Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Anak Gampang Marah? Kenali 3 Tipe Temperamen Anak dan Cara Bijak Menghadapinya

Hakam Alghivari • Senin, 26 Mei 2025 | 13:55 WIB
Ilustrasi temperamen anak yang harus dipahami orang tua
Ilustrasi temperamen anak yang harus dipahami orang tua

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Pernahkah anak Anda tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas? Atau menolak melakukan sesuatu padahal sebelumnya tidak pernah ada masalah? Bisa jadi, hal tersebut berkaitan dengan temperamen anak. Menurut psikolog Nadya Pramesrani, seperti dikutip dari laman Parentalk, temperamen adalah cara anak mengekspresikan dirinya terhadap lingkungan sekitar. Setiap anak memiliki temperamen yang berbeda, dan perbedaan ini sangat memengaruhi bagaimana mereka merespons situasi sehari-hari.

Temperamen merupakan bagian dari kepribadian yang sudah tampak sejak bayi. Sifat ini bersifat bawaan dan tidak bisa diubah, tetapi bisa dilatih dan diarahkan. Dengan memahami temperamen anak, orang tua dapat lebih bijak dalam menghadapi berbagai perilaku anak tanpa harus memarahi atau memaksanya.

Tiga Tipe Temperamen Anak

Secara umum, temperamen anak terbagi menjadi tiga tipe utama:

1. Slow to Warm Up

Anak dengan tipe ini biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk beradaptasi terhadap hal-hal baru. Mereka cenderung pendiam, pemalu, dan tidak langsung bereaksi dalam situasi baru. Misalnya, ketika pertama kali diajarkan makan makanan baru, mereka mungkin akan menolak. Namun penolakan tersebut bukan berarti tidak suka, melainkan mereka butuh waktu untuk mengenali dan menyesuaikan diri. Dalam hal ini, kesabaran orang tua sangat diperlukan untuk mendampingi proses adaptasi tersebut.

2. Feisty Child atau Active Child

Anak dengan tipe ini dikenal aktif, ekspresif, dan penuh semangat. Sering kali mereka dianggap ‘sulit diatur’ karena emosinya yang meledak-ledak dan sulit dikendalikan. Sejak bayi pun tanda-tandanya sudah terlihat, seperti tidak memiliki pola menyusu yang teratur dan sering menangis keras saat keinginannya tidak terpenuhi. Meski terlihat menantang, anak dengan temperamen ini bukanlah anak nakal, melainkan anak yang punya energi dan emosi tinggi yang perlu diarahkan dengan tepat.

3. Easy Child

Tipe ini adalah anak yang relatif mudah diasuh. Mereka mampu mengontrol emosi, mudah beradaptasi, dan jarang menunjukkan perilaku yang sulit. Meski terlihat lebih “mudah”, anak dengan temperamen seperti ini tetap memerlukan bimbingan. Orang tua tetap perlu menetapkan batasan agar anak belajar memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Jika tidak diarahkan dengan baik, anak bisa tumbuh menjadi pribadi yang terlalu pasif atau tidak memahami batasan sosial.

Cara Menghadapi Anak dengan Berbagai Tipe Temperamen

Menghadapi anak dengan karakter temperamen yang berbeda tentu memerlukan pendekatan yang tepat. Berikut tiga cara yang bisa diterapkan orang tua agar lebih memahami dan menghadapi anak tanpa drama:

1. Mengenali Karakter dan Dimensi Temperamen Anak

Langkah awal yang penting adalah mengenali tipe temperamen anak. Setiap anak memiliki kombinasi dari beberapa dimensi temperamen, seperti:

Masing-masing dimensi memiliki tingkat intensitas yang berbeda-beda. Dengan mengenali pola ini, orang tua bisa menentukan cara pendekatan terbaik terhadap anak. Penting dipahami bahwa temperamen tidak bisa diubah, tetapi intensitasnya bisa dilatih secara bertahap. Latihan ini harus dilakukan dengan penuh kesabaran dan tanpa paksaan agar anak tetap merasa nyaman.

2. Mengenali Temperamen Diri Sendiri sebagai Orang Tua

Sering kali, konflik antara orang tua dan anak bukan hanya soal anak yang sulit diatur, tetapi juga karena perbedaan temperamen. Orang tua yang memahami temperamennya sendiri akan lebih siap dalam menghadapi reaksi anak. Jika orang tua dan anak memiliki tipe temperamen yang sama, komunikasi cenderung lebih mudah. Namun jika berbeda, orang tualah yang harus berinisiatif untuk menyesuaikan pendekatan. Tujuannya adalah menciptakan hubungan yang lebih hangat dan saling memahami.

3. Peka terhadap Kondisi dan Kebutuhan Anak

Saat anak menunjukkan perilaku seperti tantrum atau menolak perintah, orang tua sebaiknya tidak langsung terpancing emosi. Tantrum bisa jadi merupakan bentuk ekspresi anak yang belum mampu menyampaikan perasaannya dengan kata-kata. Di sinilah kepekaan orang tua diuji. Dengan menjadi lebih peka, orang tua dapat mengantisipasi kebutuhan dan memahami reaksi anak dengan lebih baik. Anak yang merasa dipahami akan lebih terbuka dan lebih mudah diarahkan.

Memahami temperamen anak bukanlah pekerjaan instan, tetapi proses yang membutuhkan perhatian, kesabaran, dan empati. Setiap anak unik, dan pendekatan yang berhasil pada satu anak belum tentu berhasil pada anak lain. Dengan mengenali karakter anak, memahami diri sendiri, dan peka terhadap kebutuhan mereka, orang tua dapat menciptakan hubungan yang harmonis dan membimbing anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan sehat secara emosional. (oss/mgg)

Editor : Hakam Alghivari
#kebutuhan #temperamen #anak #karakter #kepribadian #orang tua #marah #Bayi