RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Tradisi sedekah bumi di Desa Jiken, Kecamatan Jiken berlangsung meriah. Sedekah bumi yang dinamai sawuran itu menyedot antusiasme masyarakat.
Layaknya sedekah bumi pada umumnya, masyarakat di wilayah tersebut membuat gunungan hasil pertanian. Juga nasi berkatan yang dibungkus godong jati.
Gunungan itu dipikul warga. Diarak keliling kampung. Diiringi Barongan Blora. Diikuti warga sekitar.
Arak-arakan itu berhenti di bawah pohon besar di Lapangan Desa Jiken.
Baca Juga: Pemkab Blora Giatkan Program Sedekah Subuh dan Gastra Hingga ke Tingkat Desa
Gunungan-gununangan ditaruh di tempat yang telah disediakan. Lalu dikerumuni masyarakat. Sesepuh setempat kemudian memimpin doa. Memulai memanjatkan syukur.
Saat doa mulai dipanjatkan masyarakat tampak sudah tak sabar. Sebagian mulai mengambil hasil pertanian dan berkatan di gunungan.
Beberapa kali, bahkan, sesepuh setempat memperingatkan agar gunungan tak diambil sebelum doa selesai.
Begitu doa selesai dipanjatkan, warga berebut mengambil pernak-pernik di gunungan itu. Tak sekadar mengambil dan pergi, nasi berkat yang diambil dari gunungan dilempar ke warga lain.
Baca Juga: Pemkab Blora Luncurkan Program Sedekah Pohon
Tawa, jerit, dan teriakan pecah. Mereka tampak asyik saling lempar. Tak ayal, nasi berkatan dan hasil pertanian itu berhamburan.
Ketua Panitia Sedekah Bumi Muhammad Ngatmin menjelaskan, acara sedekah bumi itu wujud syukur. Karena warga diberi kesehatan, rejeki dan hasil panen bagus oleh bumi dan Allah.
"Dilaksanakan setahun sekali habis panen. Ini Alhamdulillah bersyukur sama Allah dikasih sehat, panjang umur, Alhamdulillah panen melimpah. Merasa senang bahagia. Jadinya bersyukur," ujarnya.
Menurutnya dalam gunungan yang diperebutkan warga itu berisi macam-macam hasil bumi. Mulai dari nasi berkatan, jajanan, hingga buah. "Yang jelas hasil bumi petani," bebernya.
Baca Juga: Beralih Tradisi, Sedekah Bumi Desa Lebaksari Diganti Kirim Doa Sesepuh Desa
Dalam sedekah bumi itu berbeda dengan wilayah lain. Lantaran ada sawuran. Hal ini wajib.
"Memang tradisi sawuran ini harus. Gak bisa kalau gak lempar-lemparan," imbuhnya.
Warga sekitar Enjel menjelaskan jika acara itu sangat menarik. Sehingga ia selalu melihat tiap tahun.
"Karena ada barongan dan lempar-lemparannya," bebernya.
Namun, ia tak ikut berebut gunungan. Takut jika berdesakan dan keinjak. "Senang lihat aja, tapi gak ikut ngeroyok dan lempar. Takut keinjak-injak," imbuhnya. (ozi/bgs)
Editor : Bhagas Dani Purwoko