RADARBOJONEGORO.JAWAPOS.COM - Bagi Anda yang terbiasa terjaga hingga larut malam, perbedaan antara si "begadang" (night owl) dan si "bangun pagi" (early bird) ternyata jauh lebih mendalam daripada sekadar perbedaan jam tidur.
Dilansir dari Psychology Today, sebuah studi adaptasi evolusi mendapati bahwa waktu tidur seseorang erat kaitannya dengan orientasi atau gaya mereka dalam menjalin hubungan asmara.
Fakta mengejutkan dari penelitian terbaru yang dipimpin oleh Dario Maestripieri dari University of Chicago membuktikan bahwa pria maupun wanita yang gemar begadang memiliki kecenderungan yang jauh lebih tinggi untuk berstatus lajang dan lebih condong memilih orientasi hubungan jangka pendek (casual hubungan atau short-term mating) dibandingkan mereka yang bangun pagi.
Perbedaan individu dalam kecenderungan bangun pagi versus bangun malam, yang secara teknis dikenal sebagai kronotipe, bersifat stabil dari waktu ke waktu dan, sampai batas tertentu, dipengaruhi oleh faktor genetik.
Namun, riset ini berhasil memetakan bahwa malam hari telah bergeser fungsi secara evolusioner menjadi waktu optimal bagi manusia untuk bersosialisasi dan mencari pasangan.
Baca Juga: Orang yang Sering Begadang Biasanya Memiliki Pola Pikir yang Berbeda Menurut Psikologi
Menariknya, kaitan antara jam biologis dan perilaku sosial ini juga didukung oleh data dari American Psychological Association (APA), yang menyatakan bahwa variasi kronotipe memengaruhi kepribadian seseorang, di mana tipe yang aktif di malam hari sering kali menunjukkan skor yang lebih tinggi pada sifat ekstroversi dan pencarian hal-hal baru (novelty-seeking).
Mengapa kebiasaan tidur ini bisa meramal gaya pacaran seseorang? Berikut adalah penjelasan ilmiah di balik fenomena biologis yang unik ini:
Akar Evolusi: Malam Hari Sebagai Arena "Berburu" Pasangan
Secara historis, manusia berevolusi dari nenek moyang primata yang aktif di siang hari (diurnal), sehingga bangun pagi merupakan kondisi dasar leluhur spesies kita. Kebiasaan begadang merupakan sifat yang relatif baru dalam garis evolusi manusia.
Seorang peneliti bernama Davide Piffer mengembangkan skenario hipotetis yang kuat. Ia mengusulkan bahwa seiring berkurangnya ancaman predator dan bahaya ekologis pada masa awal evolusi manusia, jam-jam larut malam berubah menjadi waktu yang paling optimal untuk bersosialisasi dan kawin.
Alasan utamanya sangat pragmatis: pada malam hari, orang dewasa telah terbebas dari tugas berburu, mengumpulkan makanan, serta pengasuhan anak.
Dalam lingkungan purba tersebut, individu yang aktif di malam hari, terutama mereka yang masih lajang atau cenderung tidak setia, memiliki peluang reproduksi yang jauh lebih tinggi.
Baca Juga: 5 Rahasia Menjadi Jenius Tanpa Harus Begadang: Belajar Kilat, Hasil Hebat
Karena kecenderungan genetik begadang ini meningkatkan kebugaran (fitness) biologis pria lebih besar daripada wanita, maka sifat "burung hantu" ini secara statistik menjadi jauh lebih umum ditemukan pada kaum adam.
Fakta Studi Chicago: Wanita Begadang Meniru Pola Pria
Guna menguji apakah teori hubungan jangka pendek ini juga berlaku bagi kaum wanita, Dario Maestripieri melakukan riset terhadap mahasiswa magister di Booth Business School, Universitas Chicago.
Ia mengajukan hipotesis bahwa wanita yang hobi begadang secara psikologis akan lebih mirip dengan pria begadang, dan menunjukkan penolakan yang sama terhadap komitmen jangka panjang.
Melalui kuesioner laporan diri yang mendalam terkait pola tidur, status hubungan, dan jumlah pasangan seksual, hipotesis Maestripieri tersebut berhasil mendapatkan dukungan data yang kuat:
-
Lebih Nyaman Sendiri: Baik pria maupun wanita yang terbiasa begadang terbukti secara signifikan lebih cenderung berstatus lajang alias jomblo daripada mereka yang terbiasa bangun pagi.
-
Jumlah Pasangan Seksual: Dalam sampel penelitian tersebut, pria yang gemar begadang tercatat memiliki rata-rata jumlah pasangan seksual yang jauh lebih banyak, yaitu berbanding 11,00 kuantitas pasangan melawan 6,36 kuantitas pasangan milik pria yang hobi bangun pagi.
Meskipun Maestripieri memberikan catatan bahwa perbedaan angka tersebut memerlukan ukuran sampel yang lebih luas untuk mencapai signifikansi statistik yang mutlak secara metodologis, tren ini memperjelas satu hal: ada benang merah kuat antara aktivitas malam hari dengan gaya hidup yang dinamis serta minim komitmen.
Manifestasi Fisik dan Hormonal dalam Tubuh
Perbedaan kronotipe ini bukan sekadar urusan mental, melainkan memiliki manifestasi fisiologis yang nyata pada tubuh Anda. Sebagai contoh, kadar hormon melatonin (hormon pemicu kantuk) pada wanita secara alami mencapai puncaknya lebih awal di malam hari dibandingkan pada pria.
Baca Juga: Orang yang Suka Begadang Ternyata Memiliki 4 Ciri Kepribadian Istimewa Ini Menurut Psikologi
Selain itu, konduktivitas kulit, yang menjadi indikator tingkat gairah dan fokus kognitif sistem saraf, terbukti mencapai puncaknya lebih awal di siang hari bagi orang yang bangun pagi, sedangkan bagi para pencinta malam, lonjakan energi dan ketajaman otak tersebut baru meledak saat matahari sudah terbenam.
Jadi, jika Anda atau pasangan Anda saat ini sangat sulit diajak tidur cepat dan lebih produktif atau ekspresif di malam hari, ingatkan diri Anda bahwa itu adalah panggilan kode genetik purba.
Jam biologis tersebut tidak hanya mengatur kapan Anda harus memejamkan mata, tetapi secara tidak sadar turut mengontrol bagaimana cara Anda berinteraksi dan menentukan masa depan hubungan asmara Anda. (*)