RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Persoalan anak tidak sekolah (ATS) di Bojonegoro terus menjadi perhatian berbagai pihak. Setelah Jawa Pos Radar Bojonegoro menggelar Focus Group Discussion (FGD) tentang pencegahan dan penanganan ATS pada Selasa (21/7), Giri Foundation kembali mengangkat isu tersebut dalam FGD yang digelar di East Java Super Corridor (EJSC) Bakorwil Bojonegoro, Kamis (24/7).
Dalam forum tersebut, Giri Foundation memaparkan hasil riset yang menunjukkan adanya korelasi kuat dan hubungan timbal balik antara anak tidak sekolah dengan tingginya permohonan dispensasi kawin (diska). Temuan itu dinilai menjadi dasar penting untuk merumuskan langkah pencegahan dan penanganan kedua persoalan tersebut secara bersamaan.
Direktur Giri Foundation, Rian Adi Kurniawan, mengatakan hasil penelitian menunjukkan anak yang tidak bersekolah, terutama perempuan, lebih rentan dinikahkan pada usia dini. Menurutnya, ketika anak tidak lagi mengenyam pendidikan, mereka cenderung tidak memiliki aktivitas yang produktif sehingga dianggap siap untuk menikah.
"Ketika memiliki suami, ada yang mendidik dan membimbing. Di sisi lain, beban keluarga dianggap selesai," ujarnya.
Baca Juga: Refleksi HAN 2026: ATS di Bojonegoro Butuh Keterampilan
Rian menjelaskan, riset tersebut juga menemukan bahwa perkawinan anak hampir selalu berujung pada terhentinya pendidikan. Anak yang telah menikah umumnya sulit kembali menempuh pendidikan formal karena akses pendidikan terputus, yang pada akhirnya turut berdampak terhadap kondisi ekonomi keluarga.
"ATS dan dispensasi kawin memiliki korelasi, tetapi bukan hubungan sebab-akibat secara langsung," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Bojonegoro, Anwar Mukhtadlo, mengungkapkan hasil sementara verifikasi dan validasi terhadap 4.745 data ATS menunjukkan beragam penyebab anak tidak bersekolah.
Sebanyak 649 anak diketahui telah bekerja, 406 anak melanjutkan pendidikan di pondok pesantren, 298 anak memilih tidak bersekolah, 226 anak telah menikah atau mengurus rumah tangga, 176 anak pindah domisili, 125 anak telah lulus SMA atau sederajat, 113 anak terkendala masalah kesehatan atau merupakan penyandang disabilitas, 102 anak terkendala biaya pendidikan, 97 anak merasa pendidikan yang dimiliki sudah cukup, 91 anak bukan penduduk desa setempat, 68 anak telah kembali bersekolah, dan 66 anak tidak ditemukan.
Baca Juga: Refleksi HAN 2026: ATS Jadi PR Prioritas Pemkab Bojonegoro
Selain itu, terdapat sejumlah kasus lain, seperti anak yang telah meninggal dunia, mengundurkan diri dari sekolah, melanjutkan pendidikan ke luar negeri, terpengaruh lingkungan, hingga tidak memiliki akta kelahiran.
"Masih ada 1.320 data ATS yang belum selesai dilakukan verifikasi dan validasi," katanya.
Sebagai upaya menarik kembali anak ke bangku sekolah, Disdik Bojonegoro mengusulkan program bantuan perlengkapan sekolah dalam Perubahan APBD mendatang. Bantuan tersebut meliputi tas, seragam, sepatu, hingga alat tulis.
"Harapannya, bantuan ini dapat menjadi pemantik agar anak-anak yang tidak sekolah kembali mengikuti pendidikan formal," jelasnya. (irv/zim)
Editor : Farhan Reza Ardiansyah