Cerpen Radar Bojonegoro: Air Mata Kemarau oleh Choirul Anam

Muhammad Suaeb • Dipublikasikan Sabtu, 25 Juli 2026 | 08:35 WIB
ilustrasi Radar Bojonegoro (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)
ilustrasi Radar Bojonegoro (AINUR OCHIEM/RADAR BOJONEGORO)

Air Mata Kemarau

 

Choirul Anam*)

 

KEMARAU di Bojonegoro selalu datang dengan caranya sendiri. Ia tidak mengetuk pintu, tidak mengirim surat. Tahu-tahu rumput berubah warna seperti jerami, daun jati berguguran memenuhi jalan desa, dan angin berembus membawa debu yang membuat mata perih.

Di Desa Margomulyo, Kecamatan Balen, embun pagi bahkan seperti ikut mengungsi. Yang tersisa hanyalah langit biru tanpa belas kasihan.

"Sumur tinggal sedengkul," gumam Pak Wiryo sambil menurunkan ember ke dasar sumur. Tali sepanjang belasan meter baru menyentuh air yang jumlahnya tak lebih banyak daripada air cucian beras.

Baca Juga: Lembar Budaya: Kopi dan Roti Penuh Kenangan

"Kalau begini terus, seminggu lagi habis."

Bu Siti yang berdiri di sampingnya hanya mengangguk. Di rumah mereka ada tiga anak, dua kambing, dan belasan ayam yang sama-sama membutuhkan air. Bahkan memilih siapa yang lebih berhak minum menjadi keputusan yang terasa kejam.

***

Sudah dua bulan hujan tak turun.

Sawah berubah menjadi tanah retak-retak. Celah-celahnya cukup besar untuk menyelipkan telapak tangan seorang anak kecil. Padi yang dulu menghijau kini berdiri kering seperti lidi.

Di pinggir hutan jati, daun-daun kering menumpuk setinggi mata kaki. Warga tahu, benda paling berbahaya saat kemarau bukanlah ular, melainkan sebatang puntung rokok yang dibuang sembarangan.

Dan firasat buruk itu akhirnya datang.

Menjelang siang terdengar teriakan dari arah perbukitan.

Baca Juga: Lembar Budaya: Jaga Tirta

"Kobongan... kobongan...!"

Asap hitam menjulang tinggi.

Api melahap semak dan daun jati yang kering kerontang. Angin timur meniup lidah api ke mana-mana. Dalam hitungan menit, kebakaran merambat seperti orang sedang menyapu halaman.

Pak Wiryo, pemuda karang taruna, perangkat desa, hingga relawan berdatangan membawa ranting basah, cangkul, dan tangki semprot seadanya.

Mereka bukan sedang memadamkan api. Mereka sedang berlomba dengan angin.

"Asal jangan sampai masuk permukiman!" teriak seseorang.

Wajah mereka hitam oleh abu. Baju penuh keringat. Tangan melepuh. Tetapi api baru benar-benar menyerah menjelang sore setelah menghanguskan puluhan hektare semak.

Ketika malam tiba, desa diselimuti bau kayu terbakar.

Tak ada yang benar-benar bisa tidur.

Baca Juga: Lembar Budaya: Untaian Doa buat Sang Kiai

---

Musibah ternyata tidak datang sendirian.

Tandon air desa mulai kosong.

Mobil tangki bantuan hanya datang beberapa hari sekali. Begitu terdengar suara klakson truk pembawa air, warga langsung keluar membawa jeriken, ember, galon, bahkan panci.

Antrean mengular.

Anak-anak ikut menjaga giliran sambil bermain di bawah terik matahari.

Tak ada yang berebut. Semua sadar, tetangga di belakangnya sama-sama haus.

Pak Wiryo memerhatikan seorang nenek renta yang membawa dua jeriken kecil.

"Nek, biar saya angkat."

Nenek itu tersenyum.

Baca Juga: Lembar Budaya: Di Balik Tawa Mereka

"Terima kasih, Le. Air sekarang lebih berat daripada beras."

Kalimat sederhana itu membuat Pak Wiryo terdiam cukup lama.

Benar juga.

Dulu orang menghitung kekayaan dari sawah.

Sekarang kekayaan terasa berpindah ke dasar sumur.

---

Suatu malam, balai desa dipenuhi warga.

Bukan untuk hajatan.

Bukan pula rapat pemilihan ketua RT.

Mereka berkumpul membicarakan bagaimana desa bisa bertahan jika kemarau semakin panjang.

Usul bermunculan.

Baca Juga: Lembar Budaya: Pertarungan

Ada yang mengusulkan membuat sumur bor baru.

