
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah terus menguat. Sebaliknya, rupiah masih belum mampu keluar dari tekanan. Dampaknya langsung terasa pada kehidupan sehari-hari.
Harga berbagai barang ikut naik. Jajanan di pinggir jalan seperti tempe goreng, martabak, hingga aneka makanan berbahan tepung pun ikut terdampak. Pedagang terpaksa menaikkan harga karena biaya produksi membengkak.
Penyebabnya sederhana. Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor. Kedelai, misalnya, sebagian besar masih didatangkan dari luar negeri dan dibayar menggunakan dolar AS.
Begitu pula gandum sebagai bahan baku tepung terigu. Tanaman ini belum dapat diproduksi secara memadai di Indonesia, padahal konsumsi produk berbasis terigu terus meningkat dari tahun ke tahun.
Di sinilah letak keistimewaan dolar AS. Tidak ada mata uang lain yang memiliki posisi sekuat dolar dalam perdagangan internasional. Dolar menjadi mata uang utama untuk transaksi lintas negara. Termasuk perdagangan minyak dunia.
Hampir seluruh negara pengekspor minyak menetapkan harga minyaknya dalam dolar AS. Arab Saudi misalnya, hanya menjual minyaknya menggunakan dolar. Bukan mata uang nasionalnya, riyal.
Melalui sistem yang selama puluhan tahun dikenal sebagai petrodollar, negara-negara yang ingin membeli minyak Saudi harus memiliki cadangan dolar.
Akibatnya, permintaan terhadap dolar terus tinggi. Selama minyak dunia dan perdagangan internasional masih menggunakan dolar, posisi mata uang AS akan tetap sangat kuat. Maka, tidak perlu heran jika dolar terus menguat.
Karena itu, bisa dikatakan bahwa "produk" paling berpengaruh yang pernah dihasilkan Amerika Serikat bukanlah kapal induk, senjata nuklir, ataupun kecanggihan teknologinya. Melainkan mata uang dolar.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




