BLORA, Radar Bojonegoro - Komunitas film di Blora bernama Red House Art Lab gelar pemutaran film alternatif. Sebagai bentuk satire tak adanya fasilitas pemutaran film semacam bioskop. Para sineas lokasi itu menggelar pemutaran film secara bergilir di beberapa coffee shop Blora.
Konsep layaknya bioskop dengan tema kontemporer. Penonton bisa menikmati film di ruang dua kali dua meter dengan tinggi tiga meter.
Pantauan Jawa Pos Radar Bojonegoro, ruang itu dibuat dengan kain hitam. Layaknya sebuah bilik. Dibuat minimalis. Sehingga, penonton bisa intim menikmati film. Hanya menyediakan dua hingga tiga kursi.
Sehingga, penonton terhindar dari gangguan sekitar. Salah satu sutradara film sekaligus pegiat gerakan itu Krisna Bayu komunitasnya itu bernama Bios Box.
’’Bentuknya bioskop mini. Terkesan eksklusif, menjadikan Bios Box daya tarik tersendiri. Lahir karena ingin memberikan ruang alternatif bagi para pencinta film dan sekaligus pembuatfi lm,” ujarnya.
Ide awalnya dimulai dari kegelisahan para pegiat film di Red House yang merasa tak mendapatkan fasilitas dari pemerintah untuk pemutaran film. Terlebih, di Blora belum ada bioskop. ‘’Di sini tak ada ruang putar. Daripada kegelisahan itu kami munculkan lewat makian, mending buat ruang.
Sehingga, muncul ide ini,” katanya saat ditemui di Cafe 39 Blora, Kamis lalu (28/12). Ia dan rekan-rekannya pun mengusung tema kontemporer, sederhana, dan minimalis. Tak hanya menyediakan ruang putar film dan mempertemukannya dengan penonton. Tetapi juga memfasilitasi ruang interaksi. Antara programmer film dan penonton. Sesuatu yang terbilang langka. ’’Yang diputar film-film dari Blora dan Semarang,” jelasnya.
Baca Juga: Film Buya Hamka, Jurnalis, dan Pembredelan Koran
Lima film diputar di antaranya berjudul Pandemi karya Farhan Setiawan,Meja Makan karya Wisnu Chandra, Kencan Pertama karya Hazan Faisal, Seperti Ikan Hidup di Darat Salas Anggobil, danBait Terakhirkarya Krisna Bayu. ’’Ini sudah dua kali jalan. Pertama di Omah Talang Bocor. Semoga ini tetap berlanjut,” imbuhnya.
Adanya pemutaran film secara bergilir itu, ia berharap bisa terus berjalan secara rutin. Harapannya, tercipta iklim dan ekosistem perfilman di Blora. ’’Dua kali jalan respons masyarakat bagus. Banyak apresiasi. Aku gak nyebut ini gerakan pertama. Tapi, kami seperti melahirkan kembali pemutaran alternatif di Blora,” tuturnya.
Terlebih, masyarakat Blora sejauh ini selalu kesulitan ketika hendak menonton film. Sehingga, hadirnya Bios Box seperti pelipur lara di tengah kegelisahan.
Ana seorang warga Kecamatan Jati yang turut menikmati pemutaran film itu merasa senang. Menurutnya, hal tersebut tak terbayang bisa dinikmati di Blora. ’’Tadi menonton film Bait Terakhir dengan teman. Mantap, pesannya sangat menyentuh,” pungkasnya. (hul/bgs)
Editor : Yuan Edo Ramadhana