Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Opini: Piala AFF Bukan Piala Chiki

Yuan Edo Ramadhana • Minggu, 22 Desember 2024 | 23:00 WIB
Meskipun dapat duduk di puncak klasemen, Indonesia menanggung banyak kerugian setelah ditahan imbang 3-3 oleh Laos. (Dok. ANTARA/Mohammad Ayudha)
Meskipun dapat duduk di puncak klasemen, Indonesia menanggung banyak kerugian setelah ditahan imbang 3-3 oleh Laos. (Dok. ANTARA/Mohammad Ayudha)

 

Oleh:
Prima Trisna Aji

 

DENGAN lolosnya Timnas Indonesia pada babak ronde ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 membuat euphoria penggemar Sepak Bola di negara Indonesia memasuki fase puncak mimpi.

Bahkan dalam ajang 4 tahunan tersebut Timnas Indonesia tidak pernah sekalipun lolos ke babak Ronde ketiga babak Kualifikasi Piala Dunia.

Selama era tahun 1990 – 2000 an, target lolos Piala Dunia bagi Timnas Indonesia hanyalah sebatas mimpi belaka. Apalagi lolos Piala Dunia, bisa lolos Piala Asia saja timnas Indonesia harus ngos – ngosan. Masa era kegelapan Timnas Indonesia memuncak setelah terjadi aksi dualisme kepengurusan antara PSSI La Nyalla Mattaliti dan Johar Arifin.

Bahkan akibat imbas keegoisan pengurus PSSI pada masa itu, peringkat Timnas Indonesia harus melorot hampir mendekati peringkat 200. Ditambah Timnas Indonesia harus menjadi bulan – bulanan Timnas Bahrain dilibas dengan skor 10 – 0.

Kini dengan lolosnya Timnas Indonesia dibabak ketiga Kualifikasi Piala Dunia ini membuat euphoria penggemar Timnas Indonesia menjadi lebih optimis. Hal ini bertambah dengan kemenangan Timnas Indonesia atas Timnas Arab Saudi di Stadion GBK Jakarta. Dimana selama Sejarah selama Indonesia berdiri, Timnas Indonesia tidak pernah bisa sekalipun bisa mengalahkan Timnas Arab Saudi yang berpedikat sebagai langganan Piala Dunia tersebut.

Karena euphoria yang sangat tinggi, maka banyak penggemar Timnas Indonesia yang menganggap Piala AFF ASEAN Cup sebagai Piala Chiki adalah hanya sekedar Piala mainan. Hal ini didukung sering gagalnya Timnas Indonesia menjuarai Piala AFF tersebut karena factor non tekhnis.

Persepsi anggapan Piala AFF ASEAN Cup sebagai Piala Chiki, didukung dengan kebijakan Ketua PSSI Erick Thohir yang menganggap Piala AFF ASEAN Cup bukanlah prioritas. Bahkan Erick Thohir menyampaikan dalam konfrensi persnya bahwa Timnas Indonesia akan berfokus dalam ajang Ronde 3 Piala Dunia 2024 daripada focus di Piala AFF ASEAN Cup 2024. Erick Thohir kala itu sepakat dengan Pelatih Timnas Indonesia Shin Tae Yong untuk menurunkan timnas U-22.

Bagi saya Piala AFF ASEAN Cup bukanlah Piala Chiki meskipun dengan banyaknya kontroversial yang terjadi. Ketika Timnas Indonesia bertanding, maka Timnas Indonesia membawa serta mewakili nama negara yang harus diperjuangkan.

Tidak ada salahnya juga PSSI memberikan target bisa menjuarai Piala AFF ASEAN Cup karena selama ini Timnas Indonesia tidak pernah bisa menjuarai Piala AFF. Dengan Timnas Indonesia bisa menjuarai Piala AFF maka akan membuat komentar negative diluar sana menjadi bungkam.

Dan yang penting adalah nama besar Timnas Indonesia di Kawasan Asia Tenggara menjadi sempurna. Tidak ada salahnya Timnas Indonesia bisa menyempurnakan target lolos Piala Asia, Lolos Piala Dunia dan menjuarai Piala AFF ASEAN Cup. Jangan sampai Piala AFF ASEAN Cup disebut Piala Chiki oleh public Indonesia karena kefrustasian Indonesia yang selalu gagal menjuarai Piala AFF ASEAN Cup. Tunjukkan pada dunia bahwa Timnas Indonesia juga bisa menjuarai Piala AFF ASEAN Cup senior.

Disisi lain dengan kegagalan di Piala AFF besok, Banyak public yang beranggapan bahwa Ketua PSSI Erick Thohir ingin mendatangkan Pelatih dari Eropa yang cocok dengan gaya permainan Timnas Indonesia yang saat ini banyak dihuni pemain diaspora dari Eropa.

Menurut saya, apabila kebijakan penggantian pelatih Timnas Indonesia ditengah kompetisi kualifikasi Piala Dunia 2026 sedang berjalan sangat berbahaya naik jangka pendek ataupun jangka Panjang. Mengapa? Dikarenakan banyak contoh Timnas yang mengganti Pelatih dari Eropa ditengah Tournament membuat tim tersebut gagal.

Contohnya seperti Timnas Arab Saudi yang kala itu dilatih Pelatih ternama dari Benua Eropa yaitu Roberto Manchini oleh Pelatih Herve Renard. Ekspektasi pengurus Timnas Arab Saudi yang akan bisa mengembalikan performa Timnas Arab Saudi nyatanya gagal total. Permainan cantik yang diharapkan Timnas Arab Saudi malah semakin buruk.

Kemudian Prestasi pelatih Roberto Manchini dikepelatihan di Eropa kurang apa? Karir yang moncer Roberto manchini nyatanya tidak membuat Timnas Arab Saudi menjadi lebih baik.

Kemudian Pelatih ternama Pep Guardiola, nama tersebut banyak disebut public Indonesia supaya bisa membesut Timnas Indonesia. Nyatanya karir yang moncer Pep Guardiola tidak membuat Manchester City bisa berprestasi. Hasilnya pada bulan Desember 2024, mantan Pelatih Barcelona tersebut harus dipecat dari Manchester City. 

Untuk efek jangka Panjang, sampai umur berapa tahun para pemain Diaspora dari Eropa bisa bertahan di Timnas Indonesia. Mereka akan memasuki masa pensiun dan tidak lagi bermain di Timnas Indonesia. Padahal Pelatih sudah terlanjur mengambil Pelatih dari benua Eropa.

Penggantian Pelatih Timnas Indonesia di saat kompetisi yang sedang berjalan sangatlah tidak efektif serta tidak tepat. Apalagi hanya karena gagal di Piala AFF ASEAN Cup 2024 membuat pelatih Timnas Indonesia Shin Tae Yong dipecat.

Pemecatan sangat aman dilakukan apabila Timnas sudah menyelesaikan ajang Kualifikasi Piala Dunia 2026 serta gagal mencapai target lolos ke Babak 4 Kualifikasi Piala Dunia 2026. Karena disitu, Pelatih baru Timnas Indonesia selanjutnya masih ada waktu selama 2 tahun untuk mempersiapkan timnas berlaga di ajang Piala Asia 2027 yang bertempat di negara Arab Saudi. (*)

Editor : Yuan Edo Ramadhana
#roberto mancini #Asean Cup #arab saudi #Piala Asia #STY #herve renard #indonesia #aff #pep guardiola #kualifikasi piala dunia #stadion gbk #Sepak Bola #timnas #la nyalla mattaliti #Timnas Indonesia #johar arifin #erick thohir #piala dunia #diaspora #bahrain #Euphoria #shin tae yong