Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Menakar Potensi Akal Imitasi

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 21 September 2025 | 16:30 WIB
AI di Smartphone.
AI di Smartphone.

 

Oleh:
Nono Warnono
Pegiat pendidikan, bahasa, sastra dan sosial budaya di PSJB

 

Lompatan kemajuan teknologi menyertai dinamika kehidupan global yang melaju cepat mempengaruhi peradaban manusia di muka bumi. Bagaimanapun kecanggihan ini adalah era dimana mendayagunakan teknologi adalah sebuah keniscayaan meski dampak yang didapatkan tidak hanya positif, namun ada pula pengaruh negatif manakala kita tak mengelola dengan baik dan bijaksana secara kondisional.

Betapa salah satu lompatan teknologi dimksud adalah antusiasme di hampir semua negara di dunia tentang hadirnya akal imitasi (artificial intelligence/AI). Puluhan bahkan ratusan triliyun anggaran telah diinvestasikan untuk mengembangkannya dalam berbagai dimensi kehidupan oleh negara-negara maju semacam Amerika, China, Perancis dan negara maju lainnya.

Revolusi akal imitasi telah memasuki babak baru yang menjanjikan sekaligus mengkhawatirkan. CEO Open AI, Sam Altman menyatakan, teknologi AI kini tidak hanya mampu menggantikan peran tenaga kerja tingkat awal tetapi juga mulai menyamai kapasitas intelektual setara lulusan doktoral.

AI kini setara dengan programer top dunia. Mampu mencetak skor tertinggi di kompetisi matematika tersulit. Pernyataan tersebut juga memantik kekhawatiran akan hilangnya peluang kerja bagi lulusan baru (sarjana). Kecanggihan AI juga sangat berpotensi menjadi sarana melakukan penipuan di berbagai dimensi kehidupan. Tidak hanya menyasar orang biasa namun  juga dapat menyasar para intelektual bahkan elit politik. Sebut saja para anggota parlemen Malaysia dan Singapura yang baru-baru ini terkena tipu milyaran tersebab kiriman video pornografi yang dibuat dengan kecanggihan AI. (Jawa Pos, Rabu 17 September 2025)

Tak ketinggalan pemerintah Indonesia memandang urgensi potensi teknologi akal imitasi didayagunakan untuk pembangunan di berbagai bidang. Salah satunya adalah pendayagunaan AI dalam konteks pendidikan agama dan tantangannya.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, menyatakan bahwa kemajuan teknologi harus tetap sejalan dengan karakter, moralitas, dan identitas bangsa. Ini diniscayakan karena jangan sampai kemajuan tehnologi dapat menghancurkan kepribadian masyarakat Indonesia terutama di bidang pendidikan dan kehidupan beragama yang menjadi jalan menyelamatkan manusia di kehidupan dunia dan akhirat.

Dalam hal ini, Kemenko berkelindan dengan kementerian di bawahnya telah membentuk Gugus Tugas AI, yang bertugas menyusun regulasi terkait penggunaan dan pembuatan ekosistem AI di Indonesia. Memiliki kerangka kerja AI for All, AI for Many, dan AI for Few. Memperjuangkan human centerd AI.

Bimakna, manusia Indonesia disemua lapisan harus menggunakan AI secara bijak dan cerdas. Tujuan lainnya adalah, pemanfaatan AI turut memperkuat kedaulatan data dan memperkuat narasi kebudayaan nasional. Urgen menciptakan prakondisi untuk menjaga nilai-nilai kebudayaan Nasional, jangan sampai kemajuan teknologi AI menjadikan manusia Indonesia tercerabut dari akar budayanya.

Mensikapi eksistensi AI dengan bijak menjadi penting untuk mengembangkan AI Agent yang dikonstruksi berdasarkan data, pengalaman, dan cara berfikir bangsa sendiri. Postur era digiatal yang AI nya terkonstruksi selaras kebutuhan masyarakat Indonesia yang berkepribadian menjadi sebuah keharusan.

Seperti disebut di atas, bahwa kehadiran AI membawa dampak yang positif sekaligus negatif. Berdampak positif manakala kita mengelola dengan bijak, pun membawa dampak negatif manakala penggunaannya didasari ambisi dan keserakahan manusia.

Sebagai sebuah potensi tentu penggunaan AI dalam dinamika peradaban manusia akan sangat strategis. Sehingga akselerasi berbagai dimensi kehidupan dapat segera direalisasikan. Salah satu potensi di bidang agama adalah, AI dinilai memiliki peluang besar untuk memperluas akses terhadap pembelajaran Al-Quran, mengembangkan sistem koreksi tajwid, menyatukan kitab kitab hadits dalam basis data terpadu, hingga menghadirkan kurikulum yang adaptif sesuai kebutuhan pembelajaran.

Namun sekali lagi yang menjadi problem besar adalah tantangan yang menyertainya.  Tantangan tersebut bisa berupa penyalahgunaan AI untuk kejahatan penipuan, hoks, narasi kebencian dan sejenisnya.

Wa bakdu, dalam konteks ini penggunaan AI harus diiringi dengan kontrol etis dan pengawasan para guru atau ulama secara serius dan istiqamah. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#kecerdasan buatan #indonesia #akal imitasi #teknologi #Matematika #artificial intelligence #pembangunan #Investasi #pemerintah indonesia #Penyalahgunaan AI #programer #ai