Ada yang meminta pemerintah memperbanyak kiriman air bersih.

Ada yang mengajak memperbaiki bak penampungan.

Ada pula yang mengusulkan menanam pohon kembali di kawasan gundul setelah musim hujan tiba.

Pak Lurah kemudian berdiri.

"Kita memang butuh bantuan pemerintah. Tetapi kita juga harus membantu diri kita sendiri."

Semua hening.

Beliau melanjutkan, "Setiap hujan turun nanti, jangan biarkan setetes pun langsung lari ke sungai. Kita buat penampungan. Kita buat lubang resapan. Kita tanami kembali bukit kita."

Pak Wiryo mengangguk pelan.

Baca Juga: Lembar Budaya: Pindah Agama

Selama ini mereka selalu berharap hujan datang.

Mungkin sudah saatnya mereka juga belajar menyimpan hujan.

***

Hari-hari berikutnya dipenuhi gotong royong.

Para pemuda membersihkan embung desa.

Ibu-ibu membuat jadwal pembagian air agar lebih adil.

Anak-anak sekolah diajari hemat air.

Petani mulai mencoba menanam palawija yang lebih tahan kekeringan.

Relawan berpatroli ke kawasan hutan setiap sore untuk memastikan tidak ada titik api baru.

Tak semua persoalan selesai.

Namun setidaknya, kepanikan mulai berganti dengan kerja bersama.

Baca Juga: Lembar Budaya: Gadis Misterius

---

Awal Oktober.

Langit masih biru.

Tetapi angin berubah arah.

Pak Wiryo sedang duduk di depan rumah ketika setitik air jatuh di punggung tangannya.

Ia mendongak.

"Mungkin cuma burung," pikirnya.

Setitik lagi jatuh.

Lalu satu lagi.

Tak lama kemudian, gerimis turun perlahan.

Anak-anak berteriak kegirangan.

Baca Juga: Lembar Budaya: Perempuan Pengasak Padi

Mereka berlarian tanpa sandal.

Ada yang sengaja menengadahkan wajah ke langit.

Ada yang tertawa sambil membiarkan bajunya basah.

Bu Siti buru-buru mengeluarkan ember dan gentong.

Semua wadah diletakkan di halaman.

Tak seorang pun mengeluh kehujanan.

Justru mereka seperti menyambut tamu yang telah lama dirindukan.

Pak Wiryo memejamkan mata.

Bau tanah basah memenuhi udara.

Baca Juga: Lembar Budaya: Mak Comblang

Bau yang selama berbulan-bulan hanya hidup dalam ingatan. 

---

Beberapa bulan kemudian, bukit yang sempat terbakar mulai menghijau.

Tunas-tunas muda tumbuh di antara batang-batang yang menghitam.

Alam ternyata memiliki kemampuan luar biasa untuk memulai lagi, selama manusia memberinya kesempatan.

Di dekat embung desa, papan kayu sederhana dipasang oleh para pemuda.

Di atasnya tertulis:

"Air bukan warisan dari leluhur. Air adalah titipan untuk anak cucu."

Setiap orang yang lewat akan membacanya.

Sebagian hanya tersenyum.

Baca Juga: Lembar Budaya: Kresek Hitam di Pintu Subuh

Sebagian lagi berhenti sejenak.

Karena mereka tahu, kemarau pasti akan datang lagi. Mungkin tahun depan, mungkin dua tahun lagi. Tetapi desa itu tidak ingin lagi hanya menjadi penonton yang pasrah.

Mereka ingin menjadi penjaga.

Penjaga mata air.

Penjaga hutan.

Penjaga harapan.

Sebab mereka telah belajar bahwa bencana memang tidak selalu bisa dicegah. Namun dampaknya dapat diperkecil ketika warga saling menguatkan, pemerintah hadir dengan langkah nyata, dan alam diperlakukan sebagai sahabat, bukan sekadar tempat mengambil hasil.

Baca Juga: Lembar Budaya: Pengilon di Pojok Lor-Etan

Dan selama masih ada orang-orang yang rela mengangkat jeriken milik tetangganya, ikut memadamkan api tanpa diminta, menanam pohon yang bahkan mungkin tak sempat mereka nikmati rindangnya, Bojonegoro akan selalu memiliki alasan untuk bangkit.

Sebab harapan, seperti mata air, kadang memang tersembunyi jauh di dalam tanah. Perlu kesabaran, kerja bersama, dan keyakinan untuk menemukannya. Tetapi sekali ia memancar, ia akan menghidupi siapa saja yang menjaganya. (*)

Editor : Farhan Reza Ardiansyah
sawah cerpen sumur bojonegoro Kemarau