BOJONEGORO, Radar Bojonegoro — Tingkat sumber daya manusia (SDM) memengaruhi kesuksesan peternakan di Bojonegoro. Selama ini, beternak rerata hanya dilakukan orang tua dengan tingkat pendidikan rendah.
Diperlukan para milenial dengan ilmu dan pemikiran lebih terbuka untuk kemajuan peternakan di Bojonegoro. Sehingga, pemerintah harus mendorong para pemuda agar tertarik dalam dunia peternakan.
Dosen Politeknik Pertanian dan Peternakan Mapena Tuban Awaludin Ridwan mengatakan, kurang maksimalnya pengelolaan peternakan di Bojonegoro juga disebabkan oleh SDM.
Para peternak di Bojonegoro rerata masih lulusan SD. Sehingga ketika menerima masukan atau ilmu baru kurang bisa beradaptasi. Mereka terpatok pada ilmu terdahulu, ujarnya.
Menurut Ridwan, salah satu cara memajukan peternakan di Bojonegoro dengan cara memunculkan peternak milenial. Dengan begitu, peternak akan melakukan pembaruan-pembaruan. Termasuk dalam berbisnis.
Kebanyakan peternak saat ini ilmunya hanya sampai pada budidaya saja. Tidak sampai pada berbisnis, tambahnya.
Dia melanjutkan, untuk mendorong daya tarik milenial di bidang peternakan. Pemerintah harus turun tangan. Misalnya, seperti insentif untuk pengusaha muda bergerak di bidang peternakan.
Bisa dikasih pelatihan dan penghargaan. Nantinya akan bisa menumbuhkan semangat para peternak muda. Kalau milenial mau belajar, pasti bisa, ujarnya.
Sri Puji milenial asal Desa Buntalan, Kecamatan Temayang menyatakan, tidak ingin menjadi peternak karena beberapa hal. Di antaranya, tidak memiliki modal, tidak memiliki lahan untuk kandang, dan kesusahan dalam mengelola limbah peternakan.
Mengurus makhluk hidup juga susah. Belum lagi kalau terkena wabah, bisa langsung bangkrut, katanya pesimis.
Wahyu milenial asal Desa/Kecamatan Temayang menambahkan, untuk menjadi peternak butuh modal banyak. Selain itu, membutuhkan lahan. Dua faktor utama itu belum ada sekarang, ujarnya. (ewi/msu)
Editor : M. Yusuf Purwanto