RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak orang yang terlihat baik-baik saja meski sebenarnya sedang kecewa. Mereka tetap tersenyum, tetap menjawab “gapapa”, dan memilih diam meski ekspresi wajah atau sikapnya menunjukkan hal yang berbeda. Menariknya, perilaku seperti ini cukup umum terjadi dalam hubungan sosial, pertemanan, hingga hubungan pasangan.
Psikologi menjelaskan bahwa kebiasaan menyembunyikan rasa kecewa sering berkaitan dengan pola emosi tertentu yang terbentuk dari pengalaman hidup, cara seseorang menghadapi konflik, hingga kebutuhan untuk menjaga hubungan dengan orang lain.
Baca Juga: Kebiasaan Orang yang Sering Menghapus dan Mengetik Ulang Chat Sebelum Mengirimnya Menurut Psikologi
Karena itu, orang yang sering mengatakan “gapapa” padahal jelas terluka biasanya bukan sekadar memendam perasaan. Dalam banyak kasus, mereka memiliki kecenderungan emosional tertentu yang membuatnya lebih memilih diam dibanding mengungkapkan apa yang sebenarnya dirasakan.
Berikut beberapa pola emosi yang sering dimiliki orang dengan kebiasaan seperti ini menurut psikologi.
1. Takut Dianggap Berlebihan
Sebagian orang terbiasa menahan rasa kecewa karena takut dianggap terlalu sensitif atau terlalu dramatis.
Akibatnya, mereka memilih mengatakan “gapapa” meski sebenarnya ada perasaan yang belum selesai di dalam dirinya.
Dalam psikologi sosial, kondisi ini sering muncul pada individu yang terbiasa menekan emosinya demi menjaga kenyamanan lingkungan sekitar.
2. Tidak Ingin Memicu Konflik
Orang yang sering memendam kecewa biasanya memiliki kecenderungan menghindari konflik.
Mereka merasa mengungkapkan perasaan bisa memperpanjang masalah, membuat suasana menjadi canggung, atau merusak hubungan dengan orang lain.
Karena itu, mereka lebih memilih diam meski emosinya sebenarnya belum benar-benar tenang.
3. Terbiasa Menyimpan Emosi Sendiri
Psikologi menjelaskan bahwa sebagian orang sejak lama terbiasa menghadapi masalah emosional sendirian.
Mereka tidak terbiasa mengungkapkan rasa kecewa secara terbuka karena merasa tidak nyaman menunjukkan sisi rentannya kepada orang lain.
Akibatnya, ucapan “gapapa” sering menjadi cara paling aman untuk menutupi perasaan sebenarnya.
Baca Juga: Kebiasaan Orang yang Tidak Suka Basa-Basi, Biasanya Memiliki Kepribadian Ini Menurut Psikologi
4. Terlalu Memikirkan Perasaan Orang Lain
Ada orang yang lebih fokus menjaga perasaan orang lain dibanding memperhatikan emosinya sendiri.
Mereka takut membuat lawan bicara merasa bersalah jika menunjukkan rasa kecewa secara langsung.
Karena itu, mereka memilih menahan emosi meski sebenarnya merasa sedih, kecewa, atau terluka.
Dalam psikologi, perilaku ini cukup sering ditemukan pada individu dengan tingkat empati tinggi.
5. Sulit Mengungkapkan Apa yang Dirasakan
Tidak semua orang mudah menjelaskan emosinya dengan jelas.
Sebagian individu sebenarnya tahu dirinya kecewa, tetapi bingung bagaimana cara menyampaikannya tanpa terdengar marah atau menyalahkan orang lain.
Akibatnya, mereka memilih jawaban singkat seperti “gapapa” karena terasa lebih mudah dibanding harus menjelaskan isi pikirannya.
6. Ingin Tetap Terlihat Kuat
Sebagian orang merasa menunjukkan rasa kecewa membuat dirinya terlihat lemah atau terlalu emosional.
Karena itu, mereka berusaha tetap terlihat tenang meski sebenarnya sedang terluka.
Psikologi menyebut bahwa kebiasaan menahan emosi demi mempertahankan citra diri seperti ini dapat membuat seseorang terlihat kuat di luar, tetapi lelah secara emosional di dalam.
Baca Juga: 2 Kebiasaan 'Aneh' yang Cuma Dimiliki Orang Cerdas, Menurut Riset Psikologi
7. Berharap Orang Lain Mengerti Tanpa Harus Dijelaskan
Ini salah satu pola emosi yang cukup umum.
Orang yang sering bilang “gapapa” terkadang sebenarnya berharap orang lain cukup peka untuk memahami perubahan sikap, ekspresi, atau suasana hatinya tanpa perlu dijelaskan secara langsung.
Namun ketika harapan itu tidak terpenuhi, rasa kecewa justru bisa semakin menumpuk.
Pada akhirnya, orang yang sering mengatakan “gapapa” padahal jelas kecewa bukan berarti tidak punya emosi. Dalam psikologi, perilaku tersebut sering menunjukkan adanya kecenderungan memendam perasaan, menghindari konflik, dan terlalu berusaha menjaga hubungan dengan orang lain meski harus mengorbankan emosinya sendiri. (kam/bgs)
Editor : Hakam Alghivari