FEATURES - Makinuddin Samin, 41, bukanlah penulis baru. Sudah tiga buku dia tulis dan diterbitkan percetakan nasional. Namun, yang paling berkesan adalah ketika menulis perjalanan Ranggalawe atau Ronggolawe dalam menaklukkan pasukan Mongol ketika menyerang tanah Jawa.
Pria yang akrab disapa Makin ini paham betul sebagian besar buku sejarah cukup membosankan. Juga, kurang menarik bagi kalangan muda. Karena itu, dalam menulis buku ketiganya, bapak dua anak ini tidak sekadar menulis sejarah. Banyak cerita percintaan, pengorbanan, dan pengkhianatan yang identik dengan kehidupan remaja. Novel Ranggalawe ditulis dengan bahasa ringan dan enak dibaca oleh generasi milenial. Tentu, dengan tidak meninggalkan esensi nilai sejarahnya.
Ranggalawe sangat jarang disebut dalam sejarah kerajaan Majapahit. Jika dibanding dengan Raden Wijaya, Hayam Wuruk atau Gajah Mada, tentu sosok Ranggalawe ibarat pemeran tambahan. Karena itu, cukup sulit untuk mengetahui kehidupan pribadi Ranggalawe secara detail. Apalagi, menggali tentang kisah hidup percintaannya. Hal itu tak membuat pria lulusan S-1 Fakultas Hukum Universitas Jenderal Sudirman Purwokerto ini menyerah.
Dengan menebar bumbu cinta di dalamnya, cerita novel Makin kian hidup. Dan, tentu saja menggugah emosi pembaca. Setiap hubungan antar suami – istri, orang tua – anak, dan persahabatan digambarkan dramatis. Salah satu referensi kisah percintaan cucu Adipati Dandang Wacana ini diambil dari Kidung Ranggalawe. ‘’Dalam kidung tersebut, banyak pengorbanan, darah, dan air mata yang tumpah sebagai saksi mata berdirinya kerajaan Majapahit,’’ kata dia.
Salah satu kisah yang menarik adalah percintaan antara Ranggalawe dan istrinya. Saat anak pertamanya masih balita, Ranggalawe dipaksa berpisah. Alasannya, anak tersebut diramalkan akan menjadi penguasa Nusantara. Untuk menghindari orang yang tidak senang dengan ramalan tersebut, akhirnya istri dan bayinya harus dirawat oleh seseorang di Gunung Kendeng. ‘’Saat itu, Ranggalawe dihadapkan pada pilihan antara keluarga atau menyelamatkan tanah Jawa dari serangan musuh. Tapi, dia memilih menyelamatkan rakyatnya,’’ kata Makin.
Kisah dramatis lain adalah persahabatan antara Ranggalawe dengan Raden Wijaya yang harus berakhir dengan pengkhianatan karena kekuasaan. Kerajaan Majapahit bersikukuh hanya ada satu matahari. Pengertiannya, hanya boleh ada satu penguasa. Saat itu, nama Ranggalawe dan Raden Wijaya sama-sama bersinar bak matahari. Keduanya menjadi kandidat terkuat untuk menjadi penguasa Majapahit.
Dalam pandangannya, Makin menemukan fakta bahwa Ranggalawe merupakan sosok yang sangat populer di kalangan masyarakat dan pejabat kerajaan saat itu. Adipati kedua Tuban ini berperan penting dalam memukul mundur pasukan Mongol. Pada masanya, Dinasti Yuan merupakan adidaya dengan wilayah kekuasaan yang sangat luas. Namun, dalam pertempuran yang dipimpin Ranggalawe tersebut, Kubilai Khan, pimpinan Mongol terbunuh. Itu yang membuat mereka gagal menaklukkan tanah Jawa.
Di balik keberhasilan Ranggalawe, Wijaya diam-diam berniat menyingkirkan pesaingnya tersebut. Majapahit di bawah kepemimpinan Wijaya pun mencoba menaklukkan Tuban yang saat itu dipimpin Ranggalawe. Serangan Majapahit ke Tuban itulah yang banyak menjadi referensi buku mainstream yang mengatakan Ranggalawe sebagai sosok pemberontak kerajaan. ‘’Padahal Ranggalawe merupakan sosok pahlawan yang membela Tuban habis-habisan,’’ tegas Makin.
Ranggalawe digambarkan sebagai sosok yang sangat baik dan mudah percaya orang-orang sekitarnya. Saking percayanya Ranggalawe dengan orang- orang di sekitarnya, membuatnya tak terasa dikhianati oleh kawan-kawannya sendiri. Ranggalawe mangkat di tangan Keboanabrang, teman dekatnya di Sungai Tambakberas. Ketika menulis kematian sang pahlawan Tuban inilah, Makin sempat demam selama dua hari. ‘’Antara tidak tega menelaah kematian Ranggalawe dan terharu, saya demam dan nyaris tidak bisa menyelesaikan novel ini,’’ tutupnya.
Editor : Bachtiar Febrianto