RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pemkab Blora merestui langkah kepala SMPN 1 Blora, yakni memindahkan empat pelaku bullying ke lingkungan sekolah yang baru. Harapannya, dapat memperbaiki perilaku sebagai pelajar di Kabupaten Blora.
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Blora, Sunaryo mengaku telah menerima informasi terhadap langkah pihak sekolah melakukan pemindahan. Langkah itu atas persetujuan dari keluarga pelaku untuk memperbaiki perilaku siswa.
‘’Solusi kemarin kan begini, itu kesepakatan antar orang tua, jadi kalau proses hukumnya, syarat damai untuk kedua belah pihak kan minta untuk anak itu dimutasi,’’ terang Sunaryo.
Sunaryo mengaku tak mendukung pemindahan pelajar di lingkungan sekolah baru. Namun atas persetujuan kedua belah pihak, serta dengan tujuan yang baik. Pihaknya menginginkan keputusan yang diambil dapat sesuai harapan kedua belah pihak.
‘’Kami berharap tidak dimutasi, karena permintaan korban untuk dimutasi. Akhirnya, kepala sekolah kemarin dan orang tua sudah sampai titik temu,’’ imbuhnya.
Menurutnya, pemindahan pelajar di lingkungan sekolah yang baru dapat diambil sisi positifnya. Dia menilai, dari suasana baru di kondisi sekolah yang baru, nanti para pelajar bisa lebih baik.
‘’Harapannya begitu, kalau tetap di situ kan korban bisa tambah trauma. Jadi kita melihat sisi positifnya, mereka biar di habitat lingkungan baru, mungkin anak-anak itu bisa lebih baik lah,’’ harap Sunaryo.
Sementara itu, Kepala Dinsos P3A Blora, Luluk Kusuma Agung Ariadi mengungkapkan, pemindahan siswa di lingkungan sekolah baru, tetap menjadi perhatian Dinsos P3A. Bahkan pihaknya akan mendampingi pelaku tersebut dengan melibatkan psikolog.
‘’Meskipun dipindah sekolah nanti kita dampingi dan masuk dalam pantauan kami (Dinsos P3A). Jadi hak anak tetap didapatkan,’’ katanya.
Dia menegaskan, bila masih belum memiliki perubahan terhadap perilaku di lingkungan baru, maka akan diambil langkah untuk pemindahan di Sentra Antasena Magelang, Jawa Tengah.
‘’Kita sudah berkomunikasi dengan keluarga pelaku, setelah pindah dan perilaku tidak berubah, maka terpaksa kita ambil alih pindah di Sentra Antasena Magelang,’’ ujarnya
Menurutnya, Sentra Antasena adalah langkah terakhir. Sebab, Kementerian Sosial telah menyediakan tempat untuk anak-anak di luar kendali, dengan bekerjasama dengan TNI.
‘’Dari Blora pernah dikirim ke sana. Tapi hanya satu bulan karena perkembangan anak sudah membaik, baik dari kondisi psikologis anak hingga perilaku keseharian,’’ katanya.
Luluk menambahkan, untuk para orang tua pelajar yang terlibat bullying, agar fokus terhadap pencairan sekolah baru. Bahkan pihaknya menyarankan agar berkoordinasi dengan pihak dinas pendidikan bila menemukan kesulitan pemindahan anak.
‘’Sekarang fokus mencari sekolah untuk anak, nanti kalau ada kendala bisa berkomunikasi dengan dinas pendidikan,’’ pungkasnya. (hul/ind)
Editor : Yuan Edo Ramadhana