Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Korupsi, Kemiskinan dan Kematian

Muhammad Suaeb • Minggu, 19 April 2026 | 09:30 WIB
Ilustrasi korupsi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)
Ilustrasi korupsi (AINUR OCHIEM/RDR.BJN)

 

Oleh:
Muhammad Abadi
Penulis Lepas perantau dari Kota Banyuwangi, Jawa Timur

 

Di era digital atau di era kebebasan demokrasi ataupun juga di era budaya permissif atau budaya serba-boleh hari ini dan akan datang terjadilah apa yang disebut sebagai budaya koruosi yang mengakibatkan kemiskinan dan kematian ibarat setali tiga uang atau ibarat “tabrakan karambol” yang viral sehari-hari di media sosial. Di lapangan masyarakat memang fenomena ini kerap terjadi sebagai konsekuensi logis dari budaya korupsi di tanah air kita sehari-hari. Merebaknya budaya korupsi mengakibatkan merebaknya kemiskinan dan merebaknya kematian di wilayah NKRI selama ini. Semua warga NKRI tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghadapi budaya korupsi, kemiskinan dan kematian ini. Mereka hanya bisa bergerak dan bergerak setiap harinya di seluruh jalanan dari pusat hingga daerah.

Fenomena semua warga NKRI yang lapar dan haus untuk keluar rumah dan berada di jalanan setiap harinya merupakan sebuah akibat dari adanya budaya korupsi yang telah menggurita atau sangat masssif di seantero wilayah NKRI saat ini dan akan datang. Adanya kejenuhan dan kebosanan yang melanda pikiran dan jiwa semua warga NKRI untuk keluar rumah merupakan konsekuensi logis dari berita-berita yang viral di media sosial selama ini. Mereka lebih nyaman dan enak leluasa berjalan-jalan keluar rumahnya masing-masing karena di dalam rumah mereka merasa jenuh dan bosan. Semua ini memang hukum alam yang terjadi atau sunatullah. Massifnya korupsi mengakibatkan massifnya kemiskinan dan massifnya kematian.

Tidak ada satu pun dari kita semuanya untuk memberantas budaya korupsi itu sendiri dari pemimpin hingga rakyat jelata. Memang, jika kita kembalikan kepada agama semuanya ini merupakan sebuah takdir, kehendak dan kuasa-Nya Allah SWT. Adanya sistem yang seringkali kita salahkan selama ini pun tidak ada satu pun dari kita untuk merubah sistem itu sendiri. Semuanya ibarat lingkaran setan yang selalu saja berputar-putar tanpa ada ujungnya. Akhirnya, mari kita nikmati saja hidup ini dengan aturan yang telah diberikan oleh Allah SWT dan Rasulullah Nabi Muhammad SAW. Perbanyaklah ibadah sholat, perbanyaknya sedekah dan perbanyaklah mengaji membaca Kitab Suci Al-Quran. Dan juga tetaplah bersyukur kepada Allah SWT dan tetaplah bersabar kepada Allah SWT.

Baca Juga: Opini: Tuhan Versus Manusia

Fenomena di masyarakat kita hari ini dan akan datang adalah sebuah fenomena nafsi-nafsi atau sendiri-sendiri tanpa ada lagi kepedulian dari mereka yang sendirian. Semuanya serba sendiri. Inilah potret wajah tanah air kita Indonesia Raya hari ini. Seakan-akan pikiran dan hati kita sudah lama mati tanpa ada lagi hati nurani yang bicara dan hidup. Sangat kasihan melihat ibu pertiwi saat ini dan akan datang. Ibu pertiwi sedang menangis hari ini dan akan datang meratapi semua anak bangsa yang telah susah payah dan menderita akibat ulah dan tingkah para koruptor yang mengakibatkan kemiskinan massif dan kematian massif. Maka, tetaplah berbuat kebaikan untuk sesama anak bangsa. Tetaplah mencintai ibu pertiwi tanah air kita Indonesia Raya.

Jalan masih pajang. Bendera Merah Putih dan tanah air kita akan hidup abadi untuk selama-lamanya. Maka, marilah kita berdoa kepada Allah SWT Tuhan Pencipta Alam Semesta agar semua warga NKRI di manapun berada diberikan kekuatan ketangguhan dan semesta alam Indonesia Raya diberikan perlindungan dari ancaman dan marabahaya. Semoga semua warga NKRI diberikan kebahagiaan lahir dan batin serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Semoga bangsa besar ini akan terus melangkah dan bertumbuh ibarat terbitnya Sang Surya setiap harinya untuk selamanya.

Maka, mari kita bersama-sama saling dukung mendukung untuk berbuat kebaikan dan tetaplah berempati kepada sesama. Allah SWT cukuplah sebagai saksi dari apa yang akan kita perbuat di dunia di muka bumi ini. Langit dan dunia muka bumi adalah milik Allah SWT, bukan milik manusia. Semoga kita tetap diberi rahmat oleh Allah SWT. Semoga! Allahu Alam Bish-Shawab! (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kemiskinan #kematian #Korupsi #Ekonomi #nkri