RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Aliansi Perlindungan Perempuan dan Anak (APPA) Bojonegoro mengkritisi Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah (GAMAS) yang digagas Pemerintah Kabupaten Bojonegoro. Menurut APPA, gerakan tersebut dinilai kurang efektif apabila tujuan utamanya untuk mengatasi fenomena fatherless atau minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.
Koordinator APPA Bojonegoro, Nafidatul Himah, mengatakan pihaknya mendukung peningkatan peran ayah dalam pengasuhan. Namun, ia mempertanyakan kebijakan yang secara khusus mewajibkan kehadiran ayah pada hari pertama masuk sekolah.
Baca Juga: APPA Minta Pemerintah Bojonegoro Perkuat Pencegahan Perzinaan Berujung Diska
"Kami sudah cukup geram dengan gerakan ini. Fatherless memang persoalan yang penting, tetapi ketika dalam surat edaran disebutkan harus ayah yang mengantar, saya kurang sepakat," ujarnya, Minggu (12/7).
Menurut Himah, kebijakan tersebut belum mempertimbangkan kondisi riil yang dihadapi setiap anak. Sebab, tidak semua anak hidup bersama ayahnya. Ada yang ayahnya telah meninggal dunia, bekerja di luar kota, maupun berada dalam kondisi keluarga yang berbeda.
Ia menilai, bagi anak-anak, terutama yang baru memasuki jenjang TK atau SD, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan beban psikologis ketika melihat teman-temannya diantar ayah.
"Kalau ada gerakan seperti ini, bagaimana perasaan anak-anak yang tidak bisa diantar ayahnya?" katanya.
Himah menilai persoalan fatherless tidak cukup diselesaikan melalui gerakan simbolis pada hari pertama sekolah. Menurutnya, pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang lebih berpihak pada kondisi anak dan memperhatikan aspek psikologis mereka.
"Saya melihat gerakan ini belum berperspektif anak, apalagi Bojonegoro menyandang predikat Kabupaten Layak Anak. Kalau memang ingin meningkatkan keterlibatan ayah, caranya jangan seperti ini," tegasnya.
Menurut Himah, pelibatan ayah dalam pendidikan anak dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan yang lebih berkelanjutan tanpa harus dituangkan dalam surat edaran. Misalnya, sekolah memberikan tugas yang mendorong interaksi antara anak dan ayah, seperti membuat video percakapan. Jika ayah berada di luar daerah, interaksi bisa dilakukan melalui panggilan video.
Selain itu, ia mengusulkan agar kegiatan juga dapat melibatkan figur pengganti, seperti kakak, kakek, atau wali, bagi anak yang tidak tinggal bersama ayahnya akibat perceraian, kematian, atau sebab lainnya.
Ia juga menyarankan sekolah menyelenggarakan kegiatan parenting, outbound, atau aktivitas sederhana yang melibatkan seluruh anggota keluarga, seperti membuat prakarya atau melakukan pekerjaan rumah bersama.
"Misalnya mencuci piring bersama ayah, kakak, atau kakek. Kegiatan seperti itu bisa disampaikan melalui surat undangan kepada orang tua tanpa membuat anak merasa berbeda. Dengan begitu, kondisi psikologis anak juga lebih terjaga," pungkas perempuan asal Kecamatan Dander tersebut. (yna/zim)
Editor : Hakam Alghivari