Kepala Dinas Perindustrian dan Ketenagakerjaan (Dinperinaker) Blora Endro Budi Darmawan mengatakan peminat transmigrasi tahun ini tercatat ada 11 KK. Sedangkan kuota yang diberikan pemerintah pusat kepada daerah hanya 1 KK.
“ Mereka yang telah mendaftar nantinya akan diseleksi tim dari pemerintah provinsi. Berkas telah dikirim dan menunggu pengumuman,” ujarnya.
Endro memaparkan, rerata peminat transmigrasi merupakan warga Desa Temulus Kecamatan Randublatung. Terdapat 5 KK dari Randublatung dari 11 pendaftar itu. Sejak dulu kecamatan yang terletak di sebelah selatan tersebut banyak warga yang berkeinginan merantau. “Memang banyak peminat dari Randublatung, Bekerja keluar kota mencoba peruntungan. Beberapa yang telah ikut program transmigrasi sukses di tempat tujuannya,” terangnya.
Endra menambahkan, juga banyak warga yang ingin menjadi TKI. Namun, terkait jumlah warga yang menjadi TKI pihaknya tidak dapat memaparkan data. Sebab, di Blora tidak ada perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI). “Kalau TKI memang merata di semua kecamatan ada. Untuk data kami tidak dapat menjangkaunya karena di daerah tidak ada perusahaan PJTKI,” terangnya.
Kades Temulus Kecamatan Randublatung Suhartono membenarkan jika beberapa warganya telah mendaftar sebagai peserta transmigrasi. Pihaknya mengaku telah menyediakan uang pesangon jika warganya terpilih dan berangkat. “Kami mensuportnya. Dari desa juga telah siapkan pesangon sekitar Rp 5 juta kalau memang benar jadi, tapi kelihatnya agak ragu,” terangnya.
Keraguan itu menurutnya saat ada sosilisasi di keluarahan, bayangan warga jadi transmigran sudah dipenuhi segala fasilitas. Namun saat pegawai dari transmigrasi melakukan sosialisasi. Para transmigran harus berusaha. Sebab, rerata peminat transmigrasi berprofesi sebagai petani.
“Kemungkinan yang di bayangkan enak seperti zaman Suharto, tapi kan memang perlu usaha. Rerata yang ingin ikut program transmigrasi kesehariannya sebagai petani,” tuturnya.
Suhartono mengungkapkan, warga desanya sudah banyak yang menjadi transmigran. Yang jadi perantau juga banyak. Mereka mencoba peruntungan untuk kehidupan lebih sejahtera. Seperti di Sumatera, Kalimantan hingga Papua. Bahkan di Desa Temulus sudah ada grup medsos tersendiri untuk tetap berkomunikasi dan mengingat kampung halaman. “Ada grup whatsappnya sendiri, meraka yang ingin dan sudah menjadi transmigran atau pekerja diluar daerah, sebagai media komunikasi,” terangnya. (luk/zim) Editor : M. Yusuf Purwanto