RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Sebanyak 12 koperasi desa/kelurahan merah putih (KDMP) mulai beroperasi. Sementara itu, tak semua pengurus memahami alur kemitraan dan cara beroperasi. Was-was tumbang sebelum perang.
‘’Kadang ada miskomunikasi antara KDMP dengan dinas terkait. Karena menurut saya tidak semua KDMP mengerti alur yang benar dan bias berkoordinasi dengan pihak supplier misalnya link bulog (badan urusan logistik),” ujar Ketua Asosiasi KDMP Bojonegoro Sugianto, Senin (29/12).
Dia mengatakan, berdasar koordinasi dengan pengurus setidaknya ada 12 KDMP yang mulai beroperasi.
Di antaranya KDMP Sendangharjo, Kecamatan Ngasem di satu komoditi yakni berass stabilisasi pasokan harga pangan (SPHP) bulog; KDMP Sumberharjo, Kecamatan Sumberrejo pakan ayam petelur; dan KDMP Klampok, Kecamatan Kapas membuka gerai sembako, pertanian, alat tulis kantor (ATK), dan rencana gerai pos di Januari.
Kemudian, KDMP Plesungan, Kecamatan Kapas beroperasi di bidang gerai sembako, kemitraan dengan dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG), hingga menerima tabungan umrah dan haji; KDMP Tlogoagung, Kecamatan Baureno dan KDMP Campurejo, Kecamatan Kota yang juga membuka gerai sembako; dan KDMP Jetak, Kecamatan Kota membuka gerai sembako dan simpan pinjam.
Selanjutnya, KDMP Kedaton, Kecamatan Kapas di komoditi sembako; KDMP Sidobandung, Kecamatan Balen berjualan pupuk dan obat pertanian; KDMP Desa/Kecamatan Gayam membuka took sembako; KDMP Desa/Kecamatan Padangan membuka gerai sembako hingga distribusi elpiji 3 kg atau gas melon; dan KDMP Sroyo, Kecamatan kanor juga membuka gerai sembako.
Sugianto melanjutkan, pihaknya mendorong pengurus KDMP belajar membuka gerai dan Gudang.
Sebab, tak semua memahami alur atau caranya. Bahkan, kadang terjadi miskomunikasi dengan organisasi pemerintah daerah (OPD) terkait perihal data atau lainnya.
‘’Kadang mereka mementingkan buka dulu lupa lapor ke dinas. Tapi, ini persepsi pribadi,” ujarnya. (yna/msu)
Editor : Bhagas Dani Purwoko