RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM – Selama beberapa tahun terakhir, industri otomotif berlomba menghadirkan interior mobil yang semakin modern dan futuristis. Dasbor penuh tombol perlahan mulai ditinggalkan, digantikan layar sentuh besar yang mengatur hampir seluruh fungsi kendaraan.
Mulai dari pengaturan AC, audio, navigasi, hingga mode berkendara kini dipusatkan dalam satu sistem digital. Semakin sedikit tombol fisik, semakin modern pula citra sebuah mobil.
Baca Juga: Bye Bye Layar Besar, Kini Tombol Fisik di Dashboard Mobil Justru Mulai Kembali ke Model Baru
Namun di balik tampilannya yang canggih, muncul satu pertanyaan yang mulai ramai dibahas: apakah layar sentuh benar-benar lebih aman digunakan saat berkendara?
Ternyata jawabannya tidak sesederhana itu.
Sejumlah produsen mobil global kini mulai kembali menghadirkan tombol fisik untuk fungsi-fungsi penting kendaraan. Bahkan beberapa lembaga keselamatan mulai menyoroti penggunaan touchscreen yang dinilai dapat mengganggu konsentrasi pengemudi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi modern tidak selalu berarti lebih praktis ataupun lebih aman.
Pengemudi Harus Terlalu Sering Melihat Layar
Salah satu alasan utama tombol fisik dinilai lebih aman adalah karena cara manusia berinteraksi dengan kendaraan saat sedang bergerak.
Ketika menggunakan tombol konvensional, pengemudi biasanya tidak perlu terlalu lama mengalihkan pandangan dari jalan. Posisi tombol dapat dikenali melalui sentuhan dan kebiasaan tangan atau yang sering disebut muscle memory.
Misalnya saat ingin:
-
mengecilkan volume audio
-
mengatur suhu AC
-
menyalakan defogger
-
atau mengganti arah hembusan angin
pengemudi cukup meraba tombol tanpa harus melihatnya secara terus-menerus.
Hal berbeda terjadi pada layar sentuh.
Karena seluruh kontrol berbentuk ikon digital di permukaan datar, pengemudi harus memastikan posisi sentuhan tepat dengan melihat layar terlebih dahulu. Dalam banyak kasus, pengguna juga harus membuka beberapa menu tambahan hanya untuk mengakses fungsi sederhana.
Di sinilah distraksi mulai muncul.
Meski terlihat sepele, mengalihkan perhatian selama beberapa detik saat mobil melaju dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama di jalan padat atau saat kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi.
Layar Sentuh Dinilai Kurang Ergonomis
Masalah lain yang mulai banyak dikritik adalah aspek ergonomi.
Produsen mobil selama ini terlalu fokus menghadirkan tampilan kabin minimalis dan modern. Akibatnya, banyak fungsi dasar kendaraan justru menjadi lebih rumit digunakan.
Tidak sedikit pengemudi mengeluhkan pengaturan AC yang harus dilakukan lewat beberapa lapisan menu touchscreen. Padahal sebelumnya fungsi tersebut bisa diakses hanya dengan satu putaran kenop fisik.
Baca Juga: Kabar Gembira! Beli Kendaraan Listrik di Indonesia Kini Bebas Pajak? Cek Aturan Baru 2026
Dalam kondisi jalan bergelombang, penggunaan layar sentuh juga dinilai kurang nyaman karena jari lebih sulit menekan titik yang tepat dibanding tombol biasa.
Karena itu, sejumlah desainer otomotif mulai menyadari bahwa interior kendaraan tidak hanya harus terlihat futuristis, tetapi juga harus mudah digunakan tanpa mengganggu fokus berkendara.
Lembaga Keselamatan Mulai Soroti Touchscreen
Kritik terhadap layar sentuh di mobil ternyata bukan hanya datang dari konsumen.
Euro NCAP, lembaga pengujian keselamatan kendaraan di Eropa, mulai mendorong produsen agar tetap mempertahankan tombol fisik untuk fungsi-fungsi penting kendaraan.
Beberapa kontrol dasar seperti:
-
lampu hazard
-
klakson
-
wiper
-
hingga fitur darurat tertentu
dinilai lebih aman jika menggunakan tombol konvensional dibanding sepenuhnya dipindahkan ke layar digital.
Baca Juga: Mobil Listrik Tiba-tiba Mogok? Jangan Keburu Panik, Ternyata Ini Biang Keroknya!
Pendekatan ini muncul karena keselamatan berkendara kini kembali menjadi perhatian utama di tengah tren mobil serba digital.
Industri otomotif mulai memahami bahwa teknologi seharusnya membantu pengemudi, bukan justru membuat perhatian mereka lebih mudah terpecah saat berada di jalan.
Produsen Mobil Kini Mulai Cari Keseimbangan
Fenomena tersebut membuat arah desain interior mobil perlahan berubah.
Jika beberapa tahun lalu tren otomotif cenderung menghilangkan seluruh tombol fisik demi kesan modern, kini banyak produsen mulai mencari titik tengah antara teknologi digital dan kemudahan penggunaan.
Layar sentuh memang tetap dipertahankan karena menawarkan fleksibilitas fitur dan tampilan yang lebih modern. Namun untuk fungsi-fungsi yang sering digunakan saat berkendara, tombol fisik mulai kembali dianggap penting.
Banyak pabrikan kini menyadari bahwa pengalaman pengguna tidak hanya ditentukan oleh ukuran layar atau kecanggihan software, tetapi juga oleh seberapa mudah kendaraan digunakan dalam situasi nyata sehari-hari.
Semakin Modern Belum Tentu Semakin Aman
Perubahan tren ini menunjukkan satu hal menarik dalam industri otomotif modern: tidak semua teknologi baru otomatis lebih baik untuk pengemudi.
Layar sentuh memang membuat interior mobil terlihat lebih bersih dan futuristis. Tetapi ketika seluruh fungsi kendaraan dipindahkan ke sistem digital, pengalaman berkendara justru bisa menjadi lebih rumit dan mengurangi fokus pengemudi.
Karena itu, tombol fisik yang sempat dianggap kuno kini perlahan mulai mendapatkan tempatnya kembali.
Di tengah era kendaraan serba digital, industri otomotif tampaknya mulai menyadari bahwa teknologi terbaik bukan hanya soal tampilan paling modern, tetapi juga soal bagaimana pengemudi tetap merasa aman dan nyaman saat berada di balik kemudi. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari