Oleh:
Choirul Anam
Ketua Badan Usaha Milik Ansor (BUMA) PC GP Ansor Bojonegoro
HUJAN turun sejak pagi, merintik di atap rumah bambu yang sudah mulai lapuk di bagian belakang. Anjar duduk di beranda dengan secangkir kopi hitam, menatap jalan tanah yang berubah menjadi kubangan. Ia baru pulang dari Surabaya setelah bekerja serabutan bertahun-tahun. Kini ia kembali ke kampung di Bojonegoro—tepatnya di perbatasan Gondang dan Temayang—kampung yang dulu begitu hijau, tapi kini terasa asing.
Di depannya, hutan yang dulu bagaikan dinding hijau raksasa kini seperti rambut orang tua: jarang, kusut, dan penuh celah. Ketika angin datang, suara yang dulu seperti orkestra dedaunan kini berubah menjadi gemerisik sayu.
“Apa kabar, Jang?” Suara bapaknya, Pak Rupa, memecah keheningan. Lelaki uzur itu masih dengan sarung kotak dan tongkat kayu yang setia menemaninya sejak ia jatuh di kebun dua tahun lalu.
“Baik, Pak. Tapi kampung kok berubah banget.”
Pak Rupa tertawa kecil, tapi matanya tidak ikut tertawa. “Yang berubah bukan kampung, Jang. Hutannya.”
Hening sejenak. Hanya suara hujan yang terdengar.
“Masih ingat banjir bandang tahun kemarin?” tanya Pak Rupa kemudian.
Tentu Anjar ingat. Di perantauan, ia melihat video yang viral: air cokelat bercampur batang pohon raksasa meluncur deras dari bukit Kandangan ke arah desa. Rumah-rumah terendam, jembatan putus, seorang petani hanyut dan ditemukan tiga hari kemudian. Ia tak menyangka kampung sekecil ini bisa mengalami bencana sebesar itu.
“Gara-gara itu hutan, Pak?”
“Apa lagi?” jawab Pak Rupa pelan. “Dulu, akar-akar pohon itu menahan air. Sekarang banyak yang ditebang. Ada yang buat ladang, ada yang buat kayu. Penduduk makin banyak butuh uang, juragan kayu makin banyak yang datang.”
Anjar mengangguk, meski hatinya berat. Ia salah satu pemuda yang dulu ikut menebang hutan demi uang jajan. Ketika kuliah tak lanjut dan kerja susah, ia ikut rombongan pembalak liar. Gergaji mesin adalah masa lalunya, meski ia tak pernah cerita kepada bapaknya.
Hari itu, hujan turun semakin deras. Sungai kecil di belakang rumah mulai meninggi. Anjar gelisah. Ia ingat betul pelajaran dari LSM lingkungan yang pernah datang ke kampung dulu: jika hujan tiga jam lebih dan air sungai naik cepat, warga harus waspada.
Dan benar saja. Menjelang sore, terdengar teriakan dari luar:
“Air naik! Air naik! Dari bukit!”
Anjar langsung berdiri. Pak Rupa mengangkat tongkatnya dengan susah payah.
“Pak, ndak usah ikut. Biar saya cek!” seru Anjar.
Tapi Pak Rupa bersikeras, “Rumah kita dekat sungai, Jang. Harus siap-siap.”
Mereka keluar. Jalan desa sudah penuh lumpur. Beberapa warga berlarian sambil membawa karung, dokumen, dan ayam yang berkokok panik. Dari kejauhan terdengar suara bergemuruh—seperti ratusan sepeda motor melaju bersamaan.
Itu bukan motor. Itu air.
Banjir bandang dari perbukitan.
Anjar dan warga berkumpul di balai desa, tempat yang paling tinggi. Anak-anak menangis, ibu-ibu panik mencari tahu keadaan rumah mereka. Pak Bayan berdiri di depan sambil membawa HT yang sinyalnya putus-nyambung.
“Air dari arah Temayang sudah lewat jembatan! Yang dari Gondang nyusul. Kita harus siap evakuasi!” katanya.
Anjar memandang bukit yang samar karena hujan. Kilatan petir sesekali memperlihatkan warna kecokelatan pada aliran sungai—tanda ada material kayu dan tanah tergerus.
“Kayu-kayu itu… pasti dari tebangan liar,” gumamnya pelan.
Pak Rupa menatap anaknya. “Kenapa diam?”
“Karena saya pernah jadi bagian dari itu, Pak…” jawab Anjar, suaranya pecah.
Pak Rupa memegang bahu anaknya. “Yang penting sekarang, kamu menebusnya dengan menjaga kampung ini.”
Belum sempat ia menjawab, suara gemuruh semakin dekat.
“Air datang lagi! Lebih besar!” teriak seseorang.
Warga serentak panik. Beberapa bapak mulai memindahkan barang ke loteng balai desa. Anak-anak dievakuasi ke bagian belakang yang lebih tinggi.
Anjar berlari ke depan balai desa, berusaha melihat situasi. Dan di situlah ia melihat benda mengapung di tengah arus: sebuah kandang kambing dan seorang bocah kecil yang berpegangan pada bagian kayunya.
“Anak siapa itu?!” Anjar berteriak.
