BOJONEGORO, Radar Bojonegoro - Kasus HIV/AIDS baru selama 2021 alami kenaikan sekitar 30,3 persen dibanding 2020. Selama 2021, jumlah kasus sebanyak 133 orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Sedangkan pada 2020 total kasusnya 102 (ODHA). Sedangkan, 2021 dilaporkan tiga ODHA meninggal dunia. Sedangkan pada 2020 ada lima ODHA meninggal dunia.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro Whenny Dyah Prajanti menyampaikan, bahwa memang ada kenaikan kasus HIV/AIDS baru. Namun, deteksi dini cukup berjalan optimal. Sebab, dari 133 ODHA itu hanya lima orang dalam kondisi AIDS, sisanya 128 orang dalam kondisi HIV.
“Deteksi dini tetap dilaksanakan baik ibu hamil, orang dengan tuberkulosis (TB), orang dengan infeksi menular seksual (IMS), hepatitis B, dan populasi kunci. Sehingga sebisa mungkin terdeteksi saat masih dalam kondisi HIV,” ujarnya.
Karena ketika orang terinfeksi HIV tidak merasakan apapun pada tubuhnya apabila tidak tes HIV. Apabila penderita HIV itu tidak mendapat penanganan berupa terapi minum obat antiretroviral (ARV), dalam waktu selapan hingga sepuluh tahun penyakit HIV itu berubah menjadi AIDS. Ketika sudah AIDS, gejalanya akut dan mematikan.
Whenny menambahkan, layanan pengobatan HIV tahun ini akan dikembangkan menjadi delapan puskesmas dan satu rumah sakit. Namun, Whenny belum bisa membeberkan puskesmas mana saja, sebab masih menunggu surat keputusan (SK) bupati.
“Sebelumnya layanan pengobatan HIV di RSUD Sosodoro Djatikoesoemo, Puskesmas Kalitidu, dan Puskesmas Baureno. Tahun ini akan dikembangkan menjadi delapan puskesmas,” imbuhnya.
Editor : M. Yusuf Purwanto