RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Potensi keracunan makanan bergizi gratis (MBG) di Bojonegoro masih berpotensi terjadi lagi.
Meski, sekitar tujuh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah ditutup, karena diduga meracuni siswa.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro, dari 66 SPPG yang telah beroperasi dari total 124 SPPG belum ada yang mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) hingga Selasa (14/10).
Pemerintah sebelumnya menargetkan seluruh SPPG sudah memenuhi syarat sebelum akhir Oktober. Tujuannya menekan risiko keracunan makanan dalam pelaksanaan program MBG.
“Belum ada (bersertifikat), tapi banyak yang mengajukan pelatihan penjamah makanan,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bojonegoro Ninik Susmiati.
Menurutnya, pelatihan tersebut diajukan oleh masing-masing yayasan yang mendirikan SPPG. “Karena sertifikat pelatihan penjamah ini merupakan syarat mengajukan SLHS,” imbuh Ninik.
Ia menambahkan, pemenuhan SLHS menjadi bagian dari ketentuan Surat Edaran (SE) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Nomor HK.02.02/C.I/4202/2025 tentang penyelenggaraan SPPG pada Program MBG.
Sebelumnya, dinkes bersama instansi terkait telah melakukan penutupan dapur setelah terjadi kasus keracunan di tiga sekolah pada awal Oktober.
Berdasarkan data yang dihimpun, saat ini terdapat 124 SPPG di Bojonegoro. Dari jumlah tersebut, 66 SPPG telah beroperasi.
“Kurang lebih ada tujuh SPPG (ditutup), untuk keseluruhan langsung ke satgas (MBG),” terang Kapolres Bojonegoro AKBP Afrian Satya Permadi.
Pihak Polres juga melakukan pengambilan sampel makanan bersama Dinkes serta klarifikasi terhadap pengelola SPPG dan pihak sekolah. (dan/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana