Cerpen Radar Bojonegoro: Proyektil Kehancuran yang Tertinggal oleh Heri Haliling

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 08:18 WIB
Ilustrasi Ainur Ochiem
Ilustrasi Ainur Ochiem

 

Oleh:  Heri Haliling

 

Pagi itu surya masih menggantung rendah di langit. Suasana lengang tanpa dawai burung sebab mereka tau persis ini wilayah apa.

Blooaarrr!!!

Satu ledakan rudal kadaluarsa membolongi tanah. Asap mesiu lalu mengambang tipis di udara wilayah Sine Qua Non. Bagai halimun, awan hitam kebiruan itu menyelimuti lahan gersang tempat latihan militer. 

Baca Juga: Lembar Budaya: Kopi dan Roti Penuh Kenangan

Sekitar 1 km dari bunyi ledakan adalah barak prajurit. Sudah jadi konsumsi harian bahwa ledakan bom tersebut tak ubahnya kidung pengantar tidur. Begitu juga yang dirasakan Randu, Rengkong, dan Jatman. Ketiganya yang bekerja sebagai pemungut serpihan besi, tembaga, bahkan kuningan di wilayah ini tampak cuek dan tetap fokus pada apa yang sedang mereka garap. Terlihat di salah satu pelataran gudang senjata, Randu, Rengkong, dan Jatman duduk di atas bangkai rudal kadaluarsa sambil mempreteli  logam mata peluru penghancur itu. Sepihan demi serpihan besi, tembaga, bahkan kuningan teronggok di samping mereka. Palu dan pahat tumpul di sana berperan layaknya kunci tradisi. Di tangan ketiga pemuda berkulit legam itu rudal penghancur kadaluarsa hanya ubi raksasa untuk dijual sebagai penyambung asap dapur.

Baca Juga: Lembar Budaya: Anomali

"Eh, Ran" panggil Rengkong sambil menyeka peluh dengan tangan berdebu, "kata Mika, undanganmu udah jadi belum?"

Randu tertawa kecil. "Belum. Aku aja masih ngumpulin besi buat bayar tenda sama tukang masak. Nikah seminggu lagi, tapi dompet masih kosong."

"Tapi cincin yang kau kenakan itu tampaknya berkelas" sahut Jatman mencampur.

Randu menunjukkan cincin di jari manisnya.

"Sepasang. Ya, ini. Habis di sini" kata Randu tertawa.

Jatman menggeleng membalas senyum.

"Dasar nasib, besi tua yang terkumpul dari proyektil rudal ini harganya cuma 4 ribu per kilo. Andai semua kuningan pasti laku 70 ribu" tukasnya dengan aroma tubuh berbau tembakau dan belerang."

Dari balik pintu samping, Komandan Sabrani muncul. Wajahnya tegas dan kaku mirip tanah retak. Dia mengenakan seragam lusuh dengan kesiagaan pistol FN di pinggang.

Baca Juga: Lembar Budaya: Jaga Tirta

"Kurangi mengeluh."

Ketiganya cukup kaget oleh kedatangannya. Sedikit kikuk membayang dari wajah mereka.

"Maaf Komandan, hanya bercanda" jelas Jatman tanpa berani menatap.

"Lusa akan datang tiga puluh rudal tank dari kesatuan Sin Cos Tan. Kalian standby setelah ledakan pertama. Seperti biasa, kumpulkan serpihan lalu pastikan area bersih dari fragmentasi."

"Keamanan?" tanya Jatman lirih.

"Tenang. Proyektilnya pasif. Harus dipicu secara manual untuk meledak. Tapi tetap waspada."

Tanpa banyak mendebat karena memang kerjaan sehari-hari, ketiganya setuju lalu kembali fokus memalui batangan rudal.

*

Dua hari kemudian langit wilayah Sine Qua Non kembali menghitam oleh debu ledakan. Pada pukul 09.00 tepat, separuh dari rudal telah selesai dimusnahkan. Suara dentumannya membelah udara dan menjadikan hujan bijih besi di radius 50 meter. Sementara itu mesiu yang terbakar menciptakan aroma menyengat campuran belerang dan kisah kelam perang.

Komandan Sabrani mengamati kejadian itu dengan mata penuh kenangan. Pikirannya lalu membayangkan sejarah luka saat dirinya dan anak buah menembus lahan ranjau musuh. Sekejap kesadarannya kembali dengan kelengahan hitungan. Kemukus asap masih membumbung, rudal tinggal setengah lagi. Letak jangkauan ledakan kedua harus steril dari pecahan proyektil. Untuk itu Komandan Sabrani memberikan kode dengan mengangkat tangan kanan. Jari telunjuknya mengarah ke bumbungan asap diiringi langkah kaki untuk mendekati lokasi ledakan.

