Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

SKB Blora Satukan Siswa di Kelas Reguler, Tidak Buka Kelas Khusus Demi Pembelajaran Inklusif

Rahul Oscarra Duta • Kamis, 16 April 2026 | 08:30 WIB
DIMINATI: Salah satu SKB di Blora yang siswanya banyak.
DIMINATI: Salah satu SKB di Blora yang siswanya banyak.

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Tak ada kelas khusus bagi siswa disabilitas di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Blora. Mereka belajar bersama peserta didik lain dalam satu ruang yang sama. Model ini menjadi wujud komitmen penerapan pendidikan inklusi di lembaga tersebut.

Sedikitnya sepuluh siswa penyandang disabilitas tercatat mengikuti program kejar paket, mulai Paket A hingga Paket C. Mereka terdiri dari berbagai kondisi, seperti speech delay, autisme, Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), hingga gangguan penglihatan.

Kepala SKB Blora Jumini mengatakan, seluruh peserta didik diperlakukan setara tanpa perbedaan dalam proses belajar.

“Semua ikut satu kelas yang sama dengan yang lain. Tidak ada perbedaan dalam pembelajaran,” ujarnya.

Penerapan inklusi juga dilakukan sejak tingkat PAUD. Untuk memastikan penanganan tepat, SKB berkoordinasi dengan puskesmas dan rumah sakit. Pendampingan medis diserahkan kepada tenaga profesional, sementara SKB fokus pada stimulasi belajar.

Baca Juga: Kenalkan Anak-Anak Kesenian Wayang Krucil, Bupati Blora Arief Rohman Dorong Regenerasi

Setiap penerimaan peserta didik baru, pihaknya melakukan observasi awal untuk memahami kondisi anak. Orang tua juga dilibatkan dalam proses pendampingan, termasuk evaluasi perkembangan yang dilakukan rutin setiap tahun.

“Dari sisi fasilitas, beberapa ruang kelas telah dilengkapi guiding block untuk membantu siswa tunanetra mengakses ruang belajar,” jelasnya.

Meski demikian, tantangan masih dihadapi. Jumini menyebut mayoritas siswa disabilitas didominasi penyandang disleksia. Bahkan, ada siswa setingkat kelas 8 yang belum bisa membaca, serta siswa kelas 12 yang masih mengeja.

Pihaknya terus mendorong para pendidik untuk sabar dalam mendampingi siswa. Selain itu, peserta didik juga diberi motivasi agar tetap semangat dan memiliki keterampilan yang berguna di masa depan.

“Yang penting mereka tidak menyerah dan tetap punya bekal keterampilan,” pungkasnya. (hul/ind)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kelas khusus #disabilitas #Pendidikan #skb #Siswa