Daerah Ekonomi Gemas Haji & Umrah Headline News Internasional Kawan Cilik Kesehatan Kuliner Lentera Islam Mbakyu Nasional Opini Otomotif Pendidikan Peristiwa Persepsi Politik & Pemerintahan Redaksi She Sportainment Tausiah Ramadan Teknologi Weekend Wisata Yuk

Dua Periode Menjabat, Ini Wawancara Radar Bojonegoro dengan Kang Yoto

Bachtiar Febrianto • Selasa, 13 Maret 2018 | 11:50 WIB
Dua Periode Menjabat, Ini Wawancara Radar Bojonegoro dengan Kang Yoto
Dua Periode Menjabat, Ini Wawancara Radar Bojonegoro dengan Kang Yoto

Masa jabatan Kang Yoto sebagai bupati berakhir hari Senin (12/1). Mulai Selasa (13/3), Bojonegoro tak lagi dipimpin Kang Yoto. Sebagai pemimpin, Kang Yoto berhasil membawa Bojonegoro dari masa ketertinggalan menuju masa terang benderang.  Berikut wawancara tim Jawa Pos Radar Bojonegoro di teras rumah dinas Kamis (8/3) malam  lalu. 


Selama dua periode ini, kira-kira apa yang kurang dan belum terealisasi?


Itu pertanyaan yang sebenarnya mudah dijawab, yang kurang banyak. Tetapi kan saya tidak boleh berpikir yang banyak itu. Karena saya berpikir apa yang paling mungkin saya kerjakan selama 10 tahun itu. Kalau saya berpikir kurang, setiap hari saya merasa kurang. 


Saya selalau ingat kata-kata dari dua orang yakni pertama dari almarhum pak Kunarto (mantan Kapolri 1990-1993). Pak Kun itu berpesan begitu dilantik, segera siapkan pidato perpisahan. Lalu yang kedua dari kata-kata mbok (ibu, Red) saya yang sampai meninggal keukeuh tidak mau menjenguk saya di rumah dinas. Namun ketika saya punya rumah kecil sewa di Malang, mbok saya mau ke Malang. Alasannya sederhana, karena itu rumah pinjaman.


Nah, kalau mbok itu mengingatkan bahwa jabatan itu pinjaman, sambil berpesan kalau kamu pinjam sesuatu, kembalikanlah lebih baik dari saat kamu pinjam. Jadi kalau dipercayai oleh rakyat dipinjami kekuasaan, maka pesona kekuasaan harus lebih baik dibanding saat saya mendapat pinjaman itu. Karena itu, pesan pak Kun jadi relevan, sejak memulai harus ingat pasti akan mengakhiri dan jangan sampai saat mengakhiri itu menyesal karena tidak melakukan yang diyakini terbaik.


Sebenarnya semua itu bisa mengandung pesan bahwa pemimpin itu tidak bisa melakukan semua hal. Pemimpin itu hanya akan mengambil prioritas yang paling diyakini dan yang paling mungkin untuk semua rakyat. Dulu saat saya menjadi anggota DPRD, saya hanya berpikir apa yang terbaik untuk faksi saya, untuk konstituen saya. Lalu ketika jadi bupati, saya harus berpikir apa yang terbaik untuk semua rakyat.


Sebagian rakyat mungkin tidak puas dengan kepemimpinan Kang Yoto selama dua periode, bagaimana menjawab orang-orang yang tidak puas itu?


Karena itu, pilihlah pemimpin yang baru agar memuaskan. Sebab itulah hakikat demokrasi dibuat. Demokrasi dibuat dari ketidakpuasan untuk mencapai kepuasan sementara, lalu tidak puas lagi. Started from the beginning to the end and the end to the beginning. Mulai dari awal menuju akhir dan kemudian malah berakhir di awal lagi, itulah demokrasi. Jadi kalau rakyat berjumlah 1,3 juta ini 100 persen puas itu malah aneh. Kenapa aneh? Karena lokasinya saja berbeda, ada yang di desa, kota, timur, barat, selatan, dan sumber daya alamnya sekaligus potensi manusia berbeda. Jadi yang betul itu harus ada yang tidak puas.


Hari ini kan masa jabatan Kang Yoto berakhir, menurut Kang Yoto kira-kira apa yang perlu diperbaiki oleh pemimpin baru?


Saya ini selalu mengatakan bahwa saya baru membangun pondasi. Maka dulu saya ini membangun berangkat dari minus ke nol, nol ke plus. Pemimpin ke depan itu adalah memantapkan pondasi sambil memulai membangun yang plus-plus-plus. Bahasa saya adalah apa yang sudah baik ini peliharalah, lalu tambahilah hal-hal yang memang akan memperkuat. 


