RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM- Program pemberdayaan perempuan kepala keluarga (Pekka) di komunitas marginal Desa Wedi, Kecamatan Kapas, semakin diperkuat melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan workshop diselenggarakan Senin, 3 November 2025. Kegiatan ini mengusung penguatan literasi Hukum Islam dan Ekonomi Syariah berbasis Asset Based Community Development (ABCD), sekaligus membangun fondasi kemandirian ekonomi bagi para perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.
Acara dihadiri 53 perempuan kepala keluarga dan menghadirkan para pakar dari berbagai lembaga, mulai dari UNUGIRI Bojonegoro, BMT Mekah, LAZISNU, Baznas Bojonegoro, hingga PW Lakspedam NU Jawa Timur.
Dalam sambutannya, Ketua Baznas Bojonegoro, Wachid Priyono, M.Pd, memaparkan program-program Baznas yang bisa diakses oleh para Pekka, baik dalam bentuk bantuan modal usaha, bantuan dana, maupun beasiswa bagi anak-anak mereka.
Sesi pertama menghadirkan Dr. Nurul Huda, M.HI, Wakil Rektor III UNUGIRI Bojonegoro, yang menekankan pentingnya pemahaman syariah sebagai dasar pengelolaan ekonomi keluarga.
“Ibu-ibu ini bukan sekadar pelaku usaha, tetapi penjaga keberkahan ekonomi keluarga. Usaha yang dijalankan dengan jujur, halal, dan bebas praktik merugikan seperti riba akan mendatangkan ketenangan hidup,” ujarnya.
Sementara pemerhati gender dari PW Lakspedam NU Jawa Timur, menegaskan bahwa perempuan kepala keluarga memiliki posisi strategis dalam pengambilan keputusan ekonomi, sehingga kesalingan peran dalam keluarga perlu menjadi prinsip dalam setiap aktivitas usaha dan pengelolaan harta keluarga.
Materi pendampingan usaha disampaikan oleh Miftahul Mufid, M.Pd.I, Direktur BMT Mekah, yang mengajak para peserta untuk memanfaatkan aset komunitas sebagai modal awal usaha.
“Jangan menunggu modal besar. Yang paling penting itu mulai. Dapur, kompor, dan keterampilan memasak yang ibu miliki sudah cukup menjadi modal pertama,” terangnya.
Ia juga memberi peringatan mengenai risiko utang konsumtif yang kerap menjerat keluarga marginal.
“Utang bukan dosa. Tapi jika digunakan untuk kebutuhan konsumtif, itu bisa jadi bencana. Mulailah usaha dari apa yang Ibu punya, bukan dari apa yang ingin dipinjam,” tambahnya.
Sesi ini memperkenalkan strategi memulai usaha rumahan, membangun keberanian berwirausaha, serta menumbuhkan mindset produktif bagi para Pekka.
Pemateri berikutnya, Arief Eko Cahyono, M.Ek, Ketua LAZISNU Bojonegoro sekaligus penyusun modul Manajemen Keuangan Usaha Mikro, menyampaikan pentingnya disiplin pencatatan keuangan.
“Jika uang usaha dan uang rumah tangga dicampur, ibu tidak pernah tahu apakah usaha itu untung atau rugi. Minimal, pisahkan dua dompet dan tetapkan gaji untuk diri sendiri,” jelasnya.
Ia memperkenalkan teknik pencatatan sederhana, mulai dari buku kas masuk, kas keluar, pengendalian arus kas, hingga analisis laba rugi agar para pelaku usaha mampu menilai perkembangan usahanya secara objektif.
Ketua Baznas Bojonegoro, Wachid Priyono, M.Pd, memaparkan beberapa program pemberdayaan yang dapat diakses para perempuan kepala keluarga, mulai dari bantuan modal syariah hingga pelatihan peningkatan kapasitas.
“Kami tidak hanya menyalurkan bantuan konsumtif. Yang kami dorong adalah kemandirian. Perempuan kepala keluarga harus memiliki ruang untuk tumbuh dan berdaya,” ungkapnya.
Program-program tersebut digagas untuk memperkuat jejaring usaha berbasis komunitas dan membuka akses permodalan produktif yang lebih inklusif.
Sebagai hasil dari rangkaian kegiatan, peserta membentuk kelompok usaha bernama “Srikandi Salak”, yang akan menjadi wadah kolaborasi dan penguatan ekonomi perempuan kepala keluarga di Desa Wedi. Kelompok ini dibentuk setelah dilakukan pemetaan potensi, masalah, dan kebutuhan riil para Pekka.
Untuk mempermudah komunikasi dan pendampingan berkelanjutan, Tim PkM dari UIN Sunan Ampel Surabaya yang diketuai oleh Dr. Hj. Imroatul Azizah, M,Ag membentuk Kelompok Dampingan “Srikandi Salak” untuk koordinasi, berbagi informasi usaha, serta memperkuat solidaritas antaranggota, dengan komunikasi melalui grup WhatsApp.
Program pemberdayaan berbasis ABCD ini diharapkan menjadi pijakan kuat bagi tumbuhnya kemandirian ekonomi perempuan kepala keluarga di Desa Wedi. Pendekatan berbasis aset komunitas, literasi syariah, serta pelatihan usaha yang terintegrasi ini menjadi bukti bahwa pemberdayaan bukan sekadar kegiatan sesaat, melainkan proses berkelanjutan untuk menghidupkan potensi dan membangun keberanian untuk bangkit bersama.
Sebelumnya diberitakan bahwa kegiatan ini adalah Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari UIN Sunan Ampel Surabaya yang bekerjasama dengan UNU Sunan Giri, Baznas, BMT Mekah, dan Laziznu Bojonegoro. Sementara masyarakat dampingannya adalah para Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) Desa Wedi Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro. (yna/msu)
Editor : Muhammad Suaeb