH Wahab Chasbullah mampir di Padangan.

Sebuah anugerah, KH Wahab Chasbullah mampir di Padangan. Kiai pelopor berdirinya NU tersebut nyantri dan sowan ke KH Hasyim Jalak’an. Mbah Wahab berguru kepada kiai masyur dengan keilmuan. Sosok intelektual dan pemikir bermukim di Padangan.

Advertisement

Hingga ulama nasional dan internasional menyebut KH Hasyim Jalak’an masyur dengan sebutan Syekh Hasyim Al Fadangi (1850-1942). Memiliki banyak santri dan merawat berkembangnya pesantren di Padangan.

Dalam penutup kitab Tashrifan Padangan yang diterbitkan Maktabah Ahmad Nabhan Surabaya, bertarikh 1388 Hijriyah (1968 Masehi), tercatat sejumlah karya Kiai Hasyim Padangan. Mulai terjemah Imrithi, terjemah Alfiyah Ibnu Malik, hingga terjemah Nadham Maqsud.

Keilmuan dan keagungan pesantren di Padangan, menjadi faktor KH Wahab Chasbullah kerasan dan menimba ilmu di Padangan. Keterkaitan ini bermukadimah KH Wahab Chasbullah itu teman atau akrab dengan KH Usman, menantu KH Hasyim Jalak’an.

Umbul dunga pun terlaksana. Pada 1938 NU Padangan mengudara. Menjejak. Lalu, menjalar dengan menugaskan KH Usman untuk menegakkan NU Cepu, Blora. Serta, menugaskan KH Sholeh Hasyim, putra dari KH Hasyim Padangan untuk meneguhkan dakwah dan mendirikan NU di perkotaan Bojonegoro.

Padangan menjadi simpul dakwah. Locus strategis itulah dengan memiliki jalur Bengawan menjadi ikhwal berdakwah. Pesantren menjalar. Menyebar hingga melahirkan intelektual-intelektual. Membudaya dan melayung hingga saat ini: pesantren dan dakwah.

Advertisement
Editor : Farhan Reza Ardiansyah
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar BojonegoroIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Lembar Budaya: Sang Kiai Perupa

Lembar Budaya: Sang Kiai Perupa

MALAM itu, di antara rimba kuas dan rekah warna yang meluap dari kanvas-kanvas raksasa, aku memandang wajah Nasirun.

Lembar Budaya: Untaian Doa buat Sang Kiai

Lembar Budaya: Untaian Doa buat Sang Kiai

Semua ciptaan Tuhan di alam ini hidup bergantian. Seluruh makhluk melaksanakan tugas sesuai fungsi masing-masing. Jika dirasa cukup, mereka akan digantikan dengan lainnya. Tak ada yang abadi. Tak ada tugas yang kekal. Ke

OPINI: Beban Berat NU Pasca-Muktamar

OPINI: Beban Berat NU Pasca-Muktamar

Susunan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) 2026-2031 sudah diumumkan. Jumlah personelnya 210 orang. Periode lima tahun sebelum ini, 2021-2026, hanya 189 orang.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer