Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

196 Desa di Blora Alami Krisis Air Bersih, Diprediksi Kemarau Hingga November

Yuan Edo Ramadhana • Sabtu, 26 Oktober 2024 | 18:00 WIB

 

KEKERINGAN: Sumur mengering, warga Desa Jurangrejo, Kecamatan Bogorejo mengantre ambil air di sendang yang mulai menipis menggunakan jeriken. (M. LUKMAN HAKIM/RADAR BOJONEGORO)
KEKERINGAN: Sumur mengering, warga Desa Jurangrejo, Kecamatan Bogorejo mengantre ambil air di sendang yang mulai menipis menggunakan jeriken. (M. LUKMAN HAKIM/RADAR BOJONEGORO)

BLORA, Radar Bojonegoro - Kesulitan air bersih masih menjadi keresahan warga hingga Oktober ini. Dropping air bersih dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora tercatat di 196 desa dan jumlahnya masih bertambah.

Warga pun masih mengandalkan bantuan hingga membeli air untuk kebutuhan sehari-hari. Diprediksi musim kemarau terjadi hingga November. Seperti yang diungkapkan Eko Puji Darwanto, warga Desa Pengkolrejo, Kecamatan Japah, bahwa sumur di rumahnya masih belum mengeluarkan air.

Begitu juga sumur warga di desanya. Hingga Oktober ini, air bersih masih dibutuhkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari. ’’Warga masih sangat butuh air, masih berharap dapat bantuan dropping air,” ujarnya.

Eko mengaku, beberapa bantuan air bersih datang dari swasta dan calon bupati (cabup). Namun, masih belum mencukupi. Jika tidak ada bantuan, maka masyarakat harus membeli air bersih untuk digunakan mandi, cuci baju, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.

’’Biasanya membeli satu dam besar itu sekitar Rp 150 ribu. Bahkan, ada yang rela ngangsu di sumberan air desa tetangga,” ungkapnya.

Kepala Seksi (Kasi) Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Blora Abdul Mukhid menyampaikan, kekeringan masih melanda di 16 kecamatan. Dropping air bersih terus diusahakan dari pemkab dan pihak swasta.

Dari data yang direkapitulasi hingga Oktober ini sudah lebih dari 196 desa yang telah di-dropping air. ’’Kalau dari data awal 196 desa, tapi kelihatannya ini lebih dari itu,” jelasnya. Mukhid menjelaskan, beberapa kali hujan melanda, namun belum merata di semua wilayah.

Apabila dipantau berdasar prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kekeringan akan sampai pada November mendatang. ’’Kami masih dropping air kepada masyarakat, dengan mengandalkan anggaran dari APBD. Beberapa pihak swasta, relawan juga sangat membantu kebutuhan air bersih,” jelasnya. (luk/bgs)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kecamatan #air bersih #Desa #warga #BPBD Blora #prediksi #Sumberan #Dropping Air #Musim Kemarau #krisis #bantuan air bersih #Kemarau #bpbd #kasi #BMKG #Pemkab Blora #bpdb #Air #blora #Japah #kesulitan air bersih