LAMONGAN, Radar Lamongan – Petani tembakau di Dusun Tlebung, Desa Mojodadi, Kecamatan Modo harus gigit jari. Tanaman tembakau yang memasuki panen terakhir, terendam akibat hujan deras yang turun beberapa hari terakhir.
Akibatnya, kualitas daun bahan rokok tersebut menurun dan harganya terjun bebas. ‘’Sudah tiga hari ini terendam,’’ tutur salah satu petani tembakau setempat, Sunardi, kepada Jawa Pos Radar Lamongan, kemarin (8/11).
Dia mengatakan, panen pertama daun paling bawah hingga tengah dilakukan awal bulan lalu. Saat itu, harganya sekitar Rp 18 ribu per kilogram (kg). ‘’Waktu panen pertama bulan lalu, harganya masih bagus dan belum terendam,’’ ujar petani 62 tahun tersebut.
Awal bulan ini, 2.900 batang tanaman tembakau miliknya terendam. Padahal, harga daun mulai tengah hingga pucuk biasanya harga lebih bagus ketimbang daun paling bawah. Karena terendam, daun tembakau tersebut hanya laku sekitar Rp 11 ribu per kg.
‘’Dua hari lagi, semuanya akan dipetik dan dijual. Pembelinya sudah ada,’’ imbuh Nardi.
Saelan, petani lainnya, menuturkan, tanaman tembakaunya di sebelah masjid dusun setempat juga ikut terendam. Namun, rendamannya tidak separah di lahan milik Nardi. ‘’Kalau tembakau milik saya sudah ada yang mau beli Rp 13 ribu per kg,’’ ujar Saelan.
Sementara itu, rajangan tembakau milik warga dengan kualitas paling rendah hanya dihargai Rp 7 ribu per kg. ‘’Untuk rajangan tembakau warnanya hitam, itu kualitasnya paling jelek. Paling cuma laku Rp 7 ribu per kg,’’ ucap petani lainnya, Jadi, sembari menunjukkan kualitas tembakaunya yang terpengaruh cuaca.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikulura, dan Perkebunan (DTPHP) Lamongan, Sukriyah, mengaku sudah mendapatkan laporan terkait lahan tembakau yang terendam di Modo.
‘’Memang curah hujannya kan tinggi. Kami pantau itu tembakau sisa panen bulan lalu,’’ ujar Sukriyah.
Dia mengatakan, harga tembakau di tingkat petani berbanding lurus dengan kualitasnya. Kondisi seperti saat ini, kualitas tembakau petani menurun akibat curah hujan yang tinggi.
‘’Waktu saya sidak bulan lalu, harganya masih bagus. Kalau sekarang memang kan, pengaruh karena kualitasnya yang menurun akibat cuaca,’’ terang Sukriyah.