Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Belajar Parenting dari Skandinavia: 11 Tips Mendidik Anak dengan Cinta, Kejujuran, dan Kebebasan

Hakam Alghivari • Selasa, 13 Mei 2025 | 13:50 WIB

 

ilustrasi anak yang dibiarkan bereksplorasi oleh orang tua
ilustrasi anak yang dibiarkan bereksplorasi oleh orang tua

 

RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Setiap orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya, mulai dari kebutuhan dasar hingga pola asuh yang membentuk karakter dan masa depan anak. Di tengah banyaknya metode parenting yang berkembang di dunia, negara-negara Skandinavia kerap menjadi sorotan sebagai wilayah dengan gaya pengasuhan anak terbaik. Negara-negara seperti Swedia, Norwegia, Denmark, Finlandia, dan Islandia dikenal memiliki pendekatan yang unik, progresif, dan penuh cinta terhadap anak-anak mereka.

 

Melansir dari laman The Asian Parent, pada tahun 2017, Swedia dinobatkan sebagai negara terbaik di dunia untuk membesarkan anak. Keberhasilan ini tentu bukan datang begitu saja, melainkan karena prinsip-prinsip parenting yang diterapkan secara konsisten oleh masyarakat dan didukung oleh kebijakan pemerintah yang ramah anak. Berikut ini adalah 11 prinsip gaya parenting ala Skandinavia yang bisa menjadi inspirasi bagi orangtua di mana pun berada.

 

1. Tidak Membedakan Gender

 

Di Skandinavia, kesetaraan gender adalah hal yang sangat dijunjung tinggi. Anak laki-laki dan perempuan diajarkan bahwa mereka memiliki hak dan tanggung jawab yang sama. Bahkan dalam budaya sehari-hari, para orangtua cenderung tidak mengungkapkan jenis kelamin bayi mereka melalui acara khusus seperti gender reveal. Hal ini bertujuan agar anak tidak dibatasi oleh stereotip gender sejak dini.

 Baca Juga: Mom, Ini Batas Aman Anak Bermain Gadget dan Cara Efektif Mengaturnya!

2. Anak Kotor Itu Tidak Masalah

 

Orangtua Skandinavia percaya bahwa membiarkan anak bermain bebas di alam terbuka sangat penting untuk perkembangan fisik dan emosional mereka. Mereka tidak khawatir jika anak berguling di lumpur atau pulang dengan pakaian penuh noda. Bagi mereka, anak kotor bukan berarti anak nakal, melainkan anak yang sedang belajar dan tumbuh.

 

3. Tidak Menggunakan Kekerasan

 

Dalam hukum negara-negara Skandinavia, memukul atau menggunakan bentuk kekerasan fisik apa pun untuk mendisiplinkan anak adalah tindakan yang melanggar hukum. Orangtua yang melakukannya bisa dikenai sanksi, bahkan dipenjara. Sebagai gantinya, mereka menggunakan pendekatan komunikasi dan pengertian untuk membimbing perilaku anak.

 

4. Tidak Terburu-Buru Menyekolahkan Anak

 

Pendidikan formal di Skandinavia baru dimulai saat anak berusia 7 tahun. Sebelum itu, anak-anak lebih difokuskan untuk bermain, bersosialisasi, dan mengenal dunia secara alami. Mereka percaya bahwa tekanan belajar di usia dini bisa menghambat kreativitas dan kebebasan berpikir anak.

 Baca Juga: Pahami Konsep Father Hunger dan Dampaknya Pada Anak, Luka Psikologis dari Sosok Ayah yang Tidak Hadir

5. Membebaskan Penggunaan Gadget

 

Orangtua di Skandinavia cenderung lebih fleksibel dalam mengatur screen time. Selama anak tetap aktif bermain di luar dan menjalani kegiatan seimbang, penggunaan gadget bukan menjadi masalah besar. Anak juga diajarkan untuk bertanggung jawab atas waktu yang mereka habiskan di depan layar melalui kesepakatan bersama dengan orangtua.

 

6. Fokus pada Hal Positif

 

Alih-alih menyoroti kesalahan, orangtua Skandinavia lebih memilih untuk memberi perhatian pada hal-hal positif yang dilakukan anak. Ketika anak melakukan kesalahan, pendekatan yang digunakan adalah diskusi, refleksi, dan pemahaman, bukan hukuman atau kritik keras.

 

7. Jujur Kepada Anak

 

Salah satu nilai penting dalam pengasuhan anak di Skandinavia adalah kejujuran. Orangtua tidak segan menjawab pertanyaan sulit dari anak dengan jujur dan terbuka. Cara ini membangun hubungan yang kuat antara orangtua dan anak karena dilandasi rasa percaya dan keterbukaan.

 Baca Juga: Kampus Lokal Sambut Baik Rencana Pendirian PSDKU UNY di Wilayah Blora, Klaim Siap Bersaing

8. Mendorong Anak Mengeksplorasi Alam

 

Kedekatan dengan alam menjadi salah satu elemen penting dalam kehidupan anak-anak Skandinavia. Mereka terbiasa bermain di hutan, salju, dan taman tanpa terlalu dibatasi soal kebersihan pakaian. Eksplorasi alam dianggap lebih penting daripada menjaga baju tetap bersih.

 

9. Tidak Memberi Label Negatif

 

Pernyataan seperti “anak nakal” atau “anak malas” hampir tidak pernah digunakan oleh orangtua di Skandinavia. Mereka percaya bahwa memberi label negatif pada anak akan memengaruhi kepercayaan diri dan perkembangan kepribadian anak secara jangka panjang.

 

10. Memberi Waktu Anak untuk Melakukan Hal yang Mereka Sukai

 

Sekolah di Skandinavia biasanya selesai lebih awal, sekitar pukul dua siang. Setelah itu, anak-anak bebas melakukan kegiatan yang mereka sukai, seperti bermain, menggambar, membaca, atau sekadar bersantai. Kebebasan ini memberi ruang bagi anak untuk mengembangkan minat dan kreativitasnya.

 

11. Membiasakan Anak Mandiri Sejak Kecil

 

Orangtua di Skandinavia membiarkan anak belajar mandiri sejak usia dini. Mereka percaya bahwa kemandirian akan membuat anak lebih percaya diri, bertanggung jawab, dan siap menghadapi kehidupan. Anak diberi kesempatan untuk belajar dari kesalahan tanpa terlalu banyak campur tangan dari orangtua.

Editor : Hakam Alghivari
#Sosial #Skandinavia #swedia #kejujuran #pola asuh #parenting anak #Emosional