LAMONGAN, Radar Lamongan - Produksi pertanian di wilayah Desa Truni, Kecamatan Babat meningkat. Padahal, wilayah itu termasuk potensi tinggi gagal panen.
Musim ini, provitasnya tumbuh mencapai 9,4 ton dari biasanya. “Pengelolaan ini harus dipertahankan bahkan ditingkatkan karena tidak semua wilayah panen padi musim ini,” ujar Bupati Lamongan, Fadeli, usai melakukan panen raya di Truni kemarin (12/9).
Musim kemarau, jarang petani yang melakukan tanam padi. Hanya petani bantaran Sungai Bengawan Solo yang berani tanam karena memiliki cadangan air berlimpah. Sehingga bisa mengaliri lahan pertaniannya.
Keuntungan ini seharusnya bisa dipetik sepanjang musim. Karena itu, Fadeli meminta koordinasi yang baik dengan petugas pengairan setempat. Apalagi, Truni merupakan wilayah paling terdampak banjir karena luapan Sungai Bengawan Solo.
Antisipasi sementara yang bisa dilakukan, mendaftarkan asuransi pertanian. Bila ada modal yang hilang akibat gagal panen, maka bisa kembali dengan mengajukan klaim.
‘’Sosialisasi ini harus dilakukan terus supaya petani faham tujuan dari membayar premi asuransi,” ujarnya.
Sekretaris Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan, Lamongan Anton, mengatakan, peserta asuransi setiap tahun bertambah. Namun, ada yang belum daftar karena merasa belum butuh.
Sementara asuransi tidak bisa dilakukan ketika sudah terjadi masalah. “Biasanya petani daftar apabila sudah merasakan gagal. Padahal, klaim ini cair apabila mereka sudah membayar dulu,” tuturnya.
Beruntungnya, petani Desa Truni sudah terdaftar sebagai anggota asuransi. Kerugian akibat banjir bisa diantisipasi dengan premi yang dibayar. Apalagi, asuransi ini juga disubsidi pusat. Klaim asuransi yang diterima juga lebih banyak, Rp 6 juta dengan pembayaran Rp 36 ribu setiap musimnya.
Editor : M. Yusuf Purwanto