RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM — Kasus suspek campak di Bojonegoro mulai bermunculan. Sejak Februari lalu, tercatat sudah ada 30 kasus yang didominasi anak usia dini. Temuan ini menjadi perhatian karena potensi penularannya yang tinggi.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro mencatat, sepanjang Januari hingga April 2026 terdapat 30 kasus suspek campak. Rinciannya, Januari nihil kasus, Februari 15 kasus, Maret 13 kasus, dan April sudah terdapat 2 kasus.
Kepala Dinkes Bojonegoro, Ninik Susmiati, mengatakan seluruh pasien berasal dari kelompok usia rentan, yakni anak-anak. Saat ini, mereka menjalani perawatan di rumah sakit.
“Semua dirawat di rumah sakit. Pasien berusia 2 sampai 7 tahun,” paparnya.
Menurutnya, pasien datang dengan dua pola, yakni melalui rujukan puskesmas maupun datang langsung ke rumah sakit. Seluruh kasus hingga kini masih berstatus suspek dan menunggu hasil pemeriksaan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Surabaya.
Baca Juga: Dinkes Temukan 30 Suspek Campak di Wilayah Bojonegoro, Tunggu Hasil Uji Laboratorium
Kemunculan kasus campak ini menunjukkan perlunya peningkatan kewaspadaan, terutama karena campak dikenal sebagai penyakit yang sangat mudah menular, khususnya pada anak dengan imunitas yang belum optimal.
Dokter spesialis anak, dr. Yulizar, Sp.A., menekankan pentingnya imunisasi sebagai langkah pencegahan utama. Ia mengingatkan orang tua untuk memastikan anak telah mendapatkan imunisasi campak secara lengkap sesuai jadwal.
Selain itu, kewaspadaan terhadap gejala juga perlu ditingkatkan. Campak umumnya diawali dengan demam tinggi, disertai batuk, pilek, mata merah, hingga muncul ruam pada kulit. Jika gejala tersebut muncul, anak disarankan segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.
Di tengah temuan suspek ini, orang tua juga diimbau membatasi aktivitas anak di tempat keramaian serta menjaga daya tahan tubuh melalui asupan gizi yang cukup.
“Tingkatkan asupan nutrisi anak agar tidak rentan terhadap penyakit,” ujarnya. (kam/zim)
Editor : Yuan Edo Ramadhana