KOTA – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Lamongan mendata pencari kerja terbanyak sepanjang 2017 lulusan SMA. Jumlahnya, 1.136 orang. Setelah itu, 928 orang lulusan SMP.
‘’Kita pantau memang tiap tahunnya masih didominasi lulusan pendidikan sembilan tahun sekolah,’’ tutur Kepala Disnakertrans Lamongan, M. Kamil, kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (21/2).
Dia mengatakan, masih tingginya lulusan SMA sebagai pemburu pekerjaan tak lepas dari beberapa faktor. Paling utama, faktor ekonomi.
Mayoritas di antara mereka terbentur biaya untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Hal itu yang membuat lulusan SMA langsung terjun di dunia pekerjaan.
‘’Minat yang masih rendah untuk melanjutkan ke jenjang lebih tinggi menjadi faktor lainnya,’’ imbuhnya.
Namun, menurut dia, ada pergeseran cukup signifikan untuk pencari kerja lulusan SD. Jumlahnya berkurang drastis. Berdasar catatan tahun lalu, lulusan SD hanya 184 orang.
Kamil menuturkan, masyarakat sudah menyadari lulusan SD sangat sulit masuk ke perusahaan. Minimal kualifikasi yang diserap itu lulusan SMA. Dia memerkirakan, lulusan SD dan SMP jumlahnya terus berkurang karena ersaingan ketat di dunia pekerjaan.
‘’Tentu cukup bagus. Karena masyarakat mulai terpacu untuk meraih pendidikan minimal kualifikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan,’’ katanya.
Kamil menambahkan, pencari kerja tak hanya didominasi pria. Berdasarkan datanya, ada 1.107 perempuan yang mencari pekerjaan. Sedangkan pencari pekerjaan pria terdata 1.693 orang.
‘’Itu juga menjadi pemicu jika persaingan di dunia pekerjaan makin ketat,’’ imbuhnya.
Sementara itu, Nisa’ul Barokati Seliro Wangi, pemerhati pendidikan di Lamongan, menuturkan, mindset wajib belajar sembilan tahun yang pernah diprogramkan pemerintah masih cukup melekat.
‘’Jadi masih ada persepsi yang melekat seolah-olah kewajibannya hanya menimba ilmu selama sembilan tahun,’’ katanya.
Padahal, menurut dia, di era sekarang yang sudah maju, seharusnya program tersebut diperbarui lagi. Sebab, di dunia kerja sekarang tak terlalu membutuhkan lulusan SMA. Peluangnya lebih besar masyarakat yang memiliki kualifikasi sarjana.
‘’Ya tetap membutuhkan lulusan SMA, tapi untuk skup-nya tidak sebanyak seperti dulu. Menurut saya mindset seperti itu sudah seharusnya dirubah,’’ imbuh dosen psikologi pendidikan di salah satu universitas swasta di Lamongan tersebut.
Selain itu, tutur dia, ada hal yang kadang luput dari perhatian. Lulusan sembilan tahun belajar yang disiapkan sebagai tenaga kerja itu, lulusan SMK. Sedangkan, lulusan SMA sebenarnya disiapkan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan perguruan tinggi.
‘’Nah, seharusnya bisa memilah. Anak-anak SMK dan SMA berapa persen, serta diberikan program khusus,’’ kata founder Guruku Hebat tersebut.
Namun, lanjut Nisa, tak bisa dipungkiri perekonomian kadang menjadi hambatan lulusan SMA untuk melanjutkan pendidikan. Nah, disitulah dibutuhkan sentuhan dari pemerintah daerah agar menjembatani lebih maksimal lulusan ke perguruan tinggi.
Editor : Bachtiar Febrianto