Baca Juga: Lembar Budaya: Jaga Tirta

Dari tempat pantauan, Randu yang menaiki motor protolan dengan knalpot bocor menarik gasnya. Bunyi meraung seketika menyeruak udara. Di belakangnya, Rengkong dan Jatman membawa karung goni serta linggis. Mereka ikut memacu gas dan memburu. Maka pagi itu miriplah ketiganya seolah berlomba balapan motor cross.

Mereka terus melaju membawa harapan untuk keluarganya. Para pencari serpihan besi itu tak tahu bahwa di bawah tanah yang hangus masih tertanam satu proyektil yang belum aktif sempurna. Rudal yang mirip ranjau itu masih tidur berkeringat panas menunggu picu dari derap kecerobohan.

Benar saja, manakala roda depan motor Randu menggilas tanah yang masih panas seketika itu pula picu rudal yang terlelap itu meledak.

Bloaaaarrrrr!!!!!!

Ledakan kedua tak kalah dahsyat dari yang pertama. Suara itu memuntahkan kematian! Api membubung tinggi. Fragmen logam beterbangan, menancap ke batang pohon dan ke tubuh manusia tanpa pandang rasa apapun. Kehancuran melanda dengan gila! Semua benda dan nyawa menghambur menyatu bersama debu!

Tak terkecuali Komandan Sabrani yang terpental sekitar 5 meter dari titik ledakan. Sementara itu para prajurit di pos pengawas panik.  Mereka segera melakukan evakuasi dan menghubungi ambulan.

*

Di kejauhan tepi bukit kecil yang menghadap ke arah wilayah Sine Qua Non, Mika berdiri mengenakan kebaya ungu pudar. Ia membawa rantang berisi ayam goreng kesukaan Randu. Gadis itu berharap sang calon suami turun dari asap dengan senyum kotor dan tubuh penuh jelaga. Namun rauangan ambulan yang melewati dirinya menuju lokasi ledakan memporak-porandakan ketenangan. Rantang terjatuh dengan penutupnya terbuka. Ayam goreng tumpah bersama harum rempah bercampur debu jalanan. Mika berlari beriring warga lain untuk ikut menuju lokasi.

Sampai di kubangan besar dengan puluhan orang telah berkumpul, Mika berhenti. Ia pandangi lahan yang kini membara.  Dekat dari sana Komandan Sabrani dan beberapa prajurit jaga di sekitaran lokasi sedang ditandu dengan tubuh gosong penuh erangan. Tak jauh dari titik lain,  lutut Mika langsung ambruk jatuh ke tanah. Ia rangkum wajahnya yang pucat ketakutan. Mika menjerit sejadi-jadinya menyaksikan gumpalan tubuh tak berbentuk dengan stelan baju gosong yang ia kenal.

Baca Juga: Lembar Budaya: Untaian Doa buat Sang Kiai

*

Satu malam, Mika uring-uringan dalam bilik rumahnya. Tangannya menggengam sebuah cincin dengan banyak goresan. Ia tutup tubuhnya dengan melingkari lutut. Tangisannya masih ada meski suara dan air mata telah surut tanpa daya. Di samping Mika, sebuah koran telah ia baca sebelumnya. Pada halaman utama media itu dipenuhi judul yang kurang lebih bermakna sama.

"Ledakan Proyektil Tank di Wilayah Sine Qua Non: 3 Sipil dan 2 Prajurit Gugur"

Sub judul:

"Insiden Murni Kecelakaan, Komandan: Warga Nekat Meski Sudah Diimbau"

"Serpihan Kuningan Jadi Pemicu Tragedi"

Baca Juga: Lembar Budaya: Segenggam Pagi untuk Kekasih

Mika menggeretakkan giginya. Dia menyeringai dengan kebencian dan dendam. Mika tahu pernyataan komandan di sana merupakan kebohongan. Komandan Sabrani tentu tahu rudal itu belum sepenuhnya aman. Namun prosedur tetap dilanjutkan demi menghasilkan nyawa sipil agar menjadi statistik dalam laporan mingguan.

Mika berdiri, memandangi foto pre-wedding yang tergantung miring di dinding.  Matanya kian nyalang. Dalam diam luka, hatinya berontak untuk mantapkan tekad. Kemudian satu suara kecil penuh getaran menyeru:

"Aku akan bicara meski dunia memilih bungkam!"

 

_____SELESAI_____

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
proyektil meledak Rudal lembar budaya