Tak ada yang menjawab. Mungkin orang tuanya sedang menyelamatkan diri. Mungkin mereka tidak tahu.
Tanpa berpikir panjang, Anjar berlari ke pinggir sungai. Air setinggi pinggang mengalir deras, membawa batang-batang pohon.
“Jangan, Jang!” teriak seseorang.
Tapi Anjar sudah masuk ke air.
Arusnya kuat, seperti ribuan tangan menariknya ke bawah. Ia meraih batang pohon untuk menahan tubuhnya, lalu melompat ke arah kandang yang terombang-ambing.
“Pegangan yang kuat!” jeritnya.
Bocah itu menangis ketakutan, wajahnya pucat. Anjar mengangkat tubuhnya ke pangkuan dan berusaha melawan arus. Tapi air datang semakin cepat, membawa lumpur dan kayu-kayu besar. Anjar terhantam sepotong kayu di bahu, membuatnya hampir terlepas dari pegangan.
“Pak Rupa! Tali!” teriak warga.
Sekelompok orang muncul di tepi sungai, membawa tali panjang. Pak Rupa sendiri yang melemparkan ujung tali itu dengan tangan gemetar.
“Tangkap, Jang!”
Tali itu jatuh satu meter dari Anjar. Arus terus membawa mereka. Dengan sisa tenaga, ia melompat ke depan dan menangkap tali itu.
“Tarik!” teriaknya.
Beberapa pemuda menarik sekuat tenaga. Arus mencoba memenangkan pertarungan, tapi tali itu lebih kuat. Perlahan-lahan, kandang dan tubuh mereka tertarik ke pinggir.
Begitu mendekat, dua pemuda langsung mengangkat bocah itu. Anjar sendiri terkulai lemas, wajahnya penuh lumpur dan luka.
Pak Rupa memeluknya. “Kamu gila, Jang…”
Anjar terbatuk. “Bukan gila, Pak. Saya cuma… menebus masa lalu.”
Banjir berlangsung sampai tengah malam, tapi perlahan surut. Paginya, desa berubah seperti lautan lumpur. Pohon tumbang berserakan, rumah-rumah rusak, dan warga bekerja membersihkan sisa bencana.
Anjar memandang bukit. Ada bekas tanah longsor yang panjang seperti luka terbuka. Dan di tengah-tengahnya, batang-batang pohon besar berserakan.
“Seperti Sumut, Sumbar, Aceh…” gumamnya. Beberapa hari lalu ia membaca berita banjir bandang di sana—sama polanya: hutan rusak, hujan lebat, bencana datang tanpa kompromi.
Pak Bayan datang menghampiri. “Jang, terima kasih semalam. Kalau bukan kamu, anak itu mungkin sudah hanyut.”
Anjar tersenyum lemah. “Saya cuma melakukan apa yang harus dilakukan.”
“Mulai minggu depan, kita akan adakan kerja bakti. Reboisasi di bukit. Kami butuh orang-orang muda yang paham hutan. Kamu mau terlibat?”
Anjar menatap bukit lagi. Kali ini tidak ada rasa bersalah, hanya tekad yang baru tumbuh.
“Saya mau, Pak. Malah saya yang akan mulai duluan.”
Pak Bayan menepuk pundaknya. “Bagus. Kita harus mulai dari kampung sendiri.”
*
Beberapa minggu kemudian, Anjar memutuskan tinggal di kampung. Ia membentuk kelompok kecil anak muda yang belajar ekoliterasi: memetakan mata air, menanam bibit pohon keras, dan memantau titik rawan longsor. Mereka belajar dari banyak sumber: buku Capra, cerita kearifan lokal, bahkan pengalaman pahit desa sendiri.
Suatu hari, Anjar dan Pak Rupa berjalan menuju bukit membawa bibit trembesi.
“Pak,” kata Anjar sambil memperbaiki topinya, “Bapak pernah marah pada saya dulu? Waktu saya masih ikut-ikutan tebang hutan?”
Pak Rupa tersenyum. “Marah. Tapi saya juga percaya kamu akan kembali ke jalan yang benar. Alam itu sabar, tapi bukan berarti tidak memberi pelajaran.”
Anjar tertawa kecil. “Saya sudah dapat banyak pelajaran, Pak.”
“Yang penting,” lanjut Pak Rupa, “kita jangan tutup telinga dari suara hutan. Ia mungkin tidak bisa bicara, tapi selalu memberi tanda. Dan kita harus dengar sebelum ia benar-benar hilang.”
Mereka berhenti di tanah lapang yang dulunya rimbun. Anjar menanam bibit pertama, sementara matahari sore memancar hangat di sela awan.
“Semoga nanti anak-anak kampung masih bisa mendengar desir angin seperti dulu,” katanya.
Pak Rupa mengangguk.
“Kalau kita jaga hari ini, desir itu tak akan hilang.”
Dan di sanalah, di bukit yang pernah menjadi saksi bencana, sebuah harapan baru mulai tumbuh—pelan, tapi pasti. Seperti sebuah hutan yang ingin memulihkan dirinya kembali.
Lemahbang, 1 Desember 2025
Editor : Yuan Edo Ramadhana