RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Pemkab Bojonegoro mendata ulang jumlah embung di 28 kecamatan. Dari jumlah sebelumnya 530 titik, tinggal 433 titik, sehingga berkurang sekitar 97 embung.
Rencananya tahun ini pemkab akan membangun enam embung baru dan 17 embung dinormalisasi.
Kepala Bidang Air Baku Irigasi Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (DPU SDA) Kabupaten Bojonegoro Bungku Susilowati mengatakan, setelah diinventarisasi, Bojonegoro memiliki sebanyak 433 embung.
Jumlah tersebut berbeda dengan data pada 2024 lalu, yakni sebanyak 530 embung. Karena terdapat sejumlah embung yang berubah fungsi. Selain itu, ada dobel data ketika pencatatan.
‘’Membuat data embung berbeda dari tahun lalu,’’ ujarnya.
Bungku sapaannya melanjutkan, sebanyak enam embung baru akan dibangun tahun ini. Meliputi, pembangunan embung Desa Mlinjeng, Kecamatan Sumberrejo; embung Desa Duwel 1, Kecamatan Kedungadem; embung Desa Duwel 2, Kecamatan Kedungadem; embung Desa Kedungadem Kecamatan Kedungadem; embung Desa Ngaglik, Kecamatan Kasiman; dan Pembangunan Embung Desa Banjarejo, Kecamatan Padangan.
Selain pembangunan embung, juga dilakukan normalisasi terhadap 17 embung di Bojonegoro. Diantaranya, normalisasi embung Pilang Bango Desa Gayam, Kecamatan Gayam; embung Desa Sumbergede, Kecamatan Kepohbaru; embung Desa Kedungadem, Kecamatan Kedungadem; embung Kalicilik Desa Kauman, Kecamatan Baureno; embung Desa Pajeng, Kecamatan Gondang; dan embung Desa Teleng, Kecamatan Sumberrejo.
Selanjutnya, normalisasi embung Desa Sumberwangi, Kecamatan Kanor; embung Desa Wotan, Kecamatan Sumberrejo; embung Desa Gading, Kecamatan Tambakrejo; embung Desa Nganti 1, Kecamatan Ngraho; embung Desa Nganti 2, Kecamatan Ngraho; embung Desa Duwel, Kecamatan Kedungadem; embung Desa Ngaglik, Kecamatan Kasiman; embung Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem; embung Desa Wotanggare, Kecamatan Kalitidu; embung Desa Pomahan, Kecamatan Baureno; dan normalisasi embung Desa Megale, Kecamatan Kedungadem.
“Pada tahun ini, sebanyak enam embung baru yang akan dibangun. Sementara 17 embung bakal dinormalisasi karena mengalami sendimentasi,” bebernya.
Menurutnya, adanya embung berfungsi untuk menampung air sebagai antisipasi kekeringan di musim kemarau. Utamanya, untuk keperluan pengairan pertanian. Untuk pembangunan dan normalisasi embung baru merupakan pengajuan dari desa setempat. Kemudian, DPU SDA realisasikan.
“Harapannya, embung bisa bermanfaat bagi para petani saat musim kemarau,” pungkasnya. (ewi/msu)
Editor : Yuan Edo Ramadhana