Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Tanggapan Opini: Sugeng Rawoh, Dialek Bojonegaran?

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 20 April 2025 | 22:14 WIB
Ilustrasi (Ainur Ochiem/RDR.BJN)
Ilustrasi (Ainur Ochiem/RDR.BJN)

 

Oleh:
Nono Warnono
Ketua Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB)
Tanggapan atas tulisan Agus Ari Afandi

 

Membaca opini berjudul "Sugeng Rawoh, Medhayoh" tulisan Sdr. Agus Ari Afandi di Radar Bojonegoro (Minggu, 13/4/2025), ada sesuatu nan menarik yang penting didiskusikan secara intens. Bukan mengulik substansi opini nan menyebut banner bertuliskan "Sugeng Rawuh, Medhayoh" sebagai ikhtiar menumbuhkembangkan kearifan lokal. Aprsiasi disanjungkan untuk ikhtiar pemerintah daerah dalam menyambut warganya yang mudik lebaran dari perantauan.

Dalam konteks ini yang menarik untuk dibincang adalah penulisan "Sugeng Rawuh, Medhayoh" dalam opini dimaksud. Penulisan pada benner yang disebut dalam tulisan opini tersebut sejatinya sudah sesuai dengan struktur tata bahasa Jawa standar (baku). Namun menjadi multitafsir pun tidak standar ketika dalam judul opini penulisnya mengganti dengan "Sugeng Rawoh, Medhayoh". Kosa kata "Rawoh" dalam kamus dan struktur bahasa Jawa baku lazim ditulis "Rawuh" (datang/hadir). "Sugeng Rawuh, Medhayoh" bermakna “Selamat Datang, Bertamu”. Mananakala kata "Rawuh" ditulis "Rawoh" dalam sebuah struktur kalimat menjadi nir makna. Jika dibaca persuku kata "Ra-woh" berarti dalam bahasa Jawa bermakna "tidak berbuah"

Salah kaprah (salah dianggap benar) dalam penulisan tersebut hanya salah satu contoh. Betapa banyak tulisan di tengah masyarakat umum, lembaga sekolah, komunitas, bahkan instansi pemerintah yang sering salah kaprah dalam menulis semboyan, tagline, hingga visi-misi. Semisal: "Mari teman, membangun desa" acap ditulis "Ayo konco, mbangun deso"(salah kaprah). Penulisan baku saharusnya, “Ayo kanca, mbangun desa", dengan menggunakan vokal “a” bukan “o”.

Celakanya untuk menulis "istri saya sakit" dalam bahasa Jawa ditulis "bojoku loro" (istri saya dua), seharusnya ditulis "bojoku lara" (istri saya sakit). Orang juga sering tidak bisa membedakan "alon-alon" (pelan-pelan), dengan "alun-alun" (lapangan untuk bermain).

Beberapa diksi dalam opini tersebut oleh redaktur sudah ditandai dengan ditulis miring, yang menunjukkan istilah atau kosa kata asing/ belum jelas maknanya dalam bahasa Indonesia. Dengan ditulis miring ini sudah sesuai dengan kaidah menulis dengan baik dan benar, untuk mendapatkan konfirmasi makna sesungguhnya.

Menjadi menarik didiskudikan, karena bisa jadi, atau jangan-jangan, kata "Rawoh" tersebut bukan berasal dari bahasa Jawa baku (Mataraman), tapi lebih sebagai kemunculan (jawa: ketrocoban) kosa kata baru dalam dialek lokal Bojonegaran (orang sering menyebut Bojonegoroan atau Jonegoroan).  Karena fenomena tumbuhkembangnya kosa kata tersebut bukan hal yang mustahil, karena bahasa itu dinamis bukan sesuatu yang statis. Bahasa terus berkebang sesuai dengan perkembangan jaman.

Namun pertanyaan yang mengemuka adalah, apakah penulisan "Rawuh" menjadi "Rawoh" itu salah kaprah bahkan ketidakfahaman, atau memang sudah menjadi diksi baru dalam dialek Bojonegaran? Betapa ketika kosa kata muncul menjadi sebuah dialek mensyaratkan kosa kata tersebut telah dipakai masyarakat secara massif saat berkomunikasi.

Etnis Jawa Bojonegoro  selama ini memang sudah lazim bertutur dengan dialek tersendiri yang berbeda dengan dialek lain seperti dialek Osing (Banyuwani), dialek Arek (Surabaya dan sekitarnya), dialek Ngapak (Banyumas Jawa Tengah), bahkan bahasa baku Jawa Mataraman. Sudah lazim masyarakat Bojonegoro mengucapkan hurup vocal  "u" menjadi huruf vocal "o". Semisal: embuh (emboh), abuh (aboh), waluh (waloh) dan sejenisnya. Ada juga kata ganti empunya "mu" menjadi "nem". Nggonmu (nggonem/wekem), omonganmu (omonganem/jengkeranem), dan lain sebagainya.

Terkait dengan dialek Bojonegoroan, sesungguhnya komunitas sastra Pamarsudi Sastra Jawi Bojonegoro (PSJB) yang secara intens melestarikan bahasa Jawa, sudah memiliki kamus kecik (kamus mini) terkait dengan dialek Bojonegaran. Kamus yang disusun  untuk menambah wawasan dalam berkomunikasi dengan dialek Bojonegaran, terutama dalam sastra tulis selain sastra lisan.

Dus sebagai sebuah kekayaan non benda budaya masyarakat Bojonegoro, dialek Bojonegaran sebagai kearifan lokal (local genius) penting ditumbuhkembangkan. Kekhususan dalam komunikasi tersebut memang sering menjadi ledekan (bahan tertawaan) ketika berinteraksi denga orang di daerah lain.Dialek bahasa Bojonegaran yang “medhok” niscaya tetap dilestarikan bukan dimatikan meski jaman mengalami lompatan peradaban.

Namun dalam  perspektif menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar butuh kehati-hatian, meminjam bahasa daerah, bahasa Jawa misalnya, harus berhati-hati mengimplementasikannya. Agar tidak salah kaprah sehingga multitafsir bahkan menyesatkan makna.

Sungguh urgen menerapkan bahasa tutur dan bahasa tulis dialek Bojonegaran secara masif terutama di media masa, lembaga sekolah, medsos, terlebih di lingkungan pemerintahan yang meniscayakan penggunakan bahasa yang standar. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#banner #Medhayoh #diksi #dialek #Budaya #bahasa #Salah kaprah #tata bahasa #opini #bojonegoro #kearifan lokal #Sugeng Rawuh #Multitafsir #bahasa jawa