Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Yuk

Imam Mukhlis, Pelukis Cepat yang Pernah dibayar 100 Ribu

Bachtiar Febrianto • Rabu, 29 September 2021 | 16:24 WIB
Imam Mukhlis, Pelukis Cepat yang Pernah dibayar 100 Ribu
Imam Mukhlis, Pelukis Cepat yang Pernah dibayar 100 Ribu

Imam Mukhlis memutuskan konsisten menggunakan media cat air dalam setiap karya lukisannya. Dia juga lebih sering melukis di ruang terbuka. 


Sejak pandemi Covid-19 merebak, Imam Mukhlis memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, di Desa Sukoanyar, Kecamatan Turi. Sebelumnya, dia menetap di Surabaya.


‘’Di Surabaya lebih aktif karena saya juga bikin komunitas gambar yang kegiatannya rutin. Jadi 2010 saya ke Surabaya setelah hampir tiga tahun di Ubud, Bali. Setelah pandemi, saya memutuskan pulang ke Lamongan,’’ ujarnya saat ditemui di studionya kemarin (28/9).


Imam sempat mengenyam pendidikan di bangku kuliah jurusan desain grafis. Namun, tidak tamat. Dia kemudian hijrah ke Ubud dan menjadi pelukis. Imam menerima pesanan lukisan dari berbagai art shop di sana. ‘’Rata-rata lukisan realisme atau repro dari katalog. Ditarget sehari selesai dengan bayaran Rp 100 ribu. Di sinilah saya dilatih menggambar dengan cepat,’’ kenangnya.


Pada 2013, Imam bergabung dengan Komunitas Lukisan Cat Air Indonesia (Kolcai). Dia memelajari teknik-teknik melukis menggunakan media cat air. Pelukis harus memerhatikan jenis kertas gambar yang digunakan sebelum memanfaatkan cat air.


‘’Ketika kertasnya lembab, efek yang ditimbulkan berbeda-beda tergantung tingkat kelembabannya. Karena cat air langsung menyebar di kertas. Hasilnya jadi lukisan impresionis dengan warna yang apik,’’ jelasnya. Tiga tahun kemudian, Imam memutuskan untuk konsisten menggunakan media cat air dalam setiap karya lukisannya.


Dia terinspirasi rekannya di komunitas yang memilih beralih menggunakan cat air karena alasan kesehatan. ‘’Teman saya ada yang lukis pakai cat air karena sakit. Soalnya ini media yang paling sehat dibanding cat minyak yang baunya menyengat. Cat akrilik bahan dasarnya resin, baunya juga menyengat. Dia bilang, kalau prinsipmu go green jangan pakai cat akrilik karena itu mengandung plastik. Selain itu, bagi saya cat air juga praktis. Dimasukkan ke kantong bisa. Materialnya kering dan harus dilarutkan pakai air,’’ jelasnya.


Tipikal kertas gambar yang digunakan tergantung masing-masing artist. ‘’Kalau melukis on the spot atau plan air istilahnya, saya lebih suka pakai kertas gambar 200 gram. Karena sedikit menyerap air. Tapi kalau lukis di studio, saya lebih suka pakai kertas gambar 300 gram,’’ imbuh Imam.


Beberapa waktu terakhir, pria 45 tahun ini lebih banyak melukis plan air di berbagai lokasi. Karya-karya lukisnya didominasi objek bangunan dan landscape. Imam merasa menemukan keasyikan tersendiri saat melukis di outdoor.


‘’Kita bisa olahraga karena harus keluar dari studio, jadi lebih menyehatkan. Secara mood, kita dituntut selesai karena langsung jadi. Biasanya dua jam selesai. Kalau cuma melukis di studio, rasanya malas dan lukisannya nggak selesai-selesai,’’ terangnya.


Imam merasa lukisan dengan media cat air banyak peminatnya. Meskipun, sebagian masyarakat tidak paham dengan keunikan karya dari cat air. Mereka menganggap tidak awet.


‘’Kolektor lukisan cat air jarang. Saat ini pun, saya mengandalkan orderan dari kenalan-kenalan. Asumsinya, lebih awet dan prestisius lukisan kanvas. Padahal jika dirunut sejarahnya, cat air adalah media awal sebelum ada cat minyak. Cat akrilik pun itu baru masif digunakan awal 2000,’’ paparnya. Dia menambahkan, kertas juga dirasa lebih awet dibanding kanvas.


‘’Buktinya naskah-naskah bersejarah masih tetap awet. Kalau kain kan mudah lapuk. Maka, cara penyimpanannya harus dipastikan kering. Saat di pigura, kertas bagian belakang tidak boleh menempel langsung dengan tripleks. Harus dilapisi dulu dengan plastik. Meskipun tripleks kering, tapi mudah berjamur dan itu bisa menular ke kertas,’’ imbuh seniman yang sering tampil di pameran nasional ini.


Imam berharap, ke depan lebih banyak melukis plan air di berbagai lokasi. Dia ingin merasakan energi dari objek-objek yang akan dilukisnya. ‘’Sekarang kalau saya amati banyak seniman yang lebih suka melukis di studio. Kemampuan melukis on the spot jadi kurang.


Padahal maestro lukis zaman dulu seperti Affandi lebih banyak melukis on the spot. Misalnya ingin menggambar pegunungan Bromo, ya dia akan menginap dua hari untuk merasakan energi objeknya. Supaya suasana Bromo terasa di dalam gambar. Sama halnya ketika saya melukis perbukitan kapur di pantura. Saya harus ngerasain panasnya secara langsung, agar feel gambarnya tersampaikan,’’ tuturnya.  

Editor : Bachtiar Febrianto
#berita lamongan #berita daerah #lamongan #info lamongan