Oleh: SUPRAPTO ESTEDE
Dosen STIEKIA
Tahun Baru Hijriah selalu menghadirkan kesempatan untuk memulai lembaran baru. Namun, makna hijrah tidak hanya berbicara tentang perubahan spiritual, melainkan juga perubahan cara berpikir dan cara menjalani kehidupan. Salah satu hijrah yang sangat dibutuhkan masyarakat saat ini adalah berpindah dari budaya konsumtif menuju budaya produktif.
Di era digital, godaan untuk berbelanja semakin mudah. Diskon, promosi, dan berbagai kemudahan pembayaran membuat banyak orang membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan karena keinginan.
Baca Juga: Alarm Bencana Ekologis Dimulai dari Bojonegoro Selatan
Tidak sedikit keluarga yang penghasilannya habis untuk memenuhi gaya hidup, sementara tabungan, investasi, dan dana pendidikan justru terabaikan. Akibatnya, banyak yang bekerja keras, namun tetap merasa kekurangan.
Semangat hijrah mengajarkan bahwa setiap perubahan harus dimulai dari kesadaran. Harta dalam pandangan Islam bukan sekadar alat untuk dinikmati. Harta adalah amanah yang harus dikelola dengan bijaksana. Rezeki yang diperoleh melalui kerja keras hendaknya menjadi sarana untuk membangun kehidupan yang lebih baik, membantu sesama, serta mempersiapkan masa depan keluarga.
Budaya produktif dimulai dari kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Membeli barang yang bermanfaat tentu bukan masalah, tetapi menjadikan konsumsi sebagai ukuran kebahagiaan justru akan menimbulkan perlombaan tanpa akhir. Makin tinggi penghasilan, semakin tinggi pula pengeluaran jika tidak disertai pengendalian diri. Di sinilah hijrah mental menjadi sangat penting.
Baca Juga: Di Bawah Bayang-Bayang Dolar
Perubahan berikutnya adalah membangun etos kerja yang lebih baik. Hijrah berarti meninggalkan kemalasan menuju semangat berkarya, meninggalkan sikap pasif menuju kreativitas, serta meninggalkan budaya instan menuju budaya proses. Islam menghargai setiap usaha yang dilakukan dengan jujur dan sungguh-sungguh. Bekerja bukan hanya untuk mencari nafkah, melainkan juga menjadi bentuk ibadah dan pengabdian kepada Allah sekaligus pelayanan kepada masyarakat.
Etos kerja yang baik akan melahirkan produktivitas, inovasi, dan daya saing. Individu yang produktif tidak hanya bertanya apa yang bisa diterima, tetapi juga apa yang bisa diberikan. Mereka melihat setiap tantangan sebagai peluang untuk belajar, menciptakan nilai tambah, dan membuka manfaat bagi orang lain. Dari pribadi-pribadi seperti inilah lahir masyarakat yang mandiri dan tangguh.
Semangat hijrah juga perlu diwujudkan dalam membangun kemandirian ekonomi umat. Potensi umat Islam sangat besar, baik dari sisi jumlah penduduk, sumber daya manusia, maupun kekuatan sosial. Namun, potensi tersebut hanya akan menjadi angka jika tidak diiringi budaya menabung, berinvestasi secara bijak, mengembangkan usaha, serta memperkuat kolaborasi ekonomi.
Kemandirian ekonomi tidak selalu dimulai dari modal besar. Ia bisa lahir dari kebiasaan sederhana seperti: mencatat pengeluaran, menyisihkan sebagian penghasilan, meningkatkan keterampilan, mendukung produk lokal, dan berani memulai usaha kecil. Langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan menghasilkan perubahan besar bagi keluarga dan masyarakat.
Baca Juga: Opini: Beda Jokowi-Prabowo di Awal Menjabat
Momentum Tahun Baru Hijriah menjadi saat yang tepat untuk melakukan evaluasi. Sudahkah penghasilan kita menghasilkan manfaat yang lebih luas? Sudahkah pekerjaan kita dilakukan dengan penuh tanggung jawab? Sudahkah kita mempersiapkan masa depan melalui kebiasaan produktif, bukan sekadar konsumtif? Pertanyaan-pertanyaan ini jauh lebih penting daripada sekadar membuat resolusi yang cepat dilupakan.
Hijrah sejati bukan sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Dalam makna yang lebih luas, hijrah adalah juga berpindah dari pola hidup yang menghabiskan menjadi pola hidup yang menghasilkan, dari budaya bergantung menjadi budaya mandiri, dan dari orientasi sesaat menuju keberkahan jangka panjang. Ketika setiap individu mulai mengelola keuangan dengan bijak, bekerja dengan integritas, dan membangun kemandirian ekonomi, maka semangat hijrah di samping mengubah diri sendiri, juga akan menjadi fondasi lahirnya umat yang kuat, sejahtera, dan bermartabat.
Editor : Hakam Alghivari