RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pelaksanaan Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (Gayatri) di Bojonegoro masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah kematian ayam yang dipicu berbagai faktor, mulai dari manajemen pakan hingga serangan penyakit.
Di lapangan, rata-rata keluarga penerima manfaat (KPM) dilaporkan mengalami kematian ayam antara satu hingga lima ekor. Meski demikian, Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Bojonegoro mengklaim tingkat kematian ayam secara keseluruhan masih berada di bawah 5 persen.
Kepala Desa Tikusan, Kecamatan Kapas, Edy Sunarto mengatakan, di desanya terdapat 16 KPM penerima Program Gayatri dari tahap sebelumnya. Dari jumlah tersebut, sebagian besar mengalami kematian ayam dengan jumlah yang bervariasi.
Menurut Edy, salah satu penyebab kematian ayam berkaitan dengan pola pengelolaan pakan oleh KPM. Pendapatan hasil penjualan telur yang seharusnya disisihkan untuk membeli pakan, kata dia, justru digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Akibatnya, sebagian KPM tidak mampu membeli pakan sesuai kebutuhan dan hanya memberikan pakan seadanya, seperti dedak. “Tentu pemberian pakan tersebut berpengaruh terhadap kondisi ayam,” ungkapnya.
Baca Juga: KPM Gayatri di Bojonegoro Keberatan Pakan Pabrikan, Ternak Bantuan Rawan Dijual
Meski demikian, Edy menyebut produktivitas ayam petelur dalam Program Gayatri cukup baik. Setiap hari, hasil telur yang diperoleh KPM rata-rata mencapai 2,5 kilogram hingga 3 kilogram dan menjadi tambahan pendapatan keluarga.
Untuk pelaksanaan Program Gayatri tahun ini, Desa Tikusan diperkirakan akan mendapat tambahan 10 KPM penerima manfaat. Pada 2026 mendatang, pemerintah desa juga berencana membentuk kelompok peternak dengan sistem kandang terpusat.
Melalui skema tersebut, ayam tidak lagi dipelihara secara terpisah di rumah masing-masing KPM, tetapi ditempatkan dalam satu lokasi agar lebih mudah dipantau. “Terlebih penerima manfaat tahun ini rata-rata sudah berusia lanjut dan sebagian tidak memiliki lahan,” jelasnya.
Menurutnya, sistem tersebut juga diharapkan dapat menjadi solusi untuk menekan angka kematian ayam karena pemeliharaan dapat dilakukan secara bersama dan lebih terkontrol.
Sementara itu, Sekretaris Disnakkan Bojonegoro, Elfia Nuraini, mengatakan berdasarkan laporan yang diterima, angka kematian ayam Gayatri secara keseluruhan masih berada di bawah 5 persen.
Dia menjelaskan, kematian ayam dipicu sejumlah faktor, di antaranya heat stress atau kondisi suhu lingkungan yang melebihi 28 derajat Celsius sehingga ayam kesulitan membuang panas tubuh. Selain itu, terdapat penyakit snot atau infeksi saluran pernapasan menular yang disebabkan oleh bakteri.
Elfia menegaskan, apabila terjadi kematian ayam, KPM diminta segera melapor kepada petugas. Ketentuan tersebut juga telah dicantumkan dalam petunjuk teknis (juknis) dan disampaikan saat bimbingan teknis (bimtek).
“Setiap ada kematian wajib segera menghubungi petugas teknis peternakan di masing-masing kecamatan dan juga pendamping yang ada,” jelasnya.
Menghadapi musim kemarau, Disnakkan juga mengimbau KPM memperhatikan kondisi kandang, terutama sirkulasi udara dan kecukupan air minum. Selain itu, ayam dapat diberi tambahan ramuan herbal untuk meningkatkan daya tahan tubuh. “Bisa diberikan empon-empon seperti kunyit yang dicampurkan pada minuman ayam,” terangnya. (irv/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana