KEMBANGBAHU, Radar Lamongan – Beberapa motor berjejer rapi di depan SDN 1 Gintungan, Kecamatan Kembangbahu siang itu. Tak jauh dari lokasi itu, sebuah motor yang dilengkapi rombong, dikerumuni ibu – ibu dan anak – anak.
Mereka antre untuk membeli lontong kikil Suni, 64, asal Desa Gintungan, kecamatan setempat. Bagi sebagian warga di wilayah selatan Lamongan, nama Suni sudah tak asing lagi. Maklum, dia berjualan lontong kikil tidak hanya setahun dua tahun ini.
‘’Saya berjualan lontong kikil sejak bujang,’’ ceritanya sambil melayani pembelinya.
Awalnya, pada 1976 Suni berjualan lontong kikil di Surabaya. Setelah menikah, pada 1984 dia memutuskan pulang kampung dan berjualan lontong kikil di desa.
Saat itu, bahan bakar yang digunakan karbit. Harga seporsi lontong kikil Rp 300. ‘’Dulu saya makai karbit saat malam hari untuk menyalakan lampu hingga lainnya,’’ terangnya.
Setelah beberapa tahun, harga lontong kikil dinaikkan menjadi Rp 500, kemudian seribu rupiah per porsi. Sekarang, harga seporsinya Rp 5 ribu.
Sebelum memiliki pelanggan tetap, Suni harus berkeliling menggunakan sepeda onthel mulai siang hingga malam. Jika jualannya tak habis, maka dibawa balik ke rumah.
‘’Kalau sekarang, cukup berhenti di depan sini saja, tak sampai keliling,’’ tutur bapak dua anak ini.
Setiap hari, Suni rata-rata menghabiskan 15 kilogram (kg) kikil dan gajihnya. Lontongnya, 5 kg. Bahan itu bisa menjadi 150 porsi lebih. Jika jualannya habis, maka Suni membawa pulang Rp 800 ribu setiap hari biasa. Jika hari libur, maka dia berjualan lebih banyak lagi.
‘’Berjualan setiap hari pukul 13.00. Pukul 17.00 sudah habis,’’ jelasnya.
Jika hari libur, maka penjualannya lebih cepat lagi. Sebab, anak-anak sekolah yang libur berdatangan. Selain itu, banyak orang tua yang membeli untuk anaknya di rumah.
Dari berjualan lontong kikil, Suni berhasil menyekolahkan anaknya hingga menjadi anggota Polri dan perawat.