Radar Lamongan - Dibelakang rumah Himawan, 39, terdapat tenda berbahan jaring hijau. Di tenda itu, Himawan sibuk bersih – bersih. Ribuan lalat ada di tenda tersebut. Bukan lalat seperti yang dijumpai sehari – hari di rumah. Namun, lalat bertubuh lebih panjang dan sering disebut lalat tentara.
Himawan belum terlalu lama melakukan budidaya ulat manggot. Pria asal Desa Menongo, Kecamatan Sukodadi, itu menekuni budidaya tersebut setelah dirinya berhenti bekerja akibat adanya Covid – 19 beberapa bulan lalu. Himawan sebelumnya bekerja di Jakarta. Masa pandemi membuatnya harus berhenti bekerja dan pulang Juli lalu.
Dia lalu menghubungi kakak kandungnya di Sidoarjo. Kakaknya itu lebih dulu budidaya black soldier fly (BSF) tersebut. ‘’Jadi saya sebelum budidaya, di Jakarta sering melihat videonya ternak tersebut, bagaimana caranya biar cepat panen,’’ ujar Himawan.
Sebelum pulang, kakak Himawan telah menyiapkan beberapa tempat untuk ulat itu sehari – hari. Dia juga diberi 700 gram telur BFS. Telur itu dibagi di dua tempat, masing – masing 350 gram. ‘’Jadi telur ditaruh di atas tempat saringan santan. Di bawah saringan disiapkan wadah lebih besar berisi air dan ampas tahu,’’ imbuhnya.
Ampas tahu itu ditambahi setiap tiga hingga empat hari. Setelah penetapan menghasilkan maksimal dan pertumbuhannya terlihat besar, maka ulat-ulat itu dipindah ke biopond atau kotak besar berukuran 1 meter (m) x 1,2 m. Di tempat ini, banyak nutrisi yang disiapkan. Sekitar tujuh hari, maka ulat bisa dipanen.
‘’Kalau sudah itu, barulah bisa dipanen dan dijual untuk makanan ternak apa saja,’’ jelasnya. Nutrisi yang diberikan, menurut Himawan, juga berbahan ampas tahu dan air. Namun, ditambahi rumput laut berbentuk serbuk dan sampah buah – buahan. Tujuannya, warna ulat bisa bersih.
‘’Satu kotak biopond dengan ukuran 1 x 1,2 meter dengan telur 8 gram, bisa menjadikan 20 kg ulat maggot siap panen. Kadang bisa lebih,’’ ujarnya. Kini, Himawan mempunyai 84 biopond atau kotak di rumahnya.
Satu harinya, dia bisa panen ulat maggot 1 kuintal. Satu kilogram ulat maggot dijual Rp 8 ribu. Pembelinya tidak hanya pembudidaya lele. Juga pembudidaya ikan gabus, lobster, ternak ayam, dan bebek.
Editor : Indra Gunawan