Kalau boleh saya gambarkan begini, saya selalu punya metafor, pembangunan itu sebenarnya esensinya adalah for people (untuk manusia), bangun itu tidak untuk bangun gedung atau infrastruktur. Nah, manusia Bojonegoro ini sejarahnya kan penuh dengan kekurangan dan kemiskinan. Ibaratnya banjir itu hampir  kelelep (tenggelam), orang kelelep itu sulit diajak mikir, makanya dikasih tawaran apa saja mudah diterima. Bahkan yang tidak masuk akal pun diterima. Nah karena itu air ini saya yang menurunkan sekitar empat digit. 


Lewat apa? Pertama, mendukung program PNPM, PKH, Rastra. Yang kedua adalah intervensi di bidang kesehatan, bagaimana orang Bojonegoro itu beban biayanya diambil, terutamanya yang miskin dan yang tidak mampu. Saya tidak menyebut miskin semua, karena ada yang di atas garis kemiskinan itu sekali dia berobat dan bayar, dia jatuh. Sekadar bayar iuran BPJS belum sanggup. Yang ketiga biaya pendidikan untuk SMA yang tiga tahun terkahir kita ambil. Sebenarnya belum untuk menyelesaikan masalah, tetapi hanya untuk mengurangi. Yang keempat, orang Bojonegoro dulu takut keluar rumah kalau hujan, karena jalannya mayoritas becek, itu yang baru kita sentuh. Lalu apa? Tingkat kepercayaan pemerintah kita bangun dengan transparansi, orang mulai percaya. Anak-anak mulai berani sekolah, sekitar 98 persen berani sekolah di tingkat SMA.


Ini apa artinya? Ini baru punya ruang sedikit untuk bernafas. Apa yang harus dilakukan Bojonegoro ke depan? Industri masuk pedesaan harus didorong, industri kreatif itu harus masuk terbesar, lalu sektor jasa, wisata harus tumbuh. Dan kebijakan anggaran harus fokus lagi tetap pada people problem, apa yang jadi masalah rakyat supaya lebih sehat, cerdas, produktif, dan bahagia. Anggaran itu harus jadi sarana untuk investasi publik, itulah entrepreneur government. Di mana setiap belanja itu ke depan menmberikan dampak jangka panjang yang harus dipikirkan. Contohnya, kita investasi Rp 5 miliar untuk bangun gedung kantor imigrasi, itu sebenarnya dampaknya panjang. Membangun investasi SDM itu jangka panjang. Maka dulu saya mengatakan, infrastruktur pun dimulai yang paling signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Bukan sekadar pemerataan, tetapi mana yang paling besar dampak ekonominya. Bukan berarti bisa cor-cor semua, karena biaya kami tidak cukup. Itu menjadi tantangan besar.


Perasaannya bagaimana Kang ketika jabatan berakhir?


Saya exciting, karena saya selalu mengatakan kematian pun saya tunggu dengan exciting. Saya pun riset tentang prilaku orang lain dan diri saya bagaimana ketika orang akan mengakhiri kekuasaan. Justru saya terngiang-ngiang terus dengan ucapan mbok saya dan pak Kun. Jadi saya merasa bersyukur.


Bersyukur itu karena melepas beban atau apa Kang?


Bersyukur karena akan mengakhiri dan apapun saya bersyukur bahwa 10 tahun telah saya lalui. Dan saya merasa telah mengerjakan yang saya yakini terbaik. Saya pun merasa buka orang hebat, saya bukan superman, itu yang paling saya rasakan.


Apa yang paling berkesan ketika Kang Yoto menjabat dua periode?


Kalau saya tiap hari dan tiap momen itu penuh kesan. Wong saya dipisuhi saja berkesan. Masalah juga berkesan. Saya rasakan hampir semua berkesan.


Tapi kalau kesan terhadap orang Bojonegoro yang sekarang seperti apa?


Waduh, saya ini kalau lihat wajah orang Bojonegoro yang sekarang itu berani kritik dengan percaya diri, berani berimajinasi besar. Coba orang Bojonegoro sekarang juga sudah berani ngomong kita ini sudah dikenal internasional, sudah mengindonesia. Bukti yang paling nyata ialah waduk grobogan di Desa Bendo Kecamatan Kapas dibuat 2004, tapi baru dibuat wisata dua tahun terakhir. Ini apa artinya? Soal ketidakpercayaan diri. Saya masih ingat tiga tahun yang lalu ketika rakor pembangunan di sini, banyak yang mencibir kawannya di antara kita ini. ‘Ngono kuwi mbok dol! Ngono war mbok tawarno wisata!. Tapi lihat sekarang, kini menggeliat semua berani berjualan, kepercayaan diri luar biasa. TIdak lagi dikenal hanya tempat banjir, tempat cari pembantu. Anak-anak mudanya juga berani jualan. Ini bagi saya adalah hal luar biasa.

Editor : Bachtiar Febrianto
#